Film sci-fi berusia 100 tahun ini bukan hanya menginspirasi banyak karya klasik genre, seperti Blade Runner, tetapi juga membuat sejumlah prediksi menarik tentang dunia saat ini dengan setting cerita di tahun 2026. Jika kita menengok seratus tahun yang lalu, istilah “cyberpunk” bahkan belum menemukan identitasnya. Sebagai subgenre sci-fi, “cyberpunk” baru dikenal luas setelah buku-buku seminal seperti Neuromancer mengukuhkan inti penceritaannya.
Namun, jauh sebelum cyberpunk menjadi subgenre sci-fi yang terkenal, banyak film, acara, dan karya sastra ambisius telah membuka jalan bagi genre ini untuk menemukan identitasnya. Dengan begitu, film tahun 1927 yang dimaksud, Metropolis, tidak sepenuhnya memenuhi kriteria film cyberpunk. Bahkan istilah “cyber” dalam konteks teknologi modern saja belum ada saat itu.
Walaupun begitu, sulit untuk tidak melihat film sci-fi ikonik ini sebagai klasik “proto-cyberpunk” karena dampaknya yang besar dalam membentuk subgenre tersebut. Beberapa orang mungkin masih berdebat apakah tepat mengaitkan subgenre cyberpunk dengan Metropolis, mengingat film ini muncul hampir setengah abad sebelum istilah dan gerakan tersebut muncul. Namun, jika kita melihat lebih dekat pada tema dan visualnya, terlihat jelas bagaimana film ini membentuk sci-fi cyberpunk modern.
Metropolis 1927: Film Proto-Cyberpunk Pertama
Metropolis adalah salah satu film pertama dalam genre sci-fi yang secara eksplisit menggambarkan kontras mencolok antara “high-tech” dan “low-life” yang menjadi ciri khas cyberpunk. Film ini menunjukkan bagaimana orang kaya hidup dalam gedung pencakar langit utopis dan taman hiburan di atas dunia bawah tanah di mana masyarakat terpaksa bertahan hidup melalui kerja keras di balik mesin-mesin yang mengeluarkan asap.
Pemotretan vertikal kota pusat dalam Metropolis, di mana jalan raya bertingkat dan bangunan terhubung dengan gedung-gedung raksasa, juga menginspirasi kota-kota yang digambarkan dalam media cyberpunk populer seperti Blade Runner dan Cyberpunk 2077. Bahkan, Maschinenmensch (hibrida manusia-mesin) dalam film ini bisa dianggap sebagai nenek moyang para replicant dan cyborg AI yang mirip manusia dalam dunia sci-fi.
Seperti kebanyakan cerita cyberpunk yang menampilkan megakorporasi sebagai penguasa besar, Metropolis juga memperkenalkan Joh Fredersen, yang menjalankan kota pusat dengan cara yang sangat kejam. Yang Metropolis kurang adalah lanskap digital yang mendominasi ceritanya, yang tampaknya menjadi bagian penting dari sebagian besar cerita cyberpunk. Bisa dibilang, visualnya pun tidak sepenuhnya memenuhi kriteria “punk.”
Mereka lebih cenderung menuju Ekspresionisme Jerman, membuatnya lebih dekat dengan subgenre dieselpunk. Film sci-fi klasik ini juga berakhir dengan nada yang relatif optimis, menjadikannya jauh kurang kelam dan sinis dibandingkan kebanyakan cerita cyberpunk lainnya.
Bagi film yang tayang perdana di awal 1900-an, Metropolis masih terasa sangat maju untuk zamannya. Tanpa film ini, mungkin sci-fi cyberpunk modern tidak akan terlahir seperti sekarang.
Apa yang Ditebak Metropolis dengan Tepat Tentang Tahun 2026
Sutradara Fritz Lang dengan ambisius memproyeksikan 100 tahun ke depan dengan menetapkan cerita di tahun 2026. Walau film ini tidak sepenuhnya menangkap lanskap digital dunia sekarang dan menggambarkan semuanya berjalan murni dengan tenaga uap dan mekanik, ia berhasil meramalkan berbagai teknologi serta dilema yang dihadirkan dalam dunia yang terhubung secara hiper modern.
Film ini, misalnya, mengeksplorasi kemungkinan panggilan video di mana Joh Fredersen menggunakan layar video besar yang dipasang di dinding untuk menghubungi mandur. Sistem transportasi multi-tingkat dalam film ini, di mana jembatan pejalan kaki melintas melalui monolit bangunan raksasa dan bahkan rel kereta api melewati area pemukiman, mencerminkan arsitektur megacity seperti Tokyo dan Beijing.
Penulis skenario Thea von Harbou dan sutradara Fritz Lang juga melihat bagaimana tahun-tahun awal industrialisasi dan urbanisasi akan memaksa masyarakat untuk bekerja dalam shift yang diikat oleh jam 10 jam. Meskipun penggambaran perkembangan mereka lebih bersifat industri daripada digital, mereka dengan akurat menangkap bagaimana “mesin” yang mendominasi diharapkan tetap hidup dan aktif sepanjang waktu dengan mengorbankan kualitas hidup umat manusia.
Metropolis juga memberikan gambaran tentang ketidaknyamanan yang dirasakan banyak orang ketika melihat AI dan robot sintetis meniru kecenderungan manusia. Film ini mungkin juga yang pertama dalam sejarah sci-fi yang menunjukkan versi teknologi deep-fake dengan menggambarkan bagaimana robot diberikan penampilan yang menyerupai pemimpin buruh untuk memanipulasi kelas pekerja dan menyusup gerakan mereka dari dalam.
Meskipun Metropolis tidak sepopuler film sci-fi ikonik lainnya seperti Blade Runner setelah bertahun-tahun berlalu, film ini tampaknya telah menua dengan sangat baik. Visual dari film sci-fi ini juga masih terasa menarik saat kita ingat bahwa film ini dibuat hampir satu abad yang lalu.
Opini Kita
Kayaknya seru banget untuk melihat bagaimana pengaruh Metropolis masih terasa dalam karya-karya modern. Film ini jelas memberikan banyak pelajaran berharga tentang perbedaan sosial yang masih relevan hingga kini. Semoga aja kedepannya, teknologi dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan tanpa mengorbankan salah satu dari keduanya!





