“Thrash,” seperti kebanyakan film thriller hiu lainnya, punya kualitas yang bikin kita merasa sedang menonton film semi kualitas Z. (Kecuali satu: “Open Water” yang brilian.) Semua yang ada di film ini, mulai dari serangan hiu yang menggigit dan menghujani gelombang dengan busa Hawaiian Punch, sampai cara seekor hiu putih raksasa menjemput ajalnya di akhir, keliatan banget terinspirasi dari gaya dan teknik Steven Spielberg. Tapi, film hiu, karena sifatnya yang klise (dan tentu saja, karena sutradara-nya bukan Spielberg), sering kali terasa membosankan dan terjebak. Tapi “Thrash” punya semangat yang bikin segar, dengan sedikit sentuhan orisinal yang dikemas dengan menarik.
Cerita ini berlangsung di kota kecil Annieville, S.C., yang langsung jadi sasaran badai super hebat di setengah jam pertama—badai yang kayanya ngalahin tsunami, lengkap dengan dialog konyol, “Kalau mereka pernah berpikir bikin Kategori 6, inilah dia! Ini monster!” Semua ini bagian dari pesan lingkungan film (badai dimulai sebagai Kategori 2 sampai akhirnya menyentuh suhu laut yang sangat hangat). Begitu Badai Henry membanjiri kota, penulis-sutradara, Tommy Wirkola, mengubah blok lingkungan yang terendam jadi panggung dunia air, mirip kolam raksasa dengan bagian atas rumah yang muncul di atas. Rumah-rumah ini jadi tempat perlindungan, tapi terus bergerak dan runtuh.
Badai ini juga membawa sekumpulan hiu banteng, yang lebih kecil dan cepat daripada hiu putih, tapi sama-sama rakus. Film ini enggak mau buang-buang waktu untuk ngasih kita momen-momen berdarah, yang disajikan kayak pembunuhan di film slasher. Jika dulu ketakutan jadi jantung dari thriller hiu, kini kita jadi penonton yang voyeuristik—kesempatan kita untuk menikmati momen saat hiu berpesta. Di film ini, hanya karakter-karakter yang kurang menarik yang dimangsa. Ini bagian yang bikin seru—pemikiran bahwa karakter tertentu pantes untuk kehilangan anggota tubuhnya.
Karakter yang paling menarik di “Thrash” adalah Lisa (diperankan oleh Phoebe Dynevor, dari “Fair Play”), bukan karena ada kompleksitas dalam penggambaran karakternya, tapi karena dia hamil—bukan cuma bakal melahirkan, tapi dia akan melahirkan selama film sambil berusaha terhindar dari hiu. Ini terdengar riskan, dan memang begitu, tapi begitu bayinya lahir, motivasi untuk melawan predator alam menjadi sangat kuat. Dia dibantu oleh Dakota (Whitney Peak), pahlawan muda lainnya di film ini, yang suatu saat melintasi atap terapung dan cabang-cabang rapuh, improvisasi akrobatik untuk bertahan hidup. Dakota, yang ibunya baru saja meninggal, diasuh oleh pamannya yang seorang ahli biologi kelautan, diperankan oleh Djimon Hounsou, sebagai ilmuwan-filsuf bencana di film ini.
Wirkola, yang berasal dari Norwegia, memang menyusun naskah yang cukup sederhana, tapi dia tahu cara memanfaatkan ruang. Dia menciptakan momen saat Ron (Stacy Clausen), seorang remaja anak angkat dari Oklahoma, berenang di ruang bawah tanah dengan hiu putih di belakangnya, dan momen itu terasa mengalir penuh ketegangan.
Meski begitu, sebagian besar kita akan melihat pembunuhan datang sesuai jadwal. Ini jelas film Netflix dan Chomp, cuma 80 menit (jika tidak menghitung kredit penutupan), dan durasi yang kompak ini bukan hanya bikin “Thrash” enggak bikin bosen. Ini juga bagian dari struktur film yang ramping—caranya memperlakukan seluruh jalan bawah air dan rumah-rumahnya seperti perahu hiu di babak terakhir “Jaws,” sebagai zona aman yang dengan cepat hancur. Ron dan dua saudaranya hidup dengan orang tua angkat yang penuh tipu daya (mereka makan steak di ruang bawah tanah sambil memberikan anak-anak mereka roti Wonder), dan saat Bob (Josh McConville), ayah yang sangat dibenci, mendapat balasannya, itu bukan lagi menakutkan—lebih menyerupai pornografi mutilasi. Dia adalah steak, di sini untuk memuaskan hasrat kita.




