Ada satu jenis horor yang nggak mengandalkan jump scare atau darah berceceran, tapi justru menyelinap ke dalam diri hingga sulit diusir. Leviticus (2026) adalah film horor model begini — sebuah mimpi buruk yang lambat dan menyiksa, terbangun dari rasa malu, penekanan, dan ketakutan untuk terlihat sebagai diri sendiri. Film debut penulis dan sutradara Adrian Chiarella ini datang sebagai karya horor sosial queer yang sangat sensitif namun kejam, memahami bagaimana keinginan dapat dipersenjatai melalui kekejaman fanatisme religius dan penindasan.
Terletak di sebuah kota terpencil di Australia yang dipenuhi kerusakan industri — asap, karat, dan kebobrokan spiritual — Leviticus memperkenalkan kita pada Naim (Joe Bird) dan Ryan (Stacy Clausen), dua remaja yang terikat erat satu sama lain di tempat yang nggak memberi ruang untuk cinta mereka. Koneksi di antara mereka lembut, ragu-ragu, dan sangat nyata, diperankan dengan ketulusan luar biasa oleh Bird (Talk to Me) dan Clausen (Crazy Fun Park). Sejak mereka berbagi layar, terasa sekali tarikan antara kerinduan dan ketakutan, keintiman dan bahaya, maskulinitas dan kelembutan. Leviticus paham bahwa bagi kaum muda queer di lingkungan yang bermusuhan, cinta bukan sekadar cinta. Itu adalah risiko.
An Extremely Cruel Supernatural Curse
Risiko tersebut menjadi sangat nyata dalam inti film Leviticus: satu entitas kekerasan yang tak kenal lelah, mengambil bentuk orang yang paling kau inginkan. Ini adalah kutukan bergaya It Follows yang dipadukan dengan bahasa terapi konversi dan hukuman religius, lewat ibu Naim yang religius dan homofobik, Arlene (Mia Wasikowska, yang juga berperan sebagai produser). Jadi, ketertarikan berubah menjadi sesuatu yang mematikan. Mencintai sama dengan mengundang kehancuran. Dicintai sama dengan menjadi target. Konsep ini teramat kejam sehingga hampir tidak butuh embel-embel, dan Chiarella dengan bijak membiarkannya berbicara sendiri untuk sebagian besar film.
Secara visual dan tematik, Leviticus terobsesi dengan penjara. Kandang terlihat dimana-mana, seperti pagar berantai, larangan kawat, dan penutup baik secara harfiah maupun emosional. Adegan paling mencolok menempatkan Naim dan Ryan di sisi berlawanan dari pintu layar yang ringkih, cukup dekat untuk saling sentuh namun selamanya terpisah oleh kekuatan di luar kendali mereka. Ini adalah gambaran yang berbicara banyak tentang kekerasan jarak yang dipaksakan, tentang bagaimana institusi meyakinkan orang-orang queer bahwa bahkan kedekatan pun itu berbahaya.
The Fear of Touch
Horor Australia sering beroperasi pada gelombang yang berbeda: pikirkan The Babadook (2014) karya Jennifer Kent, Talk to Me (2022) karya Phillipou, atau Bring Her Back (2025), dan Relic (2020) karya Natalie Erika James. Leviticus dengan bangga melanjutkan tradisi itu. Ada kekasaran dalam pembuatannya; keinginan untuk bersikap nyaman di ketidaknyamanan, membiarkan beberapa momen membentang hingga terasa hampir tak tertahankan. Chiarella, sinematografer Tyson Perkins, dan desainer produksi Bethany Ryan menekankan atmosfer, menciptakan dunia yang terasa hampir klaustrofobik meskipun dengan ruang yang tampaknya terbuka.
Mesin listrik berdengung konstan di latar belakang, dibayangi oleh awan asap, semakin memperkuat bahwa bahkan momen tenang terasa tercemar. Desain suara yang dibuat oleh Emma Bortignon memainkan peran penting dalam menjaga ketidaknyamanan itu. Ketika kekerasan meletus — secara tiba-tiba dan brutal — setiap pukulan, tabrakan, dan perjuangan terasa sakit. Kekasaran bukanlah hal yang percuma; itu adalah pengalaman. Penonton bisa merasakan dampak itu dalam tubuh, terhuyung bersama para karakter pada setiap pukulan.
When Desire Becomes the Monster
Yang membuat Leviticus benar-benar menakutkan bukan hanya monster itu sendiri, tetapi juga apa yang dilambangkannya. Kemampuan entitas untuk muncul sebagai objek keinginan terdalam mengubah keintiman menjadi perangkap. Ada sesuatu yang sangat kejam mengenai ide dibunuh saat menyayangi seseorang, ketika kita percaya (meskipun sebentar) bahwa kita aman dan, yang lebih penting, diinginkan. Ini adalah metafora visceral tentang cara agama secara historis mengajari orang-orang queer untuk saling takut, mengaitkan kedekatan dengan hukuman, dan hidup dalam keadaan pengawasan diri yang konstan.
Kekuatan terbesar film ini adalah bagaimana ia menangkap kegelisahan psikologis dengan sangat autentik. Hubungan Naim dan Ryan didefinisikan oleh ketidakpastian sebanyak semangat, setiap momen keintiman dikelilingi oleh pengetahuan bahwa itu bisa berakibat fatal. Kimia mereka terasa elektrik, meskipun tidak pernah dijadikan romansa yang palsu atau terlalu menenangkan. Sebaliknya, Leviticus membiarkan cinta mereka ada sebagai sesuatu yang rapuh dan berbahaya, namun tetap sepenuhnya layak diperjuangkan.
Sekuel kelanjutan yang kuat dalam setengah pertama film ini rasanya benar-benar mematikan dalam ketakutannya, Leviticus mulai kehilangan momentum saat berlanjut. Beberapa ritme terulang, dan narasinya mulai terasa sedikit lebih panjang dari durasi aslinya yang hanya 88 menit. Ide dasarnya tetap kuat; namun, film ini terkadang kesulitan menemukan cara baru untuk meningkatkan horornya tanpa menjelajahi wilayah yang sudah biasa.
A Queer Horror Film that Refuses to Let Go
Meskipun ada sedikit masalah dalam tempo, dampak emosionalnya tak pernah sepenuhnya pudar. Leviticus terus terasa secara psikologis dan emosional, didorong oleh pertunjukan yang tak pernah goyah dan inti tema yang memotong perasaan. Ini adalah film tentang bertahan hidup di dunia yang dirancang untuk menghancurkanmu, tentang mencintai siapa yang kau cintai meskipun ada bahaya dari dalam maupun luar. Ini sensual, menakutkan, dan penuh duka. Sebuah film malam yang memahami horor bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai pengalaman nyata.
Leviticus bukan hanya menakutimu; film ini tinggal bersamamu. Ia membekas dalam pikiran dan tubuh. Setelah kredit bergulir, penonton masih memikirkan tentang penjara, tentang rasa malu yang tidak berdasar, tentang biaya tak tertahankan dari diberitahu bahwa cinta adalah dosa. Ini adalah debut yang luar biasa mengumumkan Adrian Chiarella sebagai sutradara yang patut diperhatikan, dan sebuah entri yang menyentuh dalam kanon horor queer yang berani menghadapi sistem yang menciptakan monster di tempat pertama. Ini adalah jenis film horor yang sulit dilupakan, bahkan ketika kita sangat ingin menghentikannya.
Wajib Dinanti Nggak Nih?
Kayaknya bakal seru banget kalau Leviticus bisa benar-benar mendobrak batasan genre horor. Dari premis yang ada, banyak yang berharap film ini nggak hanya sekadar menakut-nakuti, tapi juga menyentuh tema yang pembawa pesan. Kita tunggu aja pembuktiannya pas rilis nanti!
‘Leviticus’ Hits Theaters on June 19!
Release Date: June 19, 2026.
Directed by Adrian Chiarella.
Written by Adrian Chiarella.
Produced by Samantha Jennings, Kristina Ceyton, & Hannah Ngo.
Executive Producers: Mia Wasikowska, Dale Roberts, Liz Kearney, Daniel Negret, Sam Frohman, Simmons Frazier, Robert Connolly, & Salman Al-Rashid.
Main Cast: Joe Bird, Stacy Clausen, Mia Wasikowska, Jeremy Blewitt, Ewen Leslie, Davida McKenzie, Nicholas Hope, & Zamira Newman.
Cinematography: Tyson Perkins.
Composer: Jed Kurzel.
Editor: Nick Fenton.
Production Company: Causeway Films.
Distributor: Neon (Worldwide) & Maslow Entertainment (Australia/New Zealand).
Runtime: 88 minutes.
Rated R.





