One Night Only (2026) adalah film dengan premis yang unik dan bikin penasaran: Di malam yang ditentukan setiap tahun, di mana orang-orang lajang secara sah boleh berhubungan intim, seorang pria dan wanita jatuh cinta. Kebayang kan, mirip dengan Old (2021) dan “pantai yang bikin kita menua.” Kisah ini langsung menciptakan banyak pertanyaan, dan yang bikin lucu, film ini memulai dengan teks pembuka yang mengumumkan konsep mirip The Purge di atas langit New York — jelas banget film ini enggak peduli untuk memberikan jawaban. Sang sutradara, Will Gluck (Easy A, Anyone But You) lebih memilih membangun dunia film ini melalui dialog yang penuh makna dan buah pikir yang menarik.
Di dunia One Night Only, semua orang Amerika dipasang microchip pendeteksi kesenangan, New York dipenuhi grafiti seperti dalam video game yang protes terhadap hukum kesucian, dan ada hitungan mundur langsung ke 12 jam legalisasi berhubungan intim. Suasana yang gila ini membuat film ini terbukti menjadi salah satu komedi romantis paling nyentrik yang tayang di bioskop musim panas ini: sebuah rom-com yang bikin penonton terhibur, dengan latar belakang dystopia sci-fi yang tampak lembut. Meski tampaknya aneh, One Night Only sangat sadar akan absurditasnya sendiri. Plus, film ini benar-benar mengerti apa yang diinginkan penggemar rom-com, menyajikan momen manis saat dua orang yang menarik jatuh cinta.
Rom-Com yang Bikin Senang di Dystopia Sci-Fi Lembut
Di sebuah Amerika alternatif, di mana tiga tahun sebelum peristiwa One Night Only, hukum “mandat” disahkan, melarang seks sebelum menikah kecuali pada satu malam dalam setahun, tepatnya tanggal 7 Agustus. Penonton mengikuti Allie (Monica Barbaro), seorang romantis yang putus asa mencari koneksi sejati di malam penuh hasrat, dan Owen (Callum Turner), pemilik pizzeria lokal yang mencari pelarian setelah mantannya (Maya Hawke) tidur dengan pria lain. Meskipun punya tujuan yang berbeda, Allie dan Owen terjebak dalam daya tarik satu sama lain, dan malam mereka berkembang menjadi serangkaian kejadian konyol, bahkan janji untuk sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar seks.
Memasuki film dengan realitas yang sangat berbeda dan nada yang unik itu sudah sulit, apalagi ada momen dalam One Night Only di mana energinya begitu gila dan tidak nyata, sampai-sampai bikin curiga kalau ini adalah anti-komedi tersembunyi mirip Wet Hot American Summer. Beberapa momen, seperti anak kecil berbahasa kasar yang diurus Allie, kemunculan selebriti yang terus-menerus, atau latar belakang klasik yang secara sengaja dilemparkan, menghadirkan ironi yang bertabrakan dengan keseriusan yang diperlukan untuk membuat genre rom-com ini berhasil.
Awalnya susah untuk memahami tingkat kesadaran diri yang ada dalam One Night Only (fakta bahwa penulis skenario Travis Braun sebelumnya lebih banyak menggarap tayangan anak-anak hanya menambah kebingungan). Ketika kedua tokoh utama mulai saling jatuh cinta, film ini akhirnya berkomitmen menjadi rom-com yang menyenangkan. Meski gagasan tentang versi anti-komedi yang tidak terikat dari cerita ini menarik untuk diperhatikan, ada daya tarik yang tak tertandingi dari ketulusan yang ditunjukkan oleh One Night Only.
Monica Barbaro dan Callum Turner: Duo yang Segar
Untungnya, film ini punya dua pemeran utama yang benar-benar menghasilkan chemistry kuat yang membuat pergeseran dalam cerita ini berhasil. Monica Barbaro (A Complete Unknown, Top Gun: Maverick) dan Callum Turner (Eternity, Masters of the Air) serasi banget. Barbaro dengan karakter yang kikuk dan emosionalnya jelas lebih dinamis, sedangkan Turner bisa mengikuti. Karakter fiksi mereka saling menarik dengan cara yang bikin penasaran. Banyak rom-com modern, seperti usaha Gluck sebelumnya, Anyone But You, sering kali menderita karena lead actors yang tidak cocok satunya dengan yang lain, baik estetika maupun dramatis. Barbaro dan Turner bukan hanya enak dilihat, tetapi romansa mereka juga terasa natural dan meyakinkan.
Upaya dalam desain seni dan produksi jelas jadi sorotan One Night Only. Penonton akan terus mengamati latar belakang adegan sambil tertawa geli melihat tanda-tanda pemerintah anti-seks, iklan fiksi, dan rincian yang membuat bingung sekaligus menghibur. Musik yang digarap Este Haim (salah satu anggota band rock alternatif Haim) sangat ceria dan manis, pas banget dengan keju kesenangan yang tidak bisa dipungkiri. Meski sinematografinya terbilang standar dan biasa saja, ada lelucon meta tentang iklan obat yang cukup lucu dan bisa dianggap sebagai pembenaran dalam dunia film ini.
Rom-Com yang Menyegarkan di Musim Panas yang Padat
Di saat banyak rom-com modern diperkirakan hanya akan tayang di layanan streaming dan tenggelam tanpa jejak, ada sesuatu yang mengagumkan dari fakta bahwa film dengan konsep tinggi seperti One Night Only bisa diproduksi dan diputar di bioskop. Apalagi di tengah musim panas yang didominasi oleh film epik karya Christopher Nolan, The Odyssey, dan kesuksesan superhero yang langsung mengumpulkan milyaran dolar, Spider-Man: Brand New Day. Walau film ini mungkin bukan yang terbaik dari genre ini, namun ia tetap solid dan pasti mampu menarik perhatian penonton skeptis serta menambah variasi di bioskop saat ini.
One Night Only jadi rekomendasi mudah karena, entah pada frekuensi mana penonton berada, akan sulit menemukan rilis teater mainstream yang lebih gila dari ini sepanjang musim panas. Film ini dirancang untuk ditonton bersama teman-teman, diikuti dengan diskusi mendalam tentang masalah logistik, politik, dan skenario hipotetik yang muncul dari semesta “mandat” di lobi bioskop. Karya Will Gluck, One Night Only, adalah jenis film novelty yang penuh kebaikan hati, menyenangkan, dan layak dirayakan dalam rasa humor yang unik ini.
Reaksi AWverse
Kayaknya seru banget kalau film ini bisa menambahkan warna baru di bioskop yang lagi ramai superhero besar. Semoga saja studionya nggak mbalelo dalam penggarapan dan memberikan kejutan yang bikin penasaran. Kita tunggu aja pembuktiannya pas rilis nanti, ya!

