Paus Leo XIV baru saja meluncurkan seruan penuh semangat untuk mengatur Kecerdasan Buatan (AI), mengingatkan bahwa “algoritma yang tidak transparan,” yang dikendalikan oleh segelintir perusahaan besar, bisa membawa “bentuk-bentuk baru dehumanisasi.” Ini adalah panggilan yang tidak bisa diabaikan di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat.
Dalam ensiklik terbarunya yang dinanti-nanti, berjudul “Magnifica Humanitas” — ensiklik adalah bentuk komunikasi klasik dari Vatikan — Paus Leo juga memperingatkan bahwa sangat penting agar AI tidak tetap ada di tangan “segelintir orang saja.” Dia menekankan bahwa teknologi AI baru-baru ini digunakan selama Perang AS-Israel melawan Iran, yang semakin memicu kekhawatiran tentang dampak jangka panjangnya.
Paus menambahkan bahwa revolusi teknologi yang sedang berlangsung ini tidak boleh didorong oleh “pengabdian pada keuntungan.” Ini menunjukkan betapa pentingnya etika dalam pengembangan teknologi yang berpotensi mengubah cara manusia berinteraksi satu sama lain dan dunia di sekitar mereka.
Biasanya, para paus tidak hadir secara fisik saat mempersembahkan ensiklik mereka, tetapi Paus Leo mengambil langkah yang tidak biasa dengan memperkenalkan “Magnifica Humanitas” langsung di Vatikan. Dia didampingi oleh Christopher Olah, pendiri pengembang A.I. ternama, Anthropic, serta sejumlah ulama dan teolog Katolik lainnya. Momen ini bukan hanya simbolis, tetapi juga menunjukkan keterlibatan langsung antara teknologi dan spiritualitas.
Selama setahun terakhir, Anthropic sudah mengadakan beberapa acara yang menyasar komunitas religius, mengundang pemimpin Kristen ke markas mereka untuk berdiskusi mengenai masalah spiritual dan pengembangan sistem AI mereka. Ini adalah langkah menarik yang menciptakan jembatan antara dunia teknologi dan keyakinan spiritual.
Di bulan Februari, CEO Anthropic, Dario Amodei, terlibat sengketa dengan Presiden AS Donald Trump dan Departemen Pertahanan AS saat dia menolak permintaan Pentagon untuk memberikan militer AS akses tanpa batas kepada asisten AI-nya, Claude. Ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara teknologi dan kekuatan politik saat ini.
“Kemanusiaan, yang diciptakan oleh Tuhan dalam segala kebesarannya, kini dihadapkan pada pilihan penting: membangun Menara Babel yang baru atau membangun kota di mana Tuhan dan kemanusiaan tinggal bersama,” ujar Paus Leo dalam kata pembuka ensikliknya. Posisinya ini mengeksplorasi dilema etis yang ada dalam pengembangan teknologi modern.
“Magnifica Humanitas,” yang dibagi menjadi lima bab, mengemukakan premis mendasar: teknologi bukanlah “kekuatan yang berlawanan dengan kemanusiaan, dan juga tidak “secara inheren jahat,” menurut outlet berita resmi Vatikan, Vatican News. Namun, “teknologi tidak pernah netral, karena ia mengambil karakteristik dari mereka yang merancang, membiayai, mengatur, dan menggunakannya.” Ini mengisyaratkan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab atas bagaimana teknologi digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pernyataan-pernyataannya yang mendalam, Paus Leo XIV berhasil mengingatkan kita semua akan pentingnya membangun sebuah masa depan di mana teknologi tidak hanya melayani kepentingan segelintir orang, tetapi juga membawa manfaat bagi umat manusia secara luas.





