RPG dunia terbuka kini jadi salah satu genre paling hit, memberikan kebebasan bagi pemain untuk menjelajahi dunia yang luas dengan segala tantangan, pertarungan, faksi, dan keputusan sulit. Game-game dalam genre ini kerap berhasil menciptakan sensasi bahwa setiap langkah bisa membawa pemain pada penemuan baru. Dalam satu dekade terakhir, ada beberapa judul yang jadi contoh ikonik, seperti The Elder Scrolls V: Skyrim dan The Witcher 3: Wild Hunt. Kedua game ini telah menginspirasi banyak developer untuk menciptakan dunia di mana keputusan pemain, suasana, dan eksplorasi memiliki arti yang sama pentingnya dengan pertarungan.
Salah satu contoh yang menarik perhatian adalah Drova: Forsaken Kin. RPG dunia terbuka ini jelas terinspirasi oleh The Elder Scrolls V: Skyrim dan The Witcher 3: Wild Hunt, namun banyak pemain yang melewatkannya karena tampilan seni pikselnya dan sudut pandang top-down. Padahal, di balik visual yang terinspirasi retro, ada RPG luar biasa dengan pembangunan dunia yang kuat, eksplorasi yang membahagiakan, pertarungan yang menantang, dan cerita yang tertulis dengan baik. Alih-alih meniru RPG sinematik modern secara langsung, Drova: Forsaken Kin mengadopsi filosofi desain RPG klasik sambil tetap terasa modern, mekanikal, dan unik.
Drova: Forsaken Kin Menangkap Semangat RPG Dunia Terbuka Klasik
Salah satu hal yang segera mencuri perhatian adalah bagaimana Drova: Forsaken Kin berhasil menciptakan rasa kebebasan yang sama seperti saat pertama kali menjelajahi dunia Skyrim. Alih-alih memaksa pemain mengikuti titik-titik tertentu di peta, game ini membiarkan dunia ada di sekitar kita. Selama beberapa jam pertama, saya bahkan lebih memilih untuk mengabaikan misi dan terdampar di hutan, gua, dan pemukiman yang terasa berbahaya, namun sangat menggoda untuk dieksplorasi. Setting fantasi gelap yang terinspirasi mitologi Celtic menciptakan dunia keras yang dibentuk oleh konflik politik, kekuatan kuno, dan kekuatan supranatural, di mana setiap daerah terasa terhubung dengan cerita yang lebih besar, bukan hanya dibuat untuk misi sampingan.
Sistem faksi juga mengingatkan pada RPG klasik yang mempercayakan pemain untuk membuat keputusan sulit tanpa hasil yang jelas benar atau salah. Suatu ketika, saya mendapati diri saya berpihak pada satu kelompok hanya karena idealisme mereka terdengar masuk akal, namun kemudian menyadari bahwa konsekuensinya jauh lebih rumit dari yang saya duga. Ambiguitas moral ini memberi dunia nuansa yang menarik, yang sering kali hilang dari RPG fantasi modern. Setiap faksi memiliki sejarah, prioritas, dan kekurangan masing-masing, membuat pilihan terasa bermakna ketimbang sekadar kosmetik.
Yang paling saya hargai adalah betapa sedikit Drova menggenggam tangan pemain. Game dunia terbuka modern sering kali membanjiri peta dengan ikon dan tutorial, tetapi Drova mempercayakan pemain untuk bereksperimen dan belajar dengan sendirinya. Saya masih ingat saat terjebak di area yang jauh di atas level saya dan langsung kewalahan dalam beberapa menit. Alih-alih merasa frustrasi, hal itu justru membuat dunia terasa otentik dan berbahaya. Kembali lagi dengan peralatan yang lebih baik dan berhasil bertahan dari pertemuan tersebut memberikan salah satu kepuasan terbesar dalam RPG yang saya alami dalam bertahun-tahun terakhir.
Gameplay dan Eksplorasi yang Mengejutkan Mendalam
Banyak pemain awalnya berasumsi bahwa Drova: Forsaken Kin adalah RPG yang lebih kecil atau sederhana karena gaya seni pikselnya, tetapi game ini jauh lebih ambisius dari yang terlihat. Pertarungan sangat bergantung pada waktu, posisi, manajemen stamina, dan persiapan ketimbang sekadar menekan tombol sembarangan. Diawal permainan, saya terlanjur menjelajahi area berbahaya dengan perlengkapan buruk dan langsung kewalahan, yang mengingatkan saya pada sistem progresi yang lebih keras di RPG lama. Kesulitan ini menciptakan ketegangan nyata saat eksplorasi karena setiap pertemuan terasa seperti hal yang perlu dipikirkan dengan seksama.
Progresi karakter juga sangat memuaskan karena game ini memberikan kebebasan besar dalam membentuk perkembangan karakter seiring waktu. Skill, peralatan, dan pilihan faksi memengaruhi bagaimana pertarungan dan eksplorasi berlangsung, sehingga progresi terasa personal, bukan linear. Saya terus menyesuaikan pendekatan tergantung pada musuh dan area yang saya jelajahi, yang membuat eksperimen menjadi sangat adiktif. Penggemar RPG dengan sistem progresi fleksibel pasti akan menghargai seberapa banyak kontrol yang diberikan Drova atas perkembangan karakternya.
Eksplorasi menjadi salah satu fitur terkuat game ini. Jalur tersembunyi, cerita lingkungan, reruntuhan berbahaya, dan pertemuan opsional terus-menerus memberikan imbalan bagi rasa ingin tahu yang ingatkan saya saat menjelajahi jalan-jalan di The Witcher 3. Beberapa kali, saya berniat mengikuti misi utama tetapi malah menghabiskan satu jam lebih untuk menjelajahi gua atau menyelidiki reruntuhan mencurigakan karena dunia terus menarik saya lebih dalam. Visual seni pikselnya juga pantas mendapatkan lebih banyak penghargaan, dengan hutan, desa, dan reruntuhan kuno yang rinci menciptakan atmosfer gelap yang membuat penemuan terasa sangat memuaskan.
Cerita dan Penulisan yang Lebih Baik dari yang Diantisipasi Banyak Pemain
Salah satu kejutan terbesar dalam Drova: Forsaken Kin adalah betapa kuatnya penulisan yang disajikan. Banyak RPG indie yang fokus hampir sepenuhnya pada sistem permainan, tetapi Drova berinvestasi besar dalam pembangunan dunia, dialog, dan interaksi karakter. Ceritanya mengeksplorasi tema-tema seperti kekuasaan, bertahan hidup, sistem kepercayaan, dan hubungan manusia dengan kekuatan kuno, sementara faksi-faksinya tidak terasa sepenuhnya heroik atau jahat. Saya terus-menerus mempertimbangkan beberapa keputusan penting karena setiap kelompok memiliki motivasi yang dapat dipahami, membuat dunia terasa jauh lebih realistis dan mendalam dari yang saya harapkan.
Karakter dan dialog juga membantu membuat setting terasa hidup. Hubungan berkembang secara alami seiring berjalannya cerita, dan percakapan sering kali mencerminkan ketegangan politik dan budaya yang membentuk dunia sekitar. Yang paling mencolok adalah bagaimana nada fantasi gelap tidak pernah menjadi melelahkan atau terlalu sinis. Bahkan di tengah wilayah berbahaya dan konflik brutal, masih ada momen kecil kehangatan dan kemanusiaan yang memberi keseimbangan emosional pada cerita. Penulisan yang halus ini mengingatkan saya mengapa RPG kecil kadang lebih terasa mendalam ketimbang game AAA besar yang bergantung pada keajaiban sinematik.
Perbandingan dengan Skyrim dan The Witcher 3 terasa wajar karena Drova menangkap banyak perasaan yang membuat game tersebut tak terlupakan: menjelajahi tanah berbahaya, mengungkap kisah tersembunyi, membentuk karakter, dan navigasi faksi yang kompleks secara moral. Namun, game ini tidak pernah terasa seperti imitasi simpel. Pengguna akan menghargai seberapa percaya dirinya game ini merangkul identitasnya sendiri tanpa berusaha mengejar tren RPG yang lebih besar. Dengan menggabungkan desain RPG klasik dengan cerita modern dan sistem eksplorasi, Drova: Forsaken Kin dengan tenang menjadi salah satu RPG fantasi paling underrated yang pernah saya mainkan dalam bertahun-tahun.





