Epic Games Store hampir berusia 10 tahun, dimulai pada tahun 2017. Meskipun sudah mengalami beberapa perkembangan seperti adanya fitur pencarian, nyatanya masih jauh dari harapan banyak orang jika dibandingkan dengan Steam, yang seharusnya jadi musuh bebuyutannya.
Sampai hari ini, toko digital Epic ini tergolong lambat dan kurang fitur yang membuat Steam berubah dari sekadar sistem DRM menyebalkan untuk Half-Life 2 menjadi toko games yang sangat fokus pada komunitas. Tak heran jika salah satu pegawai Epic pernah bilang bahwa banyak pengguna “datang untuk game gratis, kemudian pergi.” Jika Epic benar-benar ingin menggulingkan Steam, mungkin prioritas mereka perlu direvisi total.
Publisher Bukan yang Membeli Game
Saat Epic Games Store pertama kali diluncurkan, hype-nya cukup besar karena dikatakan bisa jadi pesaing nyata bagi Steam. Bahkan, beberapa kalangan bilang Epic punya peluang untuk menggeser Valve dari takhtanya. Namun, delapan tahun berlalu, kenyataannya masih jauh dari kata sukses, meskipun masih ada beberapa eksklusif yang menghiasi toko mereka.
Sebagian besar kendala ini terletak pada filosofi Epic dalam menjual game. Setiap platform, mau itu Valve, Apple, Google, atau lainnya, mengambil bagian dari pendapatan dari setiap game yang terjual di toko mereka. Pendekatan Epic adalah menawarkan bagi hasil yang lebih menguntungkan — hanya 12% — dibandingkan dengan potongan besar yang diambil banyak platform lain (Valve mengambil 24% dari setiap game yang terjual di Steam, misalnya). Namun, bagi gamer biasa yang cuma mau main, itu semua enggak terlalu berarti.
Kalau tidak, seharusnya pangsa pasar Epic bisa jauh lebih besar. Walaupun Valve terlihat “rakus”, ternyata Steam diperkirakan menghasilkan $1,6 miliar pada Desember 2025 saja, jauh lebih banyak dibandingkan $1,16 miliar yang dihasilkan Epic sepanjang 2025.
Tak ada rahasia mengapa Valve dapat menjual lebih banyak game dibandingkan Epic; mereka memiliki basis pengguna yang setia dan sudah menggunakan Steam selama bertahun-tahun. Selama beroperasi, Epic terus berusaha membangun basis pengguna yang setia, sebagian besar dengan memberikan game gratis setiap beberapa minggu. Berikan game gratis memang bisa menarik pengguna untuk unduh aplikasi sekali, tapi tidak banyak membantu untuk membuat mereka kembali, khususnya saat toko gamenya sendiri terlihat berantakan.
Perlu Mempercepat Segalanya
Dalam sebuah wawancara pada bulan Februari, IGN mewawancarai Steve Allison, VP dan GM dari Epic Games Store, di mana ia mengungkapkan bahwa Epic sedang berinvestasi untuk membuat pengalaman pengguna di Epic Games Store jauh lebih baik. Secara spesifik, mereka fokus untuk membuat launcher “terasa cepat dan responsif.” Ini adalah langkah yang baik karena mereka sadar betul apa yang bikin platform mereka terasa lambat.
Sampai sekarang, Epic Games Store masih memakan waktu lama untuk memuat, dan saat pengguna mulai menggulir daftar game, seringkali harus menunggu beberapa detik untuk batch game berikutnya muncul. Itu sudah cukup buruk bagi aplikasi baru, tapi Epic sudah ada selama hampir satu dekade. Bahkan dengan kemajuan teknologi, loading library game masih terasa lambat, bahkan saat diatur dalam tampilan list.
Epic mengklaim bahwa toko baru yang lebih efisien akan diluncurkan pada bulan Juni, dan itu akan sangat menarik jika benar, tapi toko ini tidak punya reputasi baik dalam memenuhi tenggat waktu untuk memperbarui platform. Pada tahun 2019, Epic merilis roadmap dari fitur-fitur yang akan ditambahkan, dan meskipun banyak fitur sudah diimplementasikan, beberapa seperti ulasan pengguna masih belum ada hingga kini.
Belajar dari yang Lain
Saat Epic terjebak mencoba memperbaiki toko gamenya, Valve tidak tinggal diam. Steam tetap responsif, terutama saat menggulir daftar game, dan terus menambah fitur yang benar-benar berguna. Beberapa minggu lalu saja, ditemukan file dalam versi beta Steam yang menunjukkan bahwa platform ini akan membantu pengguna mengetahui seberapa baik game akan berjalan di PC mereka.
Fokus ini untuk membuat gaming di PC lebih user-friendly membuat Steam berkembang menjadi raksasa di industri ini. Sekarang, Steam bukan hanya sekadar aplikasi untuk membeli game. Tentu saja, bisa dipakai untuk membeli game, tapi ada alasan kenapa ada tab “Community” yang mencolok di bagian atas jendela.
Steam memiliki segalanya mulai dari papan diskusi, ulasan pengguna, hingga profil yang sangat bisa disesuaikan. Bahkan, saya ingat saat Trading Cards keluar pada tahun 2013 – saya terobsesi mengumpulkannya selama enam bulan demi menaikkan Level Steam, cuma untuk menambah hal-hal unik di profil saya. Fitur-fitur seperti ini mungkin juga yang membuat logo Valve sering ditampilkan sejajar dengan simbol Playstation dan Xbox setiap kali game multiplatform rilis. Steam telah menjadi simbol gaming di PC.
Jika Epic ingin bersaing dengan itu, itu luar biasa. Sangat diharapkan Epic Games Store yang diperbarui bisa membuat orang mau menggunakan platformnya, karena dunia gaming PC jelas butuh lebih banyak kompetisi. Tapi kompetisi itu harus benar-benar bersaing. Epic bisa terus memberikan game gratis, tapi berharap gamer akan berbondong-bondong ke toko mereka meskipun memiliki UX yang lebih buruk dan minim fitur komunitas itu jelas terlalu optimis.

