Minggu lalu, Communications Workers of America dan serikat pekerja Bethesda Game Studios OneBGS mengadakan aksi “Save Our Devs” di seluruh Amerika Serikat dan Kanada (serta di Twitch). Mereka ini bersuara menentang pemecatan dan keserakahan korporat dalam industri game, serta menuntut kontrak yang adil untuk semua studio game di bawah Microsoft.
Dalam wawancara dengan Kotaku, salah satu artis Bethesda, Alex Nguyen, mengungkapkan perubahan yang dialami tim mereka sejak Bethesda diakuisisi oleh raksasa teknologi itu. Ia menyatakan, “Sejak kita berada di bawah Microsoft, rasanya semuanya berubah. Dulu tidak ada pemecatan, sekarang tiba-tiba kita mengalami pemecatan setiap tahun.” Menurutnya, tim merasa dampak dari pemotongan yang mengikis pengetahuan kolektif yang sudah terbangun. “Kalau hanya lima orang yang tahu tentang bagaimana cara kerja suatu proyek dan semua orang itu dipecat, itu bikin moral tim jatuh. Kita sudah pernah mempelajari ini, dan sekarang harus belajar lagi.”
Nguyen juga menyoroti bagaimana game-game yang perlu pembenahan, seperti Fallout 76 dan Elder Scrolls Online, tidak bisa berkembang menjadi favorit penggemar tanpa kerja keras dan waktu yang cukup. Dia menyebutkan bahwa sebelumnya ada rasa komitmen jangka panjang di antara staf di Zenimax dan Bethesda, komitmen yang kini tergerus oleh taktik korporat Microsoft saat ini.
“Itu sebabnya banyak orang yang lama bertahan di sini,” tutur Nguyen. “Mereka berpikir, ‘ya, ini adalah tempat di mana saya akan pensiun’ atau ‘saya cinta bekerja di sini karena saya ingin bertahan dalam industri ini untuk waktu yang lama.’ Itu salah satu keuntungan berada di Bethesda atau studio Zenimax secara umum.”
Tahun lalu, mantan kepala Xbox Phil Spencer pernah mengatakan bahwa “memelihara dan melindungi tim kreatif yang berani mengambil risiko” adalah hal yang sangat penting, terjadi tidak sampai dua tahun setelah akuisisi Xbox terhadap Blizzard yang berujung pada pemecatan 1.900 karyawan. Kepala Xbox saat ini, Asha Sharma, juga menyuarakan hal serupa, mengisyaratkan bahwa Xbox harus bisa menghibur lebih dari satu miliar orang setiap harinya sambil mengumumkan “reset” yang mengharuskan pemotongan 3.200 pekerjaan dalam blog yang sama. Jelas, banyak pekerja yang merasa keberatan dengan kondisi semacam ini saat tuntutan kian meningkat, sementara semakin banyak pengembang kehilangan pekerjaan mereka.
Wajib Dinanti Nggak Nih?
Situasi ini tentunya membuat kita bertanya-tanya, apakah Microsoft mampu beradaptasi dan memberikan ruang yang cukup bagi tim kreatif untuk berkembang? Semoga saja studio-studio ini dapat belajar dari pengalaman sebelumnya dan tidak mengulangi kesalahan. Ketidakharmonisan ini bisa jadi tanda bahaya bagi industri, tapi kita juga berharap para pengusaha mengambil langkah bijak demi masa depan pengembang dan industri game itu sendiri.

