Cate Blanchett baru saja ikut mendirikan sebuah perusahaan nirlaba baru yang bernama RSL Media. Perusahaan ini punya tujuan mulia, yaitu menyediakan kerangka konsensus manusia untuk penggunaan AI dalam karya kreatif, nama, gambar, dan kemiripan. Dengan tujuan ini, Blanchett ingin memastikan bahwa hak-hak para seniman dan kreator tetap dihormati di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
RSL Media didukung oleh banyak tokoh ternama, mulai dari Javier Bardem, George Clooney, hingga Meryl Streep dan Kristen Stewart. Mereka semua setuju akan pentingnya membangun standar yang jelas mengenai bagaimana seniman bisa berinteraksi dengan teknologi AI tanpa kehilangan hak atas karya mereka.
Di bulan Juni mendatang, RSL Human Consent Standard bakal diluncurkan. Ini adalah sebuah registrasi publik gratis yang memungkinkan siapa saja untuk menyatakan izin penggunaan karya mereka oleh AI. Ide dasar yang diusung adalah konsensus harus menjadi langkah pertama. Banyak sistem AI yang menggunakan ekspresi manusia dan karya kreatif tanpa meminta izin, dan RSL Media hadir untuk memecahkan masalah ini dengan mengubah konsensus manusia menjadi sinyal yang bisa dibaca oleh mesin.
Blanchett mengungkapkan bahwa “teknologi AI berkembang pesat tanpa regulasi yang jelas. Untuk memastikan manusia tetap di depan teknologi ini, konsensus harus menjadi prioritas utama.” Dia menjelaskan bahwa RSL Media adalah solusi sederhana dan efektif yang memungkinkan orang untuk mengontrol bagaimana karya mereka digunakan oleh AI, tidak hanya untuk tokoh publik tapi juga bagi semua seniman.
Nikki Hexum, co-founder dan CEO RSL Media, menambahkan, “AI tidak bisa menghormati hak yang tidak terlihat. Ini berarti konsensus manusia hampir tidak terdeteksi di era digital baru ini. Hak untuk menentukan apakah AI bisa menggunakan karya atau identitas seseorang seharusnya bukan hanya milik mereka yang mampu membayar pengacara, tapi menjadi hak dasar manusia.” Dengan demikian, RSL Media diharapkan bisa memberikan pilihan yang jelas agar orang bisa menentukan syarat-syarat penggunaan karya mereka.
Melalui RSL Media, individu bisa memutuskan bagaimana identitas dan karya kreatif mereka digunakan oleh sistem AI, baik dengan syarat tertentu atau tidak sama sekali. Pilihan ini disajikan layaknya lampu lalu lintas. Selain itu, RSL Media memberikan cara universal bagi sistem AI untuk memahami konsensus, yang dapat memecahkan masalah kompleksnya sistem hak cipta saat ini.
Blanchett sudah lama vokal tentang bahaya yang ditimbulkan oleh AI. Dia sebelumnya ikut dalam kampanye anti-AI yang melibatkan 700 seniman, penulis, dan kreator, termasuk Scarlett Johansson dan Joseph Gordon-Levitt, yang menentang perusahaan teknologi yang mengeksploitasi karya berhak cipta tanpa izin.
Dengan peluncuran RSL Media, dukungan dari lebih banyak selebriti pun mulai berdatangan. Emma Thompson menekankan bahwa seni dan kreativitas budaya seharusnya tidak “dicuri” oleh AI. Menurutnya, “Secara alami, seniman dan kreator budaya akan terlibat dengan AI. Namun, saat ini, AI hanya mencuri dari kita semua. Inisiatif ini mendesak dan sangat penting.” Dia berharap langkah ini bisa diambil segera.
Sementara itu, Steven Soderbergh, sutradara yang juga memberi dukungan, bilang bahwa RSL Media menawarkan solusi untuk masalah serius dan caranya sangat sederhana serta bisa diandalkan. Dia ingin standar ini segera diadopsi demi kebaikan semua pihak.
Dame Helen Mirren berpendapat, “Seniman selalu terinspirasi oleh mereka yang datang sebelum mereka. Ini adalah bagaimana budaya berkembang dan mencerminkan masyarakat tempat mereka lahir. Setiap seniman paham betul ada perbedaan antara inspirasi dan imitasi.” Menurutnya, satu sisi adalah perpanjangan imajinasi, sementara yang lain justru jadi penghalang untuk berkarya.
Saat ini, mereka yang mau terlibat bisa mendaftar untuk mendapatkan ID konsensus dan menjadi mitra yang terpercaya. Pada bulan Juni, RSL Media siap meluncurkan registrasi publik gratis, dimana individu bisa mendaftar, memverifikasi identitas, dan menetapkan izin penggunaan atas karya mereka. Ini adalah langkah maju untuk melindungi hak-hak seniman di era digital!





