Home Game Perseteruan Game Terbesar Era 90an Kini Tak Berarti Apa-Apa!
Game

Perseteruan Game Terbesar Era 90an Kini Tak Berarti Apa-Apa!

Share
Perseteruan Game Terbesar Era 90an Kini Tak Berarti Apa-Apa!
Share

Sama seperti industri game itu sendiri, budaya gaming terus bergeser dan berevolusi. Dalam perjalanan hidup, kita udah lihat inovasi handheld seperti Game Boy yang kini kalah jauh dengan kekuatan pemrosesan ponsel yang ada saat ini. Nggak hanya itu, banyak yang merasa bahwa komunitas gamer pun telah dewasa (atau kadang menolak untuk dewasa), mengubah debatan di playground dan argumen di ruang obrolan menjadi kampanye media sosial dan momen viral. Meski kecintaan terhadap game semakin diterima secara luas, topik perdebatan telah berubah drastis.

Salah satu contoh terbaik adalah bagaimana “Console Wars” mengalami transformasi. Dulu, konsol pilihan dan franchise eksklusif favorit menjadi bagian dari kepribadian kita. Setiap game yang kita pilih pasti bikin kita terjebak dalam pertempuran di playground tentang konsol mana yang lebih keren. Sekarang, di pasar modern, gairah panas itu udah jauh dari yang dulu, karena banyak franchise besar kini bisa diakses di berbagai platform dan rival yang dulunya dianggap musuh kini menjadi teman (atau bahkan kolaborator kreatif). Setelah menghabiskan masa muda yang didominasi oleh persaingan, konsep perang konsol sudah kehilangan daya tariknya.

The Console Wars Mendefinisikan Gaming di Masa Kecil

Perang konsol adalah faktor besar dalam budaya gaming saat masih kecil. Dibesarkan di tahun 90-an, penulis langsung merasakan konflik fandom yang berbeda. Di rumah yang mendukung Nintendo, penulis punya teman dengan konsol Sega yang suka mengejek game-game dengan tempo lebih lambat. Penulis pun balik menyerang, dengan mengingatkan banyaknya game first-party keren dari Nintendo yang mereka lewatkan. Saat penulis akhirnya membeli N64, konflik itu berkembang menjadi pertarungan antara Nintendo, Sega, dan Sony. Dengan internet yang meluas dan pertumbuhan gaming rumahan serta permainan online, PS2, Xbox, dan GameCube jadi gunung-gunung besar yang jadi tempat kita menempelkan loyalitas.

Inline – HLD Private Trip
Baca juga  Proyek Ethos Alami PHK, Namun Permainan Masih Berlanjut!

Debat di playground, argumen di kantin, dan obrolan tak terputus di bus — bagi gamer yang tumbuh pada tahun-tahun tertentu, konflik antar pemain tentang konsol favorit merupakan bagian dari kampanye iklan, debat online, dan suara-suara yang tertekan karena terus menerus berteriak. Franchise eksklusif menjadi titik fokus utama dalam argumentasi. Link vs. Cloud, Master Chief vs. Solid Snake, dan banyak debat lainnya jadi bagian dari budaya gaming yang dialami penulis, sekaligus jadi alasan seru buat berdebat dengan teman dan berkonflik dengan orang-orang di dunia maya.

Itu terus berlanjut hingga era PS3/Xbox 360/Wii, tetapi semuanya mulai terasa berbeda di tahun 2010-an. Dengan berkembangnya Steam dan peningkatan signifikan gamer kasual di platform PC dan mobile, gambaran gaming pun berubah dengan audiens yang lebih luas. Walaupun ada loyalitas merek untuk perusahaan seperti Nintendo, perang konsol sepertinya sudah berakhir, karena jenis konflik yang sebelumnya sangat emosional kini terkesan tidak relevan.

Game Modern dan Crossover Buktikan Kenapa Perang Konsol Sudah Tak Ada Lagi

Seiring berjalannya waktu, franchise semakin tidak terikat pada konsol dan merek tertentu, mencerminkan pergeseran dari konflik konsol yang pernah jadi inti dari budaya gaming. Ini bukan sekadar tentang properti eksklusif yang dulu, seperti Halo yang kini juga hadir di PlayStation 5 — meskipun ini adalah bentuk ekstensi tertinggi dari perang konsol yang once upon a time. Lebih jauh lagi, ini tentang bagaimana industri gaming telah bertransformasi dari segi gaya dan fokus.

Inline – AWS Open Trip

Ambil contoh Overwatch dan Fortnite, dua game shooter berbasis tim gratis. Meskipun keduanya memiliki elemen unik dalam gameplay, mereka menjadi rival alami dalam hal keterlibatan audiens dan dominasi genre. Dulu, penulis bisa melihat diri sendiri dan teman-teman berdebat mengenai kualitas hero shooter di Overwatch yang lebih menyenangkan dibanding pendekatan sandbox Fortnite. Dulu, bisa jadi itu adalah aplikasi pembunuh di konsol rival, menciptakan lebih banyak drama dan excitement di kalangan pemain yang ingin membela game favorit mereka. Namun, di zaman modern ini, mereka lebih seperti rekan sehat. Mereka bahkan melakukan crossover ke Fortnite, yang menyoroti saling padu antara franchise terbesar di era gaming sekarang.

Baca juga  Terungkap! Krisis CPU Global Semakin Parah untuk Prosesor, Industri Siap Menyambut Chip 18A dari Intel!

Tentu saja, itu bukan berarti kemarahan gamer atau sifat combative itu hilang; hanya saja terlihat lebih terfokus pada debat atau percakapan yang lebih spesifik tentang industri secara keseluruhan. Penggemar Nintendo dan Sony tidak terasa aktif berdebat lagi, melainkan menemukan kebahagiaan di sudut masing-masing. Perang konsol, seperti yang penulis ingat, benar-benar terasa sudah tidak menjadi bagian dari gaming modern, terutama ketika hampir semua orang yang penulis kenal main game di ponsel sambil punya akun Steam dan biasanya setidaknya satu atau dua konsol. Melihat crossover seperti Fortnite dan Overwatch sekarang membuat penulis berpikir, bagaimana mungkin sebelumnya crossover antara fandom rival terasa mustahil di budaya gaming yang penulis lalui. Meski penulis tidak terlalu kecewa dengan perubahan ini, karena debat itu bisa jadi sangat toksik, tetapi sedikit nostalgia menghampiri saat mempertimbangkan seberapa besar industri telah berubah dalam waktu hidup penulis saja.

Inline – AWV Youtube
Share