Film “My Sad Dead” yang disutradarai oleh Pablo Larraín adalah karya yang penuh dengan nuansa kelam namun juga dibalut absurd yang menggelitik. Film ini kaya akan lapisan cerita, mulai dari kisah hantu hingga satir tajam tentang kehidupan modern di Argentina. Dengan karakter-karakter yang konyol namun menyentuh, Larraín berhasil menggambarkan kehidupan di lingkungan urban yang keras dan penanganan isu sosial yang mendalam.
Tokoh utama, Ema (diperankan oleh Mercedes Morán dengan sangat brilian), adalah jantung dari cerita ini. Meski kemarahannya telah bertransformasi menjadi bentuk pasrah yang kuat, matanya tetap menyimpan sedikit cahaya humor di tengah keletihan hidupnya. Ema adalah sosok yang unik; dia tidak bisa tidur nyenyak karena terpaksa mendengarkan jeritan hantu yang hanya bisa dia dengar.
Ada juga latar belakang yang tragis di balik kehidupannya. Ema, seorang dokter yang terpaksa pensiun akibat keputusan sulit terkait perawatan COVID, kini kembali ke Piedrabuena untuk merawat ibunya yang sudah lansia. Ketika Ema memegang tangan ibunya yang sedang sekarat, momen ini menjadi sangat dramatis—ibunya yang sudah meninggal tiba-tiba membuka mata.
Film ini tidak terjebak dalam efek yang berlebihan untuk menunjukkan kematian. Penggunaan palet warna yang tidak biasa, dengan dominasi abu-abu dan pink, memberikan kesan visual yang haunting. Semua karakter yang hidup maupun “setelah hidup” memiliki aura yang sama, seolah mereka semua berada di ruang tunggu rumah duka.
Meski Ema berusaha mengabaikan kehadiran hantu-hantu ini, hidupnya berubah ketika saudara perempuannya, Lidia (Alejandra Flechner), dan putrinya Julia (Carolina Álvarez) datang dari Seattle. Julia, remaja yang tertekan, juga bisa berkomunikasi dengan arwah. Namun, interaksi Julia dengan hantu terasa lebih intim dan menggelikan, karena ia menemukan kepuasan dengan roh-roh tersebut dengan cara yang bisa dibilang cukup tabu.
Desa Piedrabuena bukanlah tempat yang ramah. Komunitas yang terfragmentasi membuat warga lebih cenderung berkumpul untuk mengeluh tentang masalah sosial ketimbang membangun rasa solidaritas. Hal-hal gelap seperti kekerasan, bunuh diri, dan kematian mendominasi suasana, dan Ema sering kali tidak mampu mengubah kondisi ini—ia hanya dapat mengalihkan perhatian arwah-arwah ini agar mereka tidak terlalu mengingat rasa sakit saat meninggal.
Ketika pasokan air tercemar dan semua warga mendengar apa yang sebelumnya hanya bisa didengarnya, suara jeritan dan tembakan bergema di seluruh lingkungan. Ema seolah menjadi jembatan antara dunia hidup dan mati, meskipun film ini tidak menjurus ke arah misteri paranormal seperti serial TV kebanyakan. “My Sad Dead” tidak mencoba menjadi “Medium”; justru, esensi film ini benar-benar sinematik dan menawarkan banyak nuansa serta kedalaman cerita.
Larraín dan tim penulis telah berhasil menciptakan skrip yang kaya dengan berbagai kisah kecil di dalamnya, yang semuanya menyoroti sisi keras kehidupan dengan cara yang konyol dan ironis. Humor hitam di dalam film ini memberikan kebangkitan semangat meski temanya begitu gelap. Momen-momen yang tampaknya tragis justru menjadi indah, menciptakan keseimbangan yang unik antara pahit dan manis.
Reaksi AWverse
Film ini sepertinya bakal jadi pembicaraan hangat di kalangan penikmat film, mengingat kombinasi elemen horor dan komedi yang dihadirkan. Mempertimbangkan kedalaman cerita dan karakter yang relatable, “My Sad Dead” terasa seperti film yang akan membekas di ingatan penonton. Semoga saja film ini bisa membawa angin segar bagi pecinta sinema Indonesia, dan tidak sabar menunggu bagaimana respon penonton terhadap kisah unik ini!


