“Jim Queen” telah hadir di Cannes – dan berhasil merebut perhatian! Film animasi yang menghibur ini diproduksi oleh Bobbypills dari Prancis dan disutradarai oleh Marco Nguyen serta Nicolas Athané. Cerita ini mengisahkan tentang Jim, seorang influencer gay populer di Paris yang menjadi raja Gym Queen. Dia selalu tampil dengan “celana pendek ketat dan tanpa lemak tubuh” – sampai suatu hari, abs-nya secara harfiah menghilang.
Jim mulai kehilangan daya tariknya terhadap sesama jenis karena virus bernama Heterosis yang sedang merebak. Efek sampingnya? Tubuh jadi lemas, suka duduk dengan kaki terbuka, dan manias bola. Yang lebih menyedihkan, orgasme prostat pun tak akan pernah ada lagi.
Simon Balteaux, salah satu penulis film ini, mengungkapkan: “Mari kita hadapi kenyataan – para lelaki gay sangat terobsesi dengan penampilan. Ini bisa jadi sulit, karena di dunia ini kamu harus bugar dan muda. Saya sudah 43 tahun, dan orang-orang melihat saya dengan cara yang berbeda.”
Balteaux menulis “Jim Queen” bersama Nguyen, Athané, dan Brince Chevillard. Dia juga menambahkan, “Dulu saya adalah seorang Gym Queen. Sekarang, saya akan jadi Daddy. Ini adalah langkah selanjutnya, jadi saya juga mengolok diri sendiri. Walau begitu, saya tetap akan pergi ke gym besok.”
Nguyen juga menambahkan, “Ada banyak toxic masculinity dalam komunitas gay. Kamu pikir hanya dengan mengaku gay, semua baik-baik saja, padahal jika kamu kelebihan berat badan, kamu akan merasa tidak cocok dengan standar. Menulis ini sangat membebaskan, karena kami membahas pengalaman kami.”
Jim yang berubah dan kehilangan pengikut, ternyata tidak membuat Lucien, seorang pemuda yang jatuh cinta padanya meski masih dalam lemari, jadi goyah. Mereka pun memutuskan untuk mencari obat Heterosis sambil melarikan diri dari “Gaystapo” dan ibu Lucien yang homofobik.
Balteaux berbagi bahwa menulis film ini sangat mengasyikkan. “Kami ingin menyampaikan keceriaan, karena begitulah cara saya menjalani kehidupan saya. Kita semua menghadapi banyak hal berat, tapi saya berusaha melihat sisi terang.”
Film ini juga menawarkan pandangan mendalam tentang komunitas LGBTQ, di mana “tidak ada yang bercampur dan selalu menggosip.”
“Kami mengolok semua orang – termasuk diri kami sendiri,” ujar Nguyen sambil tertawa.
“Dulu, orang menganggap komunitas LGBTQIA+ sebagai satu kelompok, namun kenyataannya jauh lebih kompleks. Meskipun demikian, kami ingin menunjukkan bahwa jika sesuatu yang mengerikan terjadi dan mengancam dunia, semoga semua orang bisa menghadapi masalah ini bersama-sama.”
Balteaux menyatakan, mereka berbicara tentang komunitas ini seolah-olah mereka membahas sahabat terbaik mereka. “Kami mencintai mereka, kami tahu segalanya tentang mereka, namun kami bisa jujur. Dan itulah kenyataannya! Ini adalah surat cinta untuk komunitas, namun tidak semuanya sempurna.”
Prioritas tetaplah untuk bersikap baik, walau protagonis mereka berjuang dengan hal ini.
“Saya sangat menyukai momen ketika Jim tiba-tiba memiliki cahaya di matanya dan memahami arti kebaikan. Itu sangat lucu,” ungkap Nguyen dengan senyuman.
Produksi Bobbypills ini memang mengkhususkan pada animasi dewasa. Mereka tak takut menghadirkan konten seksual, namun tidak ingin tampil terlalu vulgar atau pornografi. Ada adegan seks, tapi selalu mengarah pada sesuatu yang lebih. “Kami tidak hanya ingin mengejutkan; kami ingin membahas cinta,” imbuh Nguyen.
Nguyen juga mencatat bahwa suara-suara yang menyatakan “homoseksualitas adalah penyakit” masih saja muncul. Dalam film ini, mereka membalikkan narasi tersebut.
“Konversi terapi itu mengerikan, dan kami menunjukkan itu juga. Kamu tidak bisa memaksakan identitas atau seksualitas pada siapapun.”
Balteaux menceritakan, “Saya tumbuh di pedesaan di tahun 80-an, dan dulu saya merasa seperti orang aneh. Membuat film ini terasa sangat katarsis. Sekarang, saya merasa baik dalam kulit saya sendiri, dan Marco banyak membantu saya: Kami bilang bahwa saya adalah gay dari desa dan dia adalah gay dari kota,” katanya sambil tertawa.
“Kami tidak tumbuh dengan cara yang sama, dan saya butuh waktu lama untuk menerima diri saya. Dulu, saya tidak akan duduk seperti ini [dengan bertumpu pada kaki]. Saya berusaha tampil lebih maskulin. Sekarang, saya tidak peduli.”
Sangat menyenangkan bermain-main dengan stereotip straight.
“Orang straight pun bisa berperilaku secara stereotipikal tanpa menyadarinya. Dua penulis kami adalah straight. Itu sebabnya kami bisa menangkapnya dengan baik,” ungkap Balteaux.
Nguyen menambahkan, “Saya suka momen ketika ada TV yang menayangkan pengumuman bahwa sekarang semua orang straight, Ricky Martin menikahi Kristen Stewart. Saya pernah mendengar orang tertawa tentang itu.”
“Saya juga suka referensi ke ‘The Sixth Sense,’ ketika mereka mengatakan: ‘Saya melihat orang gay.’ Saya sangat bangga dengan yang satu ini,” Balteaux mengangguk.
“Saya rasa kami membuat film dengan sentuhan politik, tapi juga karena tawa bisa menjadi senjata. Kami sangat beruntung – kami hidup di negara di mana ‘Jim Queen’ dapat dibuat. Tapi kami masih memikirkan mereka di Senegal dan orang-orang trans di AS. Semoga ini bisa memberikan sedikit cahaya dalam realitas mereka.”
“Ini adalah komedi yang bikin hati senang. Kami ingin orang merasa baik,” kata Nguyen, diikuti oleh Balteaux yang menambahkan:
“Kami baru saja melihat video dua penonton berusia enam puluhan. Setelah menonton film, mereka bilang: ‘Kami tidak mengerti semua referensinya, tapi tetap saja kami tertawa.’ Kami ingin membagikan kekayaan dan keindahan komunitas gay kepada semua orang.”




