Home Movie Kembalinya The Last Stand: Film Ini Resmi Menemukan Jalan untuk Bangkit!
Movie

Kembalinya The Last Stand: Film Ini Resmi Menemukan Jalan untuk Bangkit!

Share
Kembalinya The Last Stand: Film Ini Resmi Menemukan Jalan untuk Bangkit!
Share

Setelah 20 tahun berlalu, X-Men: The Last Stand akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bangkit kembali. Film ketiga dalam franchise X-Men ini awalnya ditayangkan pada 26 Mei 2006 dan sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemar. Disanjung sebagai penutup epik dari trilogi asli X-Men, film ini juga menghadirkan salah satu cerita paling populer dari komik, yaitu Dark Phoenix Saga, ke layar lebar.

Tapi kenyataannya, The Last Stand mendapat ulasan yang biasa-biasa saja dari kritikus ketika dirilis dan mendapat kritik pedas dari penonton. Mengingat hype yang begitu besar, penggemar merasa film ini tidak memenuhi janji sebagai grand finale yang dijanjikan. Ditambah lagi, durasi film yang hanya 1 jam 44 menit membuat banyak orang menganggapnya tidak maksimal dalam menyajikan cerita epik.

Sejak saat itu, X-Men: The Last Stand sering dianggap sebagai salah satu film terburuk dalam franchise. Ada memang film-fim yang juga kurang mendapatkan respons positif, namun banyak penonton merasakan bahwa kesimpulan dari trilogi asli terasa terlalu mengecewakan.

Inline – AWV Youtube

Sekarang, film ketiga X-Men merayakan anniversary ke-20. Dengan total 11 film dalam saga X-Men, termasuk trilogi Deadpool, film ini telah diberi waktu yang cukup untuk dinilai lebih adil. Meskipun masih dianggap sebagai salah satu film yang lebih lemah dalam franchise, The Last Stand kini mendapat sedikit ruang untuk ditebus. Kini, film ini sudah tidak sejelek dahulu menurut banyak penggemar.

X-Men: The Last Stand Dikecewakan Saat Dirilis

Sebelum membahas mengapa The Last Stand disebut-sebut sudah tertebus, penting untuk memahami alasan mengapa film ini dibenci sejak awal. Dari sudut pandang penceritaan, film ketiga dalam trilogi superhero ini mencoba untuk memasukkan terlalu banyak cerita sekaligus. Alhasil, film ini memutuskan untuk menggabungkan dua alur cerita besar X-Men dalam satu film pendek, alih-alih mendinginkan salah satunya.

Baca juga  Film Sci-Fi Western Lupakan Denzel Washington Kini Menguasai Dunia Streaming!

PLOT ‘The Cure’ yang bisa dibilang jadi daya tarik utama The Last Stand mendominasi drama dalam film ini. Ide moral tentang apakah menjadi mutant itu perlu ‘disembuhkan’ adalah pokok bahasan yang menarik. Inilah yang biasanya dikuasai oleh franchise X-Men, dan sebenarnya ini adalah titik fokus yang bagus untuk film ini.

Inline – HLD One Day Trip

Akan tetapi, film ini gagal dalam mengeksekusi plot tersebut. The Last Stand juga berusaha untuk menonjolkan plot Dark Phoenix, yang adalah salah satu cerita paling populer dari komik. Plot ini sudah di-setting dalam film sebelumnya, X2: X-Men United, sehingga banyak penggemar yang menantikan adaptasi yang mendalam. Namun, kedua plot ini saling berebut waktu tayang, sehingga keduanya terasa kurang berkembang.

The Last Stand Memiliki Salah Satu Pertarungan Terbaik dalam Sejarah Film X-Men

Meski skenarionya berantakan, The Last Stand tetap menyajikan beberapa momen terbaik yang bikin menontonnya terasa menyenangkan. Aksi yang menjadikan dua film sebelumnya menarik tetap hadir dan memberikan keseruan yang memuaskan bagi penggemar lama.

Ketika pertarungan terakhir dimulai di Alcatraz, film ini langsung naik level dengan baku hantam yang mengagumkan. Magneto yang memindahkan Jembatan Golden Gate ke pulau itu jadi pembuka sempurna untuk babak akhir, dan efek khususnya masih terlihat oke hingga sekarang. Pertarungan yang terjadi setelah itu menjadi salah satu momen paling berkesan.

Inline – HLD Private Trip

Banyak mutant yang menyerbu penjara untuk memburu orang yang bertanggung jawab atas ‘The Cure’ membuat suasana semakin tegang. Ketika X-Men tiba, serangan balasan mereka lebih mengesankan saat bisa mengimbangi kekuatan Magneto. Apalagi puncaknya sangat mendebarkan saat Jean Grey mulai menghancurkan baik manusia maupun mutant ketika dia meluncurkan kekuatannya sebagai Phoenix.

Baca juga  Perdana Menteri Korsel Rayakan Crimson Desert: 'K-game Bisa Bersinar Sebagai Pilar Konten K!'

Tentunya, ada juga momen-momen kurang enak dalam pertarungan ini, seperti adegan terkenal dari Juggernaut yang meneriakkan, “I’m the Juggernaut, b***h” kepada Kitty Pryde. Namun, tetap saja, pertarungan terakhir ini membuat film ini mencapai klimaks yang menghibur.

Meskipun Memiliki Kekurangan, The Last Stand Bukanlah Film X-Men Terburuk

Nilai hiburan total dari The Last Stand adalah yang membuatnya masih bisa diingat sebagai salah satu film paling menyenangkan di saga X-Men. Setelah semua, ini adalah film superhero, jadi faktor hiburannya sama pentingnya dengan ceritanya.

Sejak film ini dirilis, sudah ada satu film yang menonjol sebagai yang terburuk di franchise, yaitu Dark Phoenix yang dirilis pada 2019. Upaya baru untuk membawa cerita Dark Phoenix ke layar lebar ini, sayangnya, sama seperti The Last Stand, hanya menyisakan kekecewaan bagi banyak penonton.

Yang membuat The Last Stand lebih unggul dibandingkan Dark Phoenix adalah nilai hiburannya. Yang terakhir malah membosankan, dengan nuansa kelam dan pacing lambat yang memengaruhi penceritaannya. Adegan aksi yang seharusnya menjadi penyelamat film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru bagi penggemar dan terasa kurang megah dibandingkan usaha-usaha sebelumnya dari X-Men.

Meski The Last Stand mungkin masih menjadi entry yang lebih lemah dalam franchise, faktor hiburannya membuatnya berkilau di atas film X-Men lainnya. Ceritanya mungkin berantakan, tapi tidak semenyengankan Dark Phoenix. Setelah 20 tahun, X-Men: The Last Stand adalah film yang tetap bermasalah, tetapi telah menemukan jalannya menuju penebusan.

Inline – AWS Open Trip
Share