Dengan biaya pengembangan game yang terus melambung, banyak yang mulai mempertimbangkan penggunaan product placement ala film dan acara TV untuk membantu menutupi kekurangan dana. Mark Darrah, mantan bos Dragon Age di BioWare, mengungkapkan pandangannya tentang hal ini dalam video panjang yang membahas masa depan monetisasi game.
Darrah menyebutkan betapa sekarang banyak game AAA (triple-A) yang mengadopsi elemen live-service supaya pemain terus terlibat dan membayar lebih setelah peluncuran. Game-game ini sering mengandalkan konten pasca-rilis untuk memastikan proyek dapat kembali mendapatkan investasi besar yang dikeluarkan untuk pengembangannya, dengan biaya yang bisa mencapai ratusan juta dolar. Namun, menurut Darrah, tidak semua game dapat sukses dengan model ini. Oleh karena itu, diperlukan alternatif lain agar pengembang bisa menutupi biaya produksi.
Ia memberi contoh bahwa film live-action Smurfs berhasil meraih pendapatan dari product placement secara keseluruhan, sehingga produksi film itu bisa dibilang nol dolar hanya dari hasil penjualan iklan. “Bandingkan dengan cara game menghasilkan uang,” ungkapnya.
Darrah menegaskan bahwa program langganan seperti Xbox Game Pass dan PlayStation Plus juga bukan solusi yang sempurna, mengingat banyak game yang sedikit sekali menghasilkan uang dari program tersebut. Ia mencemaskan bahwa tawaran semacam ini dapat mendorong desain game yang kurang inovatif demi menarik perhatian pemain.
“Ketergantungan berlebihan pada mikrotransaksi justru mempersempit ruang bagi genre lain untuk berkembang,” tambahnya. “Semua game nggak bisa jadi live-service. Saya harap selama satu setengah tahun terakhir kita sudah menunjukkan bahwa itu bukan arah yang kita inginkan.”
Sony sendiri sudah sangat mempertimbangkan kembali rencana game live-service setelah kegagalan game Concord tahun lalu, serta pembatalan game online The Last of Us dan Twisted Metal. Sementara Xbox juga membatalkan MMO yang belum diumumkan dari ZeniMax Online Studios, pengembang The Elder Scrolls Online.
Darrah mengakhiri pembicaraannya dengan menilai bahwa ada peluang bagi industri game untuk memikirkan cara lain untuk mendulang uang. “Product placement sejauh ini adalah bagian yang sangat kecil dari video game dibandingkan dengan film dan TV. Mungkin bisa jadi bagian yang lebih besar dalam pengembangan game ke depannya.”
Selama hampir dua dekade karirnya, Darrah menjadi produser eksekutif di setiap game Dragon Age utama di BioWare. Ia sebelumnya juga sempat membahas bagaimana Dragon Age: The Veilguard yang kurang diterima publik awalnya direncanakan sebagai game live-service sebelum dibatalkan. Ironisnya, kegagalan komersial The Veilguard membuat penerbit EA menyarankan bahwa game itu bisa lebih sukses jika memiliki fitur dunia bersama online—sebuah pendapat yang ditolak mentah-mentah oleh para penggemar franchise ini.
Walaupun demikian, sulit untuk membayangkan The Veilguard diselamatkan dengan adanya product placement—atau membayangkan apa yang mungkin bisa dimasukkan sebagai opsi. Mungkin Rook bisa memanggil karakter dari iklan Old Spice untuk bantuan di pertarungan terakhir? Atau mungkin menyeruput bir Fereldan dengan rasa Mountain Dew sebagai peningkat daya? Atau mengenakan armor beskar sebagai promosi untuk The Mandalorian dan Grogu? Bisa jadi, ide game live-service untuk Dragon Age tidak sepenuhnya buruk setelah semua ini.
Darrah kini sudah meninggalkan BioWare, tetapi studio ini tetap fokus untuk mengembangkan game Mass Effect yang baru, meski masih belum ada tanggal rilis yang pasti.





