Bayangkan kalau NPC di game, seperti Lydia dari Skyrim, bisa ngobrol panjang lebar tentang topik lain selain barang-barang yang ada di inventory. Mungkin dia bisa jadi teman diskusi yang asyik, bukan cuma teriak-teriak pada musuh. Ide ini terdengar menarik, kan? Namun, kenyataannya, solusi kecerdasan buatan untuk NPC saat ini masih belum memuaskan. AI memang bisa ngoceh tak henti-henti, tapi kadang-kadang isi obrolannya nggak ada yang layak didengarkan.
Beberapa waktu lalu, penulis mencoba berinteraksi dengan NPC yang didukung ChatGPT di Skyrim, mencari tahu apakah AI yang diklaim bisa lulus ujian masuk universitas bisa menyelesaikan teka-teki yang super mudah. Nah, hasilnya, NPC tersebut sama sekali nggak bisa! Dan interaksi itu juga tidak terasa meyakinkan dan menyenangkan.
Belakangan ini, penulis penasaran dengan Seed, sebuah MMO colony sim dari Klang Games yang akhirnya keluar dalam akses awal setelah sekitar sepuluh tahun pengembangan. Dalam Seed, kamu membuat avatar yang disebut seedling dan bisa bersosialisasi dengan seedling dari pemain lain. Menariknya, dialog di dalam game ini menggunakan AI yang cukup unik.
Pengalaman pertama interaksi dengan AI di Seed sebenarnya cukup positif. Saat membuat karakter, penulis memperhatikan seedling memiliki kaki yang panjang dan tubuh yang pendek, bikin avatar terlihat seperti pakai celana jeans super tinggi. Nah, penulis pun bertanya tentang itu. Uniknya, di game ini kamu bisa bertanya apa aja, dan ketika mengetik pertanyaan, seedling itu bahkan akan mengeluarkan ponsel dan membalas pesan.
“Hai!! Senang bisa berbicara denganmu akhirnya!” balas seedling penulis.
Ketika penulis bertanya, “Kenapa kamu pakai celana tinggi?” jawabannya bikin ketawa: “Semua orang lagi suka celana tinggi sekarang! Ini, kayak, trend banget… Apakah… nggak bagus?” Mendengarnya, penulis merasa terhibur. Di game lain, kayak Skyrim atau The Sims, siapa yang bisa tanya tentang panjang kaki karakter? Ini membuat interaksi di Seed terasa lebih seru.
Sayangnya, selanjutnya, interaksi dengan AI dan seedling lainnya mulai terasa membosankan. Setelah beberapa jam, perbincangan itu terkesan seperti keberuntungan saat mendapatkan respons yang lucu. Dialog-dialog selanjutnya justru tidak menarik dan terkesan canggung.
Sempat ada percakapan yang dihasilkan oleh AI, dengan dua seedling saling bertanya. “Jadi, seberapa umurmu?” tanya seedling penulis. “Aku delapan belas tahun!! Rasanya, itu nomor yang berat dan indah,” jawab seedling lainnya. Pertanyaan dan jawaban tersebut malah terkesan aneh dan tidak alami. Kadang-kadang, AI mengisi kalimat dengan kata-kata yang tidak perlu, menambah kesan klise yang membuat dialog terlihat kosong.
Interaksi lainnya juga tak kalah aneh. “Lihat, orang di sana kelihatan halus dan sempurna!!” ujar seedling penulis. Jawaban lainnya justru bikin bingung dan tidak relevan. “Halus? Tidak mungkin. Mereka terlihat pudar bagiku,” balas seedling lainnya. Meski interaksi ini meningkatkan hubungan di dalam game, isi obrolan jelas sangat hambar.
Di sisi lain, setidaknya seedling dalam game memiliki kepribadian yang bisa dibaca dari pilihan selama karakter kreasi. Namun, obrolan mereka cenderung tidak menarik, sehingga rasa imersif berkurang seiring berjalannya waktu. Kata-kata seperti “berat,” “indah,” dan “ikonik” terlalu sering muncul dalam percakapan mereka, terasa sekali seperti pengulangan tanpa makna.
Ada beberapa plus point dari AI di Seed. Mesin tutorial dapat menjawab pertanyaan tentang gameplay dan biasanya memberikan jawaban yang jelas. Sayangnya, terkadang respon yang diberikan bisa membingungkan. Dalam beberapa kasus, AI tersebut salah penekanan kalimat, yang langsung merusak suasana imersif saat bermain.
Meskipun belum begitu terkesan dengan aspek ini, penulis membayangkan potensi berinteraksi dengan karakter dalam game life sim atau RPG yang tidak akan kehabisan topik. Tapi untuk saat ini, penulis lebih memilih dialog yang padat dan bermakna daripada gabungan kata kosong dari AI yang terlihat tidak meyakinkan.
Reaksi AWverse
Kayaknya masih ada jalan panjang untuk membuat AI di game jadi lebih seru! Dalam konteks interaksi, walaupun menarik untuk bisa chat sepuasnya, kita butuh isi yang lebih bermakna dan alami. Semoga saja, studio-studio bisa meningkatkan kualitas AI-nya agar pengalaman bermain jadi lebih mengesankan, bukan cuma sekadar basa-basi doang!





