Di tengah kesibukan dunia film yang sering memperlihatkan kisah penyandang disabilitas dengan sentuhan berlebihan, “Stand Up” datang dengan nafas baru. Film ini disutradarai oleh Mari Sanders dan membawa kita mengenal sosok Vera, seorang wanita 23 tahun yang diperankan oleh Lucia Zemene. Setelah mengalami kecelakaan tragis yang menghilangkan satu kakinya, Vera harus menghadapi dunia dengan cara yang baru. Dan yang menarik, Lucia Zemene bukan sekadar aktris; dia adalah seorang amputee di kehidupan nyata yang mengalami pengalaman serupa dengan karakter yang dia mainkan.
Film ini berhasil menyuguhkan pandangan yang segar tanpa mengusung nada sentimental yang sering kita jumpai. Lalu ada momen di awal film ketika salah satu teman Vera menyarankan agar mungkin kejadian ini terjadi untuk suatu alasan. Namun, ketika dia bertanya pada seorang teman pengguna kursi roda lainnya, sipemuda itu menjawab, “Alasannya, ya karena truk menabrak kamu.” Jawaban langsung ini benar-benar menggambarkan nada tanpa basa-basi yang ingin disampaikan oleh film ini.
“Stand Up” langsung memikat penonton dengan memperlihatkan Vera yang ceria dan bertato, serta petualangannya malam dengan teman-temannya, Inaya dan Roos, di Rotterdam. Tapi semua itu berubah ketika, di tengah perjalanan pulang, dia ditabrak truk. Ketika terbangun di rumah sakit, Vera mengetahui bahwa kakinya harus diamputasi. Dari sini, film ini membawa kita masuk ke dalam tantangan nyata yang harus dihadapi Vera saat beradaptasi dengan disabilitas secara mendadak. Salah satu momen yang sangat menyentuh adalah ketika dia berjuang untuk melakukan hal-hal sehari-hari seperti pergi ke toilet, sementara orang tuanya berusaha merawatnya dengan penuh kasih sayang yang justru membuatnya merasa terjebak.
Beruntung, Vera memiliki Jonathan, terapis fisik yang diperankan oleh Kendrick Etmon. Pendekatan tough love yang diberikan Jonathan membuat interaksi mereka terasa natural dan relatable. Lalu ada juga Xander, seorang pengguna kursi roda yang bercita-cita jadi komedian, diperankan dengan tajam oleh Daan Buringa. Xander membawa angin segar bagi Vera, karena dia mewakili suara keberanian yang menolak pandangan masyarakat yang pasif terhadap penyandang disabilitas. Xander mengingatkan Vera bahwa dia tidak perlu menempatkan diri sebagai orang yang harus mengalah. Dia menantang norma saat bersikap santai dan penuh tawa, terutama dalam sebuah adegan lucu di bioskop, di mana sekelompok penyandang disabilitas berupaya melawan kebijakan yang mengekang mereka.
Kehidupan Vera bukanlah perjalanan yang linear; dia harus menghadapi banyak rintangan. Meskipun editor Yorgos Mavropsaridis memangkas film ini dengan cekatan, ada rasa waktu yang fleksibel di dalamnya—perubahan hidup bisa terjadi dalam sekejap, tetapi satu langkah juga kadang terasa lambat. Vera harus belajar bahwa untuk bisa berjalan dengan protesis, jalan yang harus dilalui sebenarnya lebih panjang dari yang diperkirakan, dan “Stand Up” dengan bijak tidak menghabiskan waktu untuk mengejar setiap langkah tersebut. Sebaliknya, film ini menekankan berbagai kemenangan kecil yang layak dirayakan.
Dari setiap performa yang ditampilkan, Zemene memberikan nuansa mendalam dengan konsisten, mampu menunjukkan semua emosi yang kompleks—dari rasa sakit hingga kegembiraan, tanpa terjebak dalam narasi korban. Melalui skenario yang jujur dan penggambaran kehidupan sehari-hari yang dinamis, “Stand Up” menawarkan pandangan yang kuat tentang kehidupan seorang penyandang disabilitas tanpa berusaha berbicara mewakili semua orang.
Reaksi Kita
Kayaknya bakal seru banget kalau film ini mendapat perhatian lebih di festival film. Dengan pendekatan yang jujur dan karakter yang relatable, “Stand Up” berpotensi jadi film yang bikin penonton merenung sekaligus tertawa. Semoga saja pesan-pesannya bisa menggugah lebih banyak orang untuk melihat disabilitas dengan cara yang baru dan lebih positif!




