Film science fiction adalah salah satu genre yang paling menarik, bukan hanya karena dunia dan skenario kreatifnya, tetapi juga karena kemampuannya menggali pengalaman manusia. Banyak contoh film yang berhasil melakukan ini, seperti Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Solaris, dan A.I. Artificial Intelligence, yang semua menjelajahi berbagai aspek dari apa artinya menjadi manusia. Namun, di antara sekian banyak film, ada satu judul yang mungkin belum pernah kamu dengar: Another Earth. Dirilis 15 tahun lalu, film ini mengangkat banyak pertanyaan besar tentang penyesalan, kesalahan, dan kesempatan kedua, dan pastinya harus kamu tonton jika kamu penggemar The OA.
Dirilis pada 22 Juli 2001, Another Earth mengisahkan tentang Rhoda Williams, seorang remaja jenius yang sangat terobsesi dengan astronomi dan baru saja diterima di MIT. Namun perayaan yang berujung di malam yang kelam saat ia mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk mengubah segalanya. Distraksi oleh berita di radio tentang penemuan Bumi kedua membuatnya terlibat dalam kecelakaan fatal. Kejadian itu mengubah arah hidupnya selamanya dan meninggalkan rasa bersalah yang mendalam. Bertahun-tahun kemudian, ia mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Bumi kedua. Meskipun film ini dirilis secara terbatas dan hampir tidak mendapat perhatian di box office (hanya meraup $1,9 juta dari anggaran $100.000), Another Earth adalah eksplorasi menakjubkan tentang kesedihan, kemungkinan, dan penerimaan terhadap hal-hal yang tidak bisa diubah.
Another Earth Menawarkan Sudut Pandang Baru pada Tropes Klasik Sci-Fi
Salah satu hal yang bikin Another Earth istimewa adalah bagaimana film ini mengambil trope “bagaimana jika kita membuat pilihan yang berbeda” dan memberikan spin baru. Alih-alih menawarkan kesempatan untuk hidup yang berbeda atau melihat apa yang seharusnya terjadi seakan dapat mengulang hidup, Rhoda memilih jalur yang lebih rumit. Pilihan ini semakin dalam dengan keputusan-keputusan hidup lainnya yang diambilnya.
Setelah Rhoda menjalani hukumannya atas hidup yang telah ia ambil, dia menghubungi pria yang hidupnya hancur karenanya. Ternyata, ini adalah momen yang bikin alur Another Earth semakin menarik. Kita melihat Rhoda berusaha melakukan perbaikan, namun seiring cerita berkembang, jelas bahwa dia sebenarnya hanya berusaha menghentikan rasa sakitnya sendiri—berlari dari masa lalunya yang kelam. Kesadaran ini hanya bisa tercapai dalam konteks sci-fi film ini, dengan konfrontasi diri yang sulit yang hanya muncul saat dihadapkan pada kemungkinan bahwa “masa depan”-nya di Bumi lain mungkin sangat berbeda. Ini adalah eksplorasi yang elegan dan mengharukan tentang ide bahwa kadang-kadang, jawaban bukanlah “apa yang terjadi jika” tetapi “apa yang sekarang.” Pelajaran ini disampaikan dengan cara yang tidak jatuh ke dalam kekejaman, seperti yang mungkin diharapkan dari setup seperti ini. Tidak ada konsekuensi buruk dari keberadaan Bumi lainnya, hanya Rhoda, pilihan-pilihannya, dan konfrontasi diri-nya.
Another Earth Sangat Cocok bagi Penggemar The OA
Melampaui faktanya yang menjadi film sci-fi underrated yang sebenarnya, Another Earth adalah tontonan sempurna untuk penggemar The OA. Ini sebagian besar karena dalang kreatif di baliknya. Film ini ditulis bersama oleh Brit Marling, yang juga co-creator The OA—ia juga berperan dalam keduanya. Film ini, pada beberapa aspek, terasa seperti bagian dari alam semesta yang sama dengan serial yang sayangnya dibatalkan. Dengan nuansa, ritme, dan gaya visual yang sangat mirip, Another Earth memberikan pengalaman menonton yang bikin hati bergetar.
Keduanya, Another Earth dan The OA, menggali tema trauma dan pertumbuhan melalui penderitaan. Dalam Another Earth, cerita ini dikemas dalam skala yang lebih kecil lewat Rhoda, tetapi ide tentang penyembuhan dan pertumbuhan tetap kuat. Selain itu, ada juga tema identitas. Dalam The OA, identitas bukanlah satu hal yang tetap; ia berubah—begitu juga dengan Another Earth yang menunjukkan Rhoda pada berbagai titik dalam identitasnya: sebagai mahasiswa berprestasi yang siap ke MIT, seorang wanita yang telah mengakibatkan rasa sakit yang mengerikan, dan seorang wanita yang telah tumbuh dari penderitaannya sendiri yang ia bawa. Film ini terasa berbeda namun membawa beberapa pelajaran serupa, dan meskipun tidak bisa mengubah fakta bahwa The OA dibatalkan, film ini sedikit mengobati rasa sakit itu.
Reaksi AWverse
Kayaknya bakal seru banget kalau lebih banyak orang tahu tentang Another Earth. Ini film yang bikin kita berpikir dan menyajikan tema yang relevant dengan kehidupan sehari-hari kita. Semoga aja film ini mendapat perhatian kembali, apalagi dengan populasinya yang semakin peduli sama isu kemanusiaan dan identitas! Kita tunggu aja pembuktiannya pas rilis ulang nanti.

