Sci-fi adalah genre yang bisa dibilang nggak pernah sepi dari kegagalan box office. Bahkan film-film sci-fi yang dianggap hebat sekalipun bisa gagal di pasaran, dan ini biasanya terjadi karena beberapa alasan tertentu. Pertama, konsep yang kompleks kadang susah untuk diterima oleh penonton umum. Belum lagi, film sci-fi seringkali membutuhkan dunia fantastis yang luas, yang biasanya bikin biaya produksi membengkak, sehingga lebih rentan untuk flop. Tapi, ini bukan berarti film tersebut jelek loh, karena banyak film sci-fi terbaik justru mengalami kesulitan secara komersial.
The Abyss, Starship Troopers, Children of Men, Annihilation, dan The Thing adalah beberapa contoh film sci-fi keren yang tidak berhasil di box office. Biasanya, jika hal ini terjadi, kemungkinan besar pemikiran tentang sekuel atau franchise pun sirna. Namun, ada beberapa pengecualian yang menarik nih. Beberapa film sci-fi yang gagal secara finansial tetap berhasil mendapatkan sekuel di masa mendatang. Ada yang langsung dirilis dalam bentuk video rumahan, dan ada yang muncul bertahun-tahun kemudian, semua mengejutkan kita dengan keberlanjutan kisahnya. Di beberapa kasus, sekuel-sekuel tersebut malah bisa dibilang lebih baik dari pendahulunya.
Highlander
Highlander adalah salah satu film yang identik dengan genre sci-fi, terutama ketika kita ngomongin film-film tahun ’80-an. Film tahun 1986 ini menggabungkan unsur sci-fi dengan fantasi yang mengikuti perjalanan seorang prajurit Skotlandia abadi yang akhirnya berhadapan langsung dengan rival terbesarnya di kota New York modern. Meskipun ulasan untuk Highlander saat pertama kali rilis nggak terlalu bagus, seiring berjalannya waktu, para kritikus menganggapnya positif karena ke-cheesy-an dan dramatisasi yang ada.
Film ini sejatinya mengalami kegagalan finansial, hanya meraup $12 juta dari anggaran $19 juta. Biasanya, ini sudah menjadi alasan yang cukup untuk tidak merilis sekuel. Tapi, setelah dirilis di video rumahan, film ini mendapatkan banyak penggemar baru. Hal ini memicu lahirnya sekuel, Highlander II: The Quickening, yang sayangnya tidak diterima dengan baik dan kembali mengalami kegagalan box office. Meski begitu, beberapa sekuel lainnya, acara TV, novel, komik, dan web series juga melanjutkan warisan franchise yang unik ini.
The Chronicles of Riddick
Saat Vin Diesel belum menjadi bintang di The Fast and the Furious, ia sudah muncul dalam film yang melahirkan franchise mengejutkan, yaitu Pitch Black di tahun 2000. Film ini berhasil secara box office, dan dengan melesatnya popularitas Diesel, sekuel The Chronicles of Riddick dig greenlight pada tahun 2004. Sekuel ini menempatkan fokus lebih besar pada karakter Diesel (Riddick) dengan anggaran yang melonjak hampir $100 juta lebih dari pendahulunya. Sayangnya, film ini hanya box office meraup $115 juta.
Ulasan untuk film ini juga mengecewakan, jadi tampaknya franchise ini akan berakhir. Namun, Diesel tetap berkiprah dan akhirnya menemukan sponsor untuk proyek selanjutnya. Tahun 2013, Riddick muncul, berhasil menghidupkan kembali seri ini dan ternyata lebih baik dari The Chronicles of Riddick dengan biaya yang lebih rendah. Film ini menghasilkan sekitar $98 juta, yang dianggap sukses. Sekarang kabar baiknya, ada kabar bahwa sekuel keempat sedang dalam pengembangan. Ditambah dengan komik, film pendek, dan lebih banyak konten, franchise ini membuktikan daya tariknya meskipun sudah menghadapi masalah di box office.
RoboCop 2
RoboCop yang pertama adalah sebuah klasik yang legit dalam subgenre aksi sci-fi. Film tahun 1987 ini menyuguhkan aksi seru sekaligus mengandung sarkasme sosial yang tajam. Film ini sangat dipuji berkat tema kemanusiaan, korupsi, dan keserakahan yang membedakannya dari film lain. Setelah kesuksesan besar itu, sekuel di tahun 1990 nggak bikin banyak orang heran. Sayangnya, RoboCop 2 justru gagal total. Film ini hanya menghasilkan $47 juta dari anggaran $30 juta dan mendapat ulasan yang kurang mengesankan.
Film ini terasa seperti pengulangan dari cerita yang sudah ada dan kurang memiliki kecerdasan yang membuat film pertama bersinar. Kehilangan sutradara Paul Verhoeven sangat terasa, dan film ini flop. Ajaibnya, RoboCop 3 tetap dirilis di tahun 1993, meski tanpa Verhoeven dan tanpa bintang Peter Weller. Film ini malah lebih sukses secara finansial, tapi kritikan yang diterima jauh lebih buruk dan membuat franchise ini terpaksa hiatus cukup lama.
Tron
Tron adalah contoh lain dari flop sci-fi yang akhirnya mendapatkan sekuel yang lebih baik. Film tahun 1982 ini membawa konsep futuristik yang seru, tetapi entah kenapa penonton saat itu kurang tertarik. Film ini meraup $50 juta, yang cukup decent melihat dari anggarannya, tapi tetap jauh dari harapan. Seperti terlahir di era yang salah, sepertinya ide ceritanya akan lebih cocok bagi penonton tahun ’90-an atau 2000-an.
Meski begitu, film ini mendapat lebih banyak peminat saat dirilis di video rumahan dan jadi bagian dari atraksi di Disneyland selama bertahun-tahun. Semua ini membuat dirilisnya Tron: Legacy pada tahun 2010. Dengan visual yang ciamik dan rilis di era yang lebih tepat, sekuel ini sukses meraup lebih dari $400 juta. Tron: Legacy juga mendapatkan penggemar baru yang berujung pada sekuel lain di tahun 2025, yaitu Tron: Ares, meski yang ini jauh lebih flop dibanding yang lainnya.
Blade Runner
Kalau kita bicara tentang film sci-fi terbaik sepanjang masa, Blade Runner pasti masuk dalam daftar teratas. Film tahun 1982 ini diadaptasi dari novel Philip K. Dick dan mendapat sambutan hangat. Dengan penerimaan yang kuat dan bintang ikonik Harrison Ford sebagai pemeran utama, film ini seharusnya sukses di box office. Namun sayangnya, film ini hanya menghasilkan sekitar $41 juta dari anggaran $30 juta, jadi bisa dibilang gagal secara komersial.
Tentu saja, Blade Runner berhasil mendapatkan warisannya selama beberapa dekade terakhir, semakin populer, dan melihat beberapa kali rilis ulang. Ini semua membuat sekuel Blade Runner 2049 muncul pada tahun 2017. Ford kembali beraksi bersama Ryan Gosling, dan sekali lagi, film ini mendapat banyak pujian. Meski begitu, film ini hanya berhasil meraup sekitar $277 juta dari anggaran $185 juta, menjadikannya status flop kembali. Jadi, alih-alih sekuel-sekuel baru, kita malah mendapatkan serial TV. Apapun jenis lanjutan yang muncul, lebih banyak konten dalam franchise Blade Runner selalu kami sambut dengan antusias!
Wajib Dinanti Nggak Nih?
Melihat potensi dari sekuel-sekuel yang muncul setelah kegagalan box office ini, sepertinya ada harapan cerah bagi para penggemar sci-fi. Banyak film yang dari waktu ke waktu menunjukkan kualitasnya dan mendapatkan penggemar baru. Semoga aja para pembuat film tetap berani mengembangkan ide-ide brilian meskipun awalnya terbentur oleh box office!

