Pengalaman pertama di *Thick as Thieves* bikin nggak bisa berhenti senyum. Ini adalah game stealth dengan perspektif orang pertama yang memanfaatkan tombol yang sederhana dan peta seolah-olah digambar tangan oleh seseorang bernama “Fingers” yang menjualnya dari balik mantel. Setting-nya paduan antara teknologi dan sihir, dengan penjaga bersuara aksen Skotlandia yang kadang gumam soal lampu yang apakah listrik atau magis. Bahkan, peta basement Elway Manor ada area yang cuma dicap tanda tanya. Seru banget!
Ngacir di atap dan merangkak lewat ventilasi bikin nostalgia. Yang bikin terkesan, para penjaga bisa nyadar kalau saya matiin lilin atau biarin pintu terbuka. Dari kesan awal, game ini beneran mengingatkan pada game stealth jadul dengan beberapa inovasi baru—kayak penjaga hantu yang meluncur lewat dinding dan ke langit saat patrol, jadi kita nggak akan tahu apakah kita aman atau nggak. Untungnya, mereka masih batuk kayak penjaga hidup buat ngasi tahu ada di dekat situ.
Meski udah ada fitur teman di markas pencuri (buat memulai game co-op), *Thick as Thieves* rasanya seperti game *Thief* baru yang saya impikan. Yang bikin kaget, electrogram yang dikirim juga punya kode 0451—kode pintu masuk ke Looking Glass Studios yang jadi easter egg di hampir semua game immersive sim.
Awalnya, saya nggak keberatan kalau cuma ada dua peta yaitu kantor polisi dan Elway Manor. Kedua tempat ini adalah bangunan bertingkat dengan banyak pintu masuk. Kunjungan kedua ke sana dengan misi baru membuat saya menemukan area berbeda dan masalah yang bisa dipecahkan dari sudut pandang baru. Saya upgrade dengan mendapatkan fairy pencopet yang bisa ngambil kunci dan ngeluarin switch dari jauh, juga fairy pengganggu yang bikin penjaga terbagi perhatian. Kayak balik ke Sapienza di *Hitman*, saya menikmati rasa penguasaan yang terus bertambah terhadap ruang ini.
Tapi, di balik keseruan itu, ada waktu terbatas yang bikin rasa tegang. Biasanya, kita punya 45 menit (kadang 30) sebelum pintu sihir yang harus dicari untuk keluar muncul, dan setelah itu cuma ada delapan menit buat sampai ke tempat itu dan keluar sebelum misi gagal.
Jelas banget ada niatan. *Thick as Thieves* mau jadi game stealth yang cepat, bukan metode lambat—nggak ada penyimpanan manual di sini—dan jika waktunya tidak terbatas, saya pasti udah menyelesaikan peta ini di kunjungan pertama dan lebih bisa menikmati kampanye meski cuma berisi alasan untuk kembali ke dua bangunan yang sama. Waktu terbatas ini juga beralasan dalam mode co-op, di mana sahabat kita tentu mau tahu apakah masih ada waktu untuk satu level sebelum anak-anak tidur.
Tapi, timer delapan menit juga mulai countdown begitu kita menyelesaikan misi apapun. Misalnya, kalau misinya mencuri tiga barang tertentu di satu level, countdown akan mulai ketika kita ambil satu dari barang tersebut. Pengalaman pertama bikin saya bingung, karena saya bahkan belum tahu di mana dua barang lain yang dibutuhkan. Saat kembali, saya harus mencarinya lagi dengan perasaan kurang termotivasi untuk menemukan solusi lain—hanya untuk mendapati pintu sihir untuk melarikan diri muncul di tempat yang sulit dijangkau.
Entah ini bug atau memang ada rahasia yang belum saya temukan, tapi peta yang awalnya saya anggap bingung ini membawa saya ke area jauh di sisi luar dinding tiga lantai ke atas, yang sama sekali tidak bisa saya capai. Ketika waktu habis, bayangan untuk kembali ke Elway Manor untuk ketiga kalinya terasa sangat menguras energi.
Di fase pengembangannya, *Thick as Thieves* beralih dari game PvPvE menjadi singleplayer/co-op, dan saya hanya bisa menduga perubahan itulah yang membawa kita ke game immersive sim yang nggak ngidupin pilihan rebound key dan cuma punya dua peta. Otherside menyebutnya sebagai chapter pertama game ini, tapi saya harap mereka bilang sebagai early access, karena memang feel-nya begitu.
Dari sisi lain, harga game ini cuma $5. Jika timer mulai menghitung mundur setelah setiap tahap kontrak selesai, mungkin saya masih main. Dengan harga segitu, mungkin saya juga akan beli satu untuk teman supaya bisa ngajak mereka melalui sesi co-op, meski dalam keadaan sekarang, saya nggak yakin mereka bakal berterima kasih pada saya.





