Musim film tahun ini baru saja kedatangan permata baru dari Slovakia, yaitu “Lover, Not a Fighter,” karya sutradara sekaligus penulis naskah Martina Buchelová. Dalam film komedi romantis yang khas ini, kita diperkenalkan kepada Andrej, seorang 20 tahun yang hidupnya terasa terjebak di antara masa remaja dan kedewasaan yang penuh ketidakpastian. Dengan gaya bercerita yang unik dan elemen komedi yang segar, Buchelová membawa penonton menyelami dunia Gen Z yang penuh kecemasan, tanpa menghakimi perjalanan hidup para karakternya.
“Lover, Not a Fighter” pertama kali diputar di festival film Karlovy Vary, dan langsung disambut dengan gelak tawa dari penonton lokal. Film ini berhasil mencuri perhatian dalam Proxima competition, yang berfungsi sebagai arena untuk karya yang lebih eksperimental. Meski formatnya tidak konvensional, film ini mengajak penonton untuk merasakan humor khas Eropa Timur yang terkadang aneh, tetapi tetap menyentuh dan lucu.
Film ini memanfaatkan berbagai judul bab dan intertitle yang mungkin terasa panjang, tetapi mekanismenya justru menambah keunikan. Andrej diperkenalkan sebagai pemuda yang tidak lagi nongkrong di halte trem, melainkan duduk di atas pohon bersama neneknya. Nenek ini, diperankan oleh Jaroslava Pokorná, dengan humor dan pragmatisme membantunya menjauh dari kebiasaan buruk, meski Andrej tetap memiliki hobi anehnya yaitu memanjat pohon di tempat umum. Ketidakpuasan dalam hidupnya semakin rumit ketika sepupunya, Pet’o, yang juga terjebak dalam arah hidup yang sama, ikut tinggal di rumah neneknya, memicu sejumlah konflik konyol antara mereka.
Keberadaan Miša, karakter cerdas yang diperankan oleh Michaela Kostková, membawa warna baru bagi kehidupan Andrej. Meski awalnya terlihat tidak mungkin, Miša mampu melihat sisi baik dari karakter santai dan “kacau” Andrej. Namun, saat hubungan mereka mulai terbangun, Andrej dengan canggung merusaknya. Dari sini, film memperlihatkan perjalanan perbaikan romansa yang tak mudah, diselingi dengan karakter lain seperti adik Miša yang naif dan ayahnya yang suka meramalkan kiamat.
Bagi Buchelová, humor dan kejenakaan bukanlah hal yang klise. Dia mampu menanggapi isu-isu generasi muda dengan cara yang lebih mendalam. Percakapan dalam film ini terasa nyata dan sering kali membuat penonton tersenyum sambil merasa sedikit tidak nyaman, menciptakan kedekatan yang emosional. Dengan pengambilan gambar yang lincah dari Adam Mach, nuansa film ini seolah menangkap spontanitas zaman sekarang, terutama bagi mereka yang dibesarkan di era digital dengan berbagai tantangan politik dan sosial.
Performa Andrej oleh Adam Kubala juga sukses memberikan kesan konyol namun menyentuh. Dia tidak hanya dijadikan bahan tertawaan, melainkan karakter yang bisa dipahami. Saat dia terdiam sambil menatap TV pagi dan menikmati buah ceri dari toples, kita bisa merasakan bagaimana hidupnya tidak seindah itu. Hubungannya dengan Miša pun terasa hidup, berkat pendalaman karakter yang dilakukan Kostková, menjadikan Miša bukan sekadar karakter pendukung, melainkan sosok yang kompleks dan cerdas.
Dengan segala keunikan dan nuansa manis yang dimilikinya, “Lover, Not a Fighter” berhasil menghindari formula komedi romantis yang sudah jamak. Ada momen-momen kejujuran dalam film ini yang menyoroti ketidakpuasan generasi muda saat ini. Saat Pet’o berbicara blak-blakan kepada Andrej, pernyataannya meski keras, memperlihatkan sisi kemanusiaan yang mendalam. Ini adalah film yang tidak hanya menggelitik tetapi juga memberikan pandangan tentang kehidupan yang nyata.
Wajib Dinanti Nggak Nih?
Kayaknya bakal seru banget kalau “Lover, Not a Fighter” jadi tren di antara film-film komedi romantis yang lain. Dengan karakter yang relatable dan humor yang unik, ini bisa jadi film wajib tonton untuk semua generasi. Semoga aja, pengalaman Andrej dan Miša bisa menginspirasi penonton untuk menemukan arah yang lebih baik dalam hidup mereka, tentunya dengan penuh canda tawaan!




