Film terbaru karya Ryusuke Hamaguchi yang berjudul “All of a Sudden” muncul sebagai keajaiban sinematik yang tak terduga. Selama lebih dari tiga jam, dua wanita menjalin percakapan yang mendalam, dan film ini bukan hanya mengingatkan penonton pada kekuatan sinema, tetapi juga pada makna hidup itu sendiri. Di tengah aliran percakapan yang memikat dalam skenario fantastis (ditulis oleh Hamaguchi dan Léa Le Dimna), film ini memberikan semacam keanggunan yang memikat, sebelum mengembalikan penonton ke tempat duduk mereka dalam bentuk yang sedikit berbeda, sedikit lebih utuh dari sebelumnya.
Marie-Lou, yang diperankan oleh Virginie Efira, adalah salah satu jantung film ini. Dia baru saja diangkat sebagai direktur panti jompo di Paris dan berjuang keras untuk menerapkan Humanitude, pendekatan inovatif dalam perawatan yang bertujuan mengembalikan martabat pasien lanjut usia yang sering dianggap sebagai barang mewah dalam sistem kesehatan yang terbatas. Namun, peralihan menuju metode ini tidak selalu mulus. Kepala perawat Laurence (Marie Denarnaud) dan rekrutan populer Djibril (Gabriel Dahmani) sangat mendukung, sementara perawat senior Sophie (Marie Bunel) melihatnya sebagai beban tambahan yang tidak perlu bagi staf yang sudah bekerja keras. Awalnya, tampaknya film ini akan menjelajahi politik institusi tersebut, yang diambil di fasilitas perawatan yang berfungsi, dengan garis pertarungan antara idealisme dan pragmatisme. Namun, kisah ini ternyata jauh lebih mendalam dari itu.
Saat dalam perjalanan pulang, Marie-Lou melihat seorang pemuda berlari dengan ceria di sebuah taman. Melihatnya membuatnya senang, tapi dia juga khawatir karena anak lelaki itu tampak tanpa pendamping. Dia mendekati anak itu, yang bernama Tomoki (diperankan dengan sensitif oleh Kodai Kurasaki), dan menunggu hingga pengawasnya datang. Tomoki tersesat dari kakeknya Goro (Kyozo Nagatsuka), seorang aktor teater yang sedang berjalan bersama sutradaranya, Mari (Tao Okamoto). Setelah menemukan Tomoki, Goro dan Mari merasa lega dan terima kasih pada Marie-Lou, yang ternyata bisa berbicara bahasa Jepang dengan lancar.
Marie-Lou merasa terinspirasi oleh pertunjukan eksperimental yang dia lihat. Dia tinggal untuk berbicara dengan Mari setelahnya, dan di situlah malam percakapan luar biasa mereka dimulai. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis dengan begitu lancar, melintasi tepi Seine, kembali ke ruang staf panti, dan melanjutkan hingga pagi. Sebuah arus gagasan, anekdot, dan renungan mengalir dalam percakapan ini, seolah keduanya menemukan kunci untuk membuka kotak penyimpanan pikiran mereka.
Bagi Mari, waktu itu sangat krusial; dia berada di tahap akhir kanker terminal. Alih-alih mengubah kisah mereka menjadi drama sentimental, keadaan ini justru memberikan dorongan emosional pada pengalaman mereka di saat ini, menjadikan setiap detiknya lebih penting daripada sejarah atau rencana masa depan mereka. Apalagi, Mari menjelaskan pandangannya tentang kapitalisme dan urbanisme dengan menggambar di papan tulis, menunjukkan urgensi untuk membagikan pikiran dalam waktu yang berharga ini.
Film ini sangat sulit untuk dipisahkan dari elemen-elemen lainnya, dari penampilan yang saling terhubung hingga musik yang disusun oleh Samuel Andreyev dan penyuntingan cair oleh Azusa Yamazaki. Setiap elemen dalam film ini begitu berfungsi untuk mendukung skenario yang jarang, yang mengandalkan kekuatan bahasa dan komunikasi untuk mengubah dan menghibur.
Mungkin ada beberapa penonton yang merasa frustrasi dengan kelembutan film ini, dan menganggapnya sebagai pembenaran atas sikap pasrah yang tidak cocok dengan zaman yang penuh kemarahan ini. Namun, penerimaan terhadap batasan diri bukanlah pengakuan atas kekalahan, melainkan penegasan tentang kekuatan untuk melakukan perubahan. Sayangnya, terjemahan komentar bahasanya “Je ne peux pas aller plus vite que la musique” menjadi “Ada batas seberapa cepat yang bisa saya lakukan” terasa sangat menyedihkan, padahal arti harfiahnya adalah “Saya tidak bisa lebih cepat dari musik”. Mengapa harus ingin berlari lebih cepat dari irama hidup?
Film ini berdurasi panjang, dan meski demikian, tidak terasa membosankan. Momen yang terjalin antara Mari dan Marie-Lou mungkin singkat, namun membuka pengalaman batin yang berkepanjangan. Saat sebuah pertemuan—baik dengan kekasih, teman, atau bahkan film baru dari Ryusuke Hamaguchi—mampu membawa penonton ke tataran yang mengubah, memperluas, dan menyembuhkan, waktu tak pernah terasa terlalu lama. Kenangan yang tersisa adalah keinginan untuk lebih banyak waktu bersama.
Kedermawanan dalam bercerita milik Hamaguchi sangat terasa. Terinspirasi dari dua tokoh wanita ini dan sebelumnya sebuah buku surat antara filsuf Makiko Miyano dan antropolog medis Maho Isono, kisah ini bisa dinikmati siapa saja. Saat Mai dan Marie-Lou duduk di bukit Kyoto sambil menyantap ramen instan, ketika mereka sepakat menyukai mie “al dente”, kita mungkin akan menahan diri untuk tidak menggumam, “Saya juga menyukai itu”—seolah kita turut duduk bersama mereka, merasakan udara pagi dan pemandangan pegunungan sambil menikmati keindahan yang sederhana ini.
Akhirnya, apa yang mereka pelajari satu sama lain, dapat kita ambil sebagai pelajaran berharga: jangan biarkan kesempurnaan menjadi musuh yang menghalangi kebaikan. Izinkan rasa marah terhadap kehilangan teman yang terlalu cepat terbayar oleh rasa syukur karena sempat mengenalnya. Jangan biarkan ketidakadilan dari apa yang tidak kita miliki membuat kita buta terhadap keindahan yang ada di depan kita. Jika tidak bisa hidup di dunia yang kita cintai, cintai dunia yang kita tempati saat ini.





