Jaman dulu, yang sebenarnya nggak terlalu lama, ada momen sakral ketika idola rock ‘n’ roll, di tengah menyanyikan lagu klasik, mengarahkan mikrofon ke arah penonton. Momen itu seolah memberi sinyal bahwa ini saatnya penonton untuk bernyanyi bersama. Bisa jadi itu Bruce Springsteen saat menyanyikan “Thunder Road,” atau Madonna yang membawakan “Holiday,” atau ketika melihat seluruh stadion di Jersey menyanyikan “A bottle of white! A bottle of red…” Hubungan cinta antara bintang pop dan penontonnya enggak pernah sekuat itu.
Atau mungkin sebaliknya? Di film konser luar biasa “Billie Eilish — Hit Me Hard and Soft: The Tour in Live 3D,” para penggemar Billie Eilish bernyanyi dengan semangat dan pengabdian…selama konser berlangsung. Bagian besar penonton ikut menyanyikan setiap lagu dengan totalitas dan kepolosan yang bikin terpukau, dari gerakan tangan yang penuh semangat hingga derai air mata. Bukan cuma sekadar menangis saat bernyanyi; tampaknya tindakan ini berpadu menjadi sesuatu yang dikenal sebagai cry-singing.
Dulu, idola pop dianggapsebagai dewa. Tapi dalam “Billie Eilish: Hit Me Hard and Soft,” terasa banget bahwa Billie adalah dewi yang juga guru, avatar, pelatih kehidupan, pencipta ruang aman, sekaligus alasan untuk bertahan. Dia yang bisa menyembuhkan kepedihan. Meskipun Beatles, Dylan, atau ABBA juga mengisi ruang tersebut, rasanya dulu enggak seintens ini. Sekarang, pergi ke konser Billie Eilish sama dengan menjadi bagian dari agama Billie Eilish. (Hal yang sama berlaku untuk Taylor Swift, Harry Styles, atau Olivia Rodrigo.) Setiap momen di konser jadi epifani. Ego dan eksistensi kita bergantung padanya.
Ada yang berubah, secara halus tapi mendalam, yaitu chemistry antara bintang dan penonton. Dalam “Hit Me Hard and Soft,” kerumunan orang yang mengangkat ponsel untuk merekam konser bukan sekadar mencari kenang-kenangan; mereka ingin menghadirkan pengalaman itu. Dan cara mereka bernyanyi bersama, dengan semangat “Lagu mana yang jadi favorit mati-matian? Apapun lagu yang dinyanyikan Billie,” menggambarkan dua arah. Ini tentang pujaan tak terbatas terhadap bintang, merasakan keinginan untuk mengangkat Billie ke pedestal imajinasi kita. Namun, bernyanyi bersama juga berarti kita menjadi Billie. Dengan menyanyikan setiap lirik, kita bergabung dengannya. Sinarnya jadi milik kita. (Dan kita bisa membagikannya di Instagram.)
Semua ini dihadirkan dengan cara elektrik dari James Cameron, sutradara bersama “Hit Me Hard and Soft” (yang juga disutradarai oleh Eilish sendiri). Kita sudah terbiasa melihat film konser yang terkelola secara sempurna dengan tampilan dan nuansa yang sering kali terkesan seragam. (Contohnya “Taylor Swift: The Eras Tour.”) Tapi “Hit Me Hard and Soft” hadir dengan nuansa yang berbeda. Ini bukan sekadar film konser, tapi pengalaman, berkat perpaduan antara pertunjukan itu sendiri dan cara pengambilan gambar Cameron.
Film ini diambil di dua arena selama Tur Hit Me Hard and Soft, satu di Manchester, Inggris, dan satu di Phoenix, Arizona. Desain panggungnya luar biasa. Billie tampil di atas panggung persegi panjang abu-abu yang berada di tengah arena. Ada dua lubang persegi di panggung yang berfungsi sebagai tempat band. Billie berlari-lari di sekeliling panggung seolah tampil sendirian di atas kapal induk, memberi kebebasan yang tak terpaksa. Dalam salah satu segmen wawancara spontan antara Cameron dan Eilish, Billie menyatakan bagaimana saat kecil dia terpesona dengan kebebasan fisik yang dimiliki bintang rap dan hip-hop. Namun, dia belum pernah melihat bintang pop perempuan tampil seperti itu.
Keinginan Eilish untuk melakukan hal itu terbawa hingga kini, memberi pentasnya sifat yang spontan dan menginspirasi. Sejak “Ocean Eyes,” kolaborasi DIY pertamanya dengan Finneas, dia selalu mempertahankan kualitas akar rumahan. Dia masih mengurus rambut dan makeup sendiri, dan dia bukan penari profesional — dia bergerak seperti kita semua. Dengan topi baseball dan jersey atletik longgar, dia melangkah, berlari, melompat, dan biarkan musik membimbingnya. Semua ini dicapture dengan ciamik oleh Cameron. “Hit Me Hard and Soft” adalah salah satu film 3D di mana gambarnya bukan cuma pop-out; melainkan diperdalam dalam cara yang membuat kita merasa seolah berada di sana. Momen berani yang dilakukan Cameron adalah mendekatkan kamarnya ke Billie dan penonton. Dengan panggung besar, ada banyak panorama, namun kita juga diberikan kedekatan dengan Billie yang membuat semua yang dia lakukan jadi menarik dan mendalam.
Dengan suara soprano-nya yang penuh jiwa, Billie adalah bintang pop paling orisinal di generasinya. Di “Hit Me Hard and Soft,” dia semakin menegaskan identitasnya yang menggiurkan sebagai penyanyi ulung yang juga menghadirkan lagu-lagu hits. Saat dia mengguncangkan “Bad Guy,” terlarut dalam kedalaman melankolis “TV,” mendalami hook ceria “Bury a Friend,” atau membenamkan diri dalam refleksi mistis feminin “What Was I Made For?,” mendengarnya bisa bikin kita meleleh.
Ada beberapa penampilan orang lain di panggung, seperti penyanyi latar, Jane dan Ava, serta Finneas, yang untuk pertama kalinya di karirnya tidak ikut tur. (Pertunjukan perdana di Quebec adalah yang pertama tanpa dia.) Namun, kakaknya ini muncul di sini, dan kita merasakan betapa dalamnya cinta mereka. Meskipun begitu, ada puisi tersendiri ketika Billie Eilish menguasai panggung seorang diri dalam “Hit Me Hard and Soft.” Disini perannya sebagai mitra sejati adalah penonton. Mungkin ini yang selalu terjadi pada bintang pop di konser besar — ingat kerumunan gila Beatlemania, atau Rolling Stones di Madison Square Garden tahun 1972, atau Lady Gaga yang bermain untuk little monsters-nya. Bedanya, saat ini para penggemar bukan hanya bernyanyi bersama lagi — mereka beraksi layaknya bintang yang mereka puja. Mereka telah menjadikan penonton itu sendiri sebagai bintang baru.





