Home Movie 4 Film Fantasi yang Diam-Diam Keren, Meski Skor Tomatnya Jelek!
Movie

4 Film Fantasi yang Diam-Diam Keren, Meski Skor Tomatnya Jelek!

Share
4 Film Fantasi yang Diam-Diam Keren, Meski Skor Tomatnya Jelek!
Share

Dalam dunia perfilman, skor Rotten Tomatoes yang rendah sering kali jadi indikator buruk bagi sebuah film. Namun, sebenarnya, penilaian itu bisa jadi menyesatkan. Apalagi di genre fantasi, ada banyak film yang sangat dicintai penonton meskipun para kritikus mengritiknya habis-habisan. Validasi dari penonton sering kali lebih berbicara dibandingkan dengan komentar pedas dari para kritikus. Beberapa film yang mendapat ulasan buruk ini justru menyimpan banyak hal berharga yang mungkin tidak disadari oleh yang mengomentari mereka.

Di daftar ini, ada beberapa film fantasi yang dianggap hebat dan bahkan klasik, namun hanya penonton yang menyadari kehebatan mereka. Namun, yang menarik adalah menggali alasan mengapa kritikus gagal melihat pesona film-film ini. Buat yang mencintai film-film ini, bisa jadi alasan-alasan ini mengejutkan!

4) Dracula (2025)

image courtesy of snd

Setiap kali membahas Dracula, langsung terpikir Bram Stoker’s Dracula, padahal cerita ini sudah diadaptasi berkali-kali. Yang terbaru, Dracula (2025), malah mengundang respons yang cukup beragam. Sementara penonton sangat menyukainya, kritikus justru terpecah dan banyak yang memberikan ulasan negatif. Film ini bukan adaptasi tradisional, melainkan kisah fantasi gelap tentang kehilangan dan obsesi. Menceritakan perjalanan seorang pangeran (Caleb Landry Jones) yang kehilangan kekasihnya (Zoe Bleu Sidel), film ini menggambarkan pencariannya selama berabad-abad untuk menemukan kembali cinta sejatinya. Penggemar film horor klasik pasti kecewa saat menontonnya, karena ini bukanlah film horor biasa.

Inline – AWV Youtube

Konsep di balik Dracula adalah tragedi romansa dengan sentuhan visual yang megah ala Luc Besson. Meskipun beberapa pilihan yang diambil terasa kurang pas, seperti nada cerita yang kurang konsisten, hal itu malah memberi warna pada film ini. Sementara kritikus menganggap film ini kurang mendebarkan atau menggoda, penonton justru menemukan daya tarik tersendiri. Tak selamanya kita butuh versi baru dari cerita yang sama; memiliki pandangan yang berbeda bisa jadi hal yang segar.

Baca juga  Prediksi Film Internasional Terbaik untuk Oscar 2026: Siapa yang Akan Menang?

3) Legend

image courtesy of universal pictures

Kita semua tahu kalau Legend adalah film klasik, tapi agak susah untuk bilang kalau ini salah satu yang terhebat. Terus terang, film ini terasa dibuat khusus untuk penonton tertentu di zamannya. Meskipun tidak begitu berkesan sekarang, ada banyak hal penting yang membuat film ini tetap menyenangkan. Dalam film ini, Jack (Tom Cruise) harus melindungi unicorn terakhir sambil menyelamatkan Putri Lili (Mia Sara) dari rencananya Darkness (Tim Curry), sosok yang ingin menyelamkan dunia ke dalam kegelapan abadi. Premisnya basic banget, dan naskahnya jelas tidak berusaha untuk membuatnya lebih kompleks, tapi visual yang super kreatif bikin pengalaman menontonnya tetap berharga.

Dikendalikan oleh Ridley Scott, film ini menawarkan dunia penuh makhluk fantastis dan set yang sangat berbeda dari yang umumnya terlihat di tahun 80-an. Kinerja Curry adalah sorotan terbesar, tetapi sayangnya, bergantung hanya pada elemen itu tanpa menciptakan keseimbangan keseluruhan jadi kesalahan yang diidentifikasi oleh kritikus. Memang sulit untuk mempertahankan argumen kuat untuk film ini ketika kita melihat lebih dekat, tapi berpikir bahwa ini harus bekerja sebagai narasi fantasi tradisional justru menutup mata kita dari bagian besar mengapa film ini melekat di ingatan banyak orang.

Inline – AWV Youtube

2) Hocus Pocus

image courtesy of buena vista pictures

Tak ada yang bisa memungkiri betapa Hocus Pocus telah menjadi film legendaris yang melintasi generasi. Mungkin sulit percaya kalau dulu film ini dianggap buruk. Cerita seru yang selalu bisa dinikmati saat Halloween, bahkan ada sekuelnya yang sudah rilis dan satu lagi sedang dalam tahap pengembangan. Max (Omri Katz), seorang remaja, tanpa sengaja membangkitkan tiga penyihir Sanderson yang dieksekusi di Salem ratusan tahun sebelumnya dan berusaha menyetop mereka merebut kembali kekuatan mereka. Film ini konyol, tetapi justru membuatnya menghibur karena kejenakaannya dan karisma yang tak pernah pudar. Selain itu, jajaran aktornya luar biasa: Bette Midler, Sarah Jessica Parker, dan Kathy Najimy bikin film ini kehabisan napas dengan humor mereka.

Baca juga  Beredar Kabar Seru: Calon Profesor X Terpilih Jelang Event Besar Marvel Minggu Depan!

Para kritikus mungkin mengharapkan sesuatu yang lebih serius dan gelap, karena film ini dikritik terlalu sederhana, humor yang tidak konsisten, dan karakter anak-anak yang membosankan. Namun, penonton jelas berpendapat berbeda; yang paling penting dari Hocus Pocus adalah suasananya. Memiliki nuansa film ’90-an yang otentik membuatnya sangat menyenangkan untuk ditonton. Dengan elemen musik yang catchy, produksi ini memiliki identitas yang kuat. Pada akhirnya, kritikus melihatnya sebagai komedi keluarga yang biasa saja, sedangkan penonton menemukan film Halloween yang ingin mereka tonton lagi setiap tahun.

1) Hook

image courtesy of tristar pictures

Hook adalah salah satu film terabaikan dan underrated dalam genre fantasi. Disutradarai oleh Steven Spielberg, film ini mengajukan pertanyaan menarik: apa yang terjadi jika tokoh ikonis seperti Peter Pan tumbuh dewasa? Peter (Robin Williams) adalah seorang pengacara yang sangat terobsesi dengan pekerjaannya sampai lupa bahwa dulunya adalah Peter Pan — sampai Captain Hook (Dustin Hoffman) menculik anak-anaknya dan memaksanya kembali ke Neverland. Ini adalah produksi yang sangat emosional, yang mungkin jadi alasan mengapa kritik kurang memberi perhatian, karena dianggap terlalu sentimental. Film ini juga dikritik karena mencoba melakukan terlalu banyak hal sekaligus, sementara arahan dianggap “autopilot”.

Inline – AWV Youtube

Masalahnya, biasanya kritik cenderung kaku dan sulit berimajinasi keluar dari kotak, padahal film ini justru membutuhkan pandangan yang lebih luas. Penonton menyukai hal-hal berlebih yang justru dinilai negatif oleh kritikus. Hook punya salah satu dunia fantasi paling menyenangkan dalam perfilman, ditambah dengan jajaran pemeran yang berkualitas. Yang lebih penting adalah kisahnya yang berusaha mengeksplorasi ide tentang bertambah dewasa, kehilangan hubungan dengan masa kecil, dan menemukan kembali bagian diri kita yang hilang. Ini sangat menggugah penonton. Tiada film yang sempurna, tapi film ini lebih mengutamakan pengalaman, koneksi antar generasi, dan pesan yang ingin disampaikan.

Baca juga  Nicolas Winding Refn Dihormati di Cannes Menjelang Film Pertama Setelah Hampir Satu Dekade!

Wajib Dinanti Nggak Nih?

Dari semua film di atas, jelas banget bahwa beberapa karya ini lebih diterima penonton dibandingkan kritikus. Hal ini mengingatkan kita bahwa kadang-kadang, persepsi penonton bisa jauh lebih akurat dari sekadar skor ulasan. Semoga aja ke depannya, film-film dengan konsep unik bisa lebih dihargai oleh kritikus, karena kita semua tahu betapa serunya nonton film yang bikin kita berpikir di luar kebiasaan!

Inline – AWV Youtube
Share