Franchise Avatar memang dikenal sebagai penguasanya elemen, tapi dalam dunia media, flagship ini belum sepenuhnya berhasil. Adaptasi live-action dan video game nyatanya jadi dua kelemahan utama, yang seringkali gagal mengalihkan pesona dan kepiawaian Avatar ke layar. Setelah banyak ekspektasi, Avatar Legends: The Fighting Game hadir sebagai harapan baru. Dengan latar belakang developer yang mumpuni, harapan akan kualitas tinggi tentu melambung tinggi. Namun, semua itu belum cukup menutupi buruknya game Legend of Korra keluaran PlatinumGames di 2014 yang sering terlupakan. Sekarang, Legends menawarkan pengharapan yang lebih nyata, meski sedang berjuang dengan pendekatan presentasi yang masih minim dan sejumlah fitur yang hilang.
Sepertinya semua dana produksi Legends langsung disalurkan ke mekanika pertarungan. Meskipun hanya ada 12 karakter — dua di antaranya merupakan variasi dari Avatar terkenal, Aang dan Korra — Legends tetap menawarkan keberagaman dan kompleksitas yang menarik. Toph, si pengendali tanah yang galak, dirancang untuk memanfaatkan pertahanan dan memanipulasi arena. Ketidakstabilan Azula yang penuh api mewujud menjadi karakter agresif dengan potensi serangan yang sangat besar. Aang, si Avatar, menggunakan glider dan kemampuan memanipulasi udara untuk berkelana di lapangan, menjadikannya tantangan berat bagi lawan yang kurang sigap.
Rating: 3/5
| Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|
| Mekanika yang cepat dan bertingkat memberi banyak kedalaman dan tingkat keterampilan yang tinggi | Mode cerita terasa datar dan tidak perlu |
| Visual dan animasi yang sangat mirip dengan gaya seri animasi | Banyak fitur online standar yang tidak ada |
| Tutorial sering kali kurang tepat, tidak terpolish, atau belum selesai |
Avatar Legends: The Fighting Game Memiliki Roster Kecil tapi Dalam
Kebanyakan game fighting biasanya menawarkan variasi yang cukup, tapi Legends menawarkan lebih dalam. Setiap karakter memiliki akses ke sistem Flow yang tergantung pada meter, membuat gerakan di arena dan menghindari serangan jadi lebih dinamis. Dari menyontek gerakan parry yang lebih gesit, Flow Stance memberikan tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena mencoba menguji pengetahuan dan memperkenalkan permainan pikiran yang cerdas. Flow Gauge juga bisa digunakan untuk berbagai gerakan akrobatik yang berbeda untuk setiap karakter. Misalnya, Zaheer bisa terbang bebas, sementara Sokka berlari ke depan dengan berbagai serangan lanjut. Proses belajar Flow tergolong menantang, karena perannya bisa sangat berbeda antara karakter. Meskipun sulit, sistem ini membuat pertahanan lebih menarik dan bervariasi.
Lebih dalam lagi, Legends memperkenalkan berbagai sifat dan variasi karakter yang khusus. Sifat tersebut cukup sederhana namun memberikan buff atau nuansa bagi pemain yang ingin memahami karakter favoritnya dengan lebih jauh. Ini biasanya memberikan meter tambahan ketika mencapai kondisi tertentu, yang memberi penghargaan bagi yang memperhatikan setiap gerakan karakter. Variasi juga berdampak besar; sama seperti Mortal Kombat X, setiap karakter memiliki tiga versi yang khusus untuk gaya bermain tertentu. Bereksperimen dengan rute kombo baru tanpa perlu mempelajari karakter yang benar-benar berbeda bisa jadi cara hemat untuk memperluas roster.
Semua kemungkinan cara bermain dan mekanika ini membuat Legends jadi salah satu game fighting paling padat yang hadir dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kerumitan ini meningkatkan kemungkinan pengalaman yang menyebalkan saat menghadapi pemain Zuko yang siap Evo atau Aang yang terlalu bersemangat di dalam permainan. Ini adalah salah satu game fighting di mana bisa saja berhadapan dengan lawan tetapi tidak benar-benar bermain dalam pertarungan itu. Meski begitu, kedalaman yang ada membuat setiap permainan menawarkan pengalaman baru — combo untuk dikuasai, variasi untuk dieksplorasi, dan gaya gerakan untuk dipelajari. Proses belajar yang terus menerus ini seringkali jadi perjalanan yang memuaskan dan menjadi daya tarik utama dalam genre ini.

Sayangnya, Legends nggak terlalu memudahkan proses pembelajaran ini. Meski ada tutorial, ruang latihan, dan panduan spesifik karakter, semuanya masih mengalami beberapa masalah. Tutorial dasar tidak dilabeli dengan baik dan bahkan tidak menjelaskan apa yang terjadi. Beberapa mekanika bahkan tidak memiliki komponen interaktif, hanya catatan teks yang membosankan. Ruang latihan meski cukup layak, tetap tidak memiliki fitur standar genre seperti pengulangan atau dummy untuk latihan pertarungan. Daftar perintah untuk beberapa karakter juga tidak selesai, hanya menampilkan gambar sementara atau deskripsi yang salah.
Panduan karakter kadang menjelaskan dasar-dasar dengan cukup baik, namun sering tidak menggali keunikan setiap variasi. Ketidaklengkapan data ini membuat beberapa tutorial tidak memberikan penjelasan yang memadai. Saat ditambahkan dengan tutorial lainnya yang tidak berfungsi dengan baik atau menunjukkan input yang salah, semakin jelas betapa lemah bagian penting ini di Legends. Game yang kompleks ini, apalagi yang diangkat dari franchise yang legendary dan memiliki daya tarik luas, seharusnya tidak begitu banyak mengandalkan Youtube untuk belajar.
Legends memiliki Mode Solo yang Terbatas

Masalah kekurangan polish juga sangat terlihat di mode solo. Mode single-player tidak punya pengaturan kesulitan dan bisa jadi cukup menegangkan. Unlock yang ada cenderung hanya berupa konsep seni dan tidak menawarkan skin berarti atau variasi palet yang banyak. Penawaran online juga terbatas. Meskipun diiklankan dalam trailer, mode peringkat tidak ada, dan hanya ada satu ruang untuk bermain online, yang berpotensi membuat pertandingan jadi timpang. Lobi hanya bisa diisi maksimal dua orang, hampir membuatnya tidak berguna.
Mode cerita memang memiliki sisi menjengkelkan. Mengubah mekanika yang ada, menghapus beberapa meter, dan menambahkan modifier yang tidak pas, membuat mode ini menjadi cara buruk untuk belajar dasar-dasar maupun menunjukkan keahlian kombinasi. Mekanika RPG yang terasa ringan dan terbelakang pun nggak membantu sama sekali.
Dari segi narasi, mode cerita ini juga terasa monoton. Meskipun penampilannya sangat mirip dengan animasi asli, karakter tetap berada dalam posisi bertarung saat berbincang, dan setiap animasi dalam bagian-bagian statis ini diambil dari gerakan yang sudah ada. Berbagai efek yang hilang dan karakter yang tidak konsisten suaranya membuat cerita terasa seperti karya fan-made yang murah. Narasinya pun membosankan, melompat dari logika satu ke yang lain, terputus oleh menu-menu, dan terus mengatur ulang dirinya sendiri untuk menjelaskan bagaimana karakter dari berbagai era Avatar bisa berada dalam satu timeline. Meskipun secara teknis cerita ini dianggap canon, ini bukanlah standar kualitas, dan label yang mestinya memberi cerita ini otoritas sebaiknya diabaikan.
Avatar Legends: The Fighting Game, meskipun memiliki kampanye yang seolah-olah terpaksa, tetap menawarkan beragam karakter dan kebebasan bereskpresi. Meskipun banyak bagian dalam game ini yang tampak kurang inspirasi, inti dari game ini ada pada pertarungannya yang solid. Gameplay Group International mungkin mengorbankan banyak aspek lain, tapi mereka berhasil fokus pada hal yang paling penting. Seperti perpaduan antara prajurit Api dan biarawan Udara, game ini menyala dengan semangat, tetapi tetap terbilang ringan.
Sebuah salinan PS5 dari Avatar Legends: The Fighting Game disediakan oleh penerbit untuk tujuan ulasan ini.
Opini Kita
Banyak yang berharap game ini bisa menjadi terobosan setelah kegagalan sebelumnya. Sayangnya, meski mekaniknya bagus, banyak aspek yang perlu diperbaiki. Semoga saja game ini mendapat support yang baik dari developer untuk update di masa mendatang, karena potensi keren masih ada di sini. Kita semua menanti inovasi yang bikin seri ini makin menarik ke depannya!





