Ketika mencoba The Sinking City 2, sulit untuk tidak merasakan vibe Resident Evil yang kental. Mungkin terdengar sepele, tapi buat penggemar Resident Evil seperti banyak dari kita, perbandingan ini adalah pujian. Frogwares berhasil menyajikan pengalaman horor bertahan hidup yang kental dengan unsur Lovecraftian, mirip dengan Resident Evil 2 yang rilis ulang di 2019. Yang membuat game ini unik adalah setting New England pada tahun 1920-an yang kaya akan detail, bikin kita terbenam dalam dunia yang punya karakter kuat meski mekanik yang digunakan terbilang familiar.
Di sini, pemain berperan sebagai Calvin Rafferty, seorang okultis yang terbangun dari mimpi buruk banjir apokaliptik yang mengancam kota Arkham, Massachusetts, di tahun 1929. Calvin memang sedikit klise sebagai karakter—berani, tangguh, dan punya jiwa detektif. Tapi, ada banyak kedalaman yang bikin karakter ini lebih menarik. Mengaitkannya dengan pahlawan klasik genre horror bukanlah hal yang buruk, justru ini menambah daya tarik.
Plot menarik yang diusung berkisar pada ekspedisi misterius ke dalam dunia mimpi Lovecraft yang mengakibatkan kekasihnya, Faye, mengalami koma. Ini menambah lapisan emosional yang langsung terasa sejak awal, memotivasi pemain untuk terus maju meski bab pertama terasa lambat. Tanpa membongkar terlalu banyak kejutan, The Sinking City 2 juga kenyataannya adalah pengantar yang pas untuk mitos Cthulhu. Banyak karakter dari pria-pelindung menyuguhkan kedalaman yang bikin hati tergerak.
Berjalan melalui cerita ini, ada beberapa momen emosional dan twist yang bikin kita bertanya-tanya tentang motif karakter-karakter tertentu, tapi tenang, alur ceritanya cukup mudah diikuti. Kita nggak perlu lihat video penjelasan tentang akhir cerita setelah bermain, dan itu adalah nilai plus. Meski demikian, game ini tetap berani memunculkan tema-tema berat dari pandangan Lovecraft, bikin kita merasa ada makhluk yang lebih besar dari sekadar yang bisa dipahami manusia.
Kota Arkham adalah pusat dari petualangan ini, menyajikan latar yang lembap dan terabaikan untuk dieksplorasi dan berkelahi. Detil pada tekstur dan desain suara sangat menarik, sampai-sampai bikin merinding bahkan saat panasnya musim panas di Colorado. Setiap sudut kota dipenuhi dengan detail kecil yang bikin pengalaman eksplorasi terasa hidup, meski cutscene dan animasi wajah kadang kurang maksimal. Namun, suara pengisi suara yang oke bikin cerita ini tetap terasa kuat.
Setiap bab membawa kita ke lokasi baru di Arkham, dan setiap tempat terasa berbeda baik dalam suasana maupun tata letak. Dimulai dari jalanan kota yang terendam, kita berlayar ke reruntuhan dan berakhir di sebuah hotel berhantu yang bikin merinding. Bab kedua yang paling menyeramkan terjadi di rumah sakit terbengkalai, menghadirkan karakter stalker tak terhentikan ala Mr. X dan Nemesis. Bab ketiga membawa kita ke Pasar Ikan Arkham, yang sangat sesuai jika kita kenal dengan karya Lovecraft, tentunya sangat buruk bagi Calvin dalam cara yang menyebalkan.
Dalam hal mekanik, The Sinking City 2 sangat terinspirasi oleh Resident Evil modern. Calvin bisa mengumpulkan senjata, tapi jangan harap untuk mendapatkan peluru yang cukup. Ini bikin kita harus mencari-cari setiap sudut demi mendapatkan amunisi. Pertarungan jarak dekat pun bukan pilihan terbaik. mencampurkan diri dengan musuh mirip zombie bisa berisiko membuat kita terluka, sehingga memilih untuk menghabiskan item penyembuhan jadi pilihan bijak. Calvin mungkin tidak setangguh hero-hero legendaris, tapi dia seimbang dan cukup bisa dipercaya.
Sistem akuntabilitas dan kontrolnya sangat mirip dengan Resident Evil. Ada teka-teki yang mengharuskan kita mencari barang tertentu untuk membuka pintu, serta bisa mengumpulkan herbal untuk dibuat menjadi barang penyembuh. Ada sistem prestasi yang menawarkan keuntungan dalam mode New Game+ mirip dengan game Resident Evil yang lebih baru. Jadi, kendati mirip, Frogwares memang berhasil membuatnya terasa berbeda dengan elemen-elemen yang menarik.
Salah satu fitur menarik adalah sistem rune yang bisa kita akses, memberikan bonus saat kita berhasil bermain dalam kegelapan—ini bikin kita merasa lebih berani saat menghadapi musuh. Selain itu, ada juga petunjuk tertulis yang bisa kita temukan dan dihubungkan dengan benang merah seperti papan konspirasi. Menghubungkan petunjuk dengan benar memberi kita poin progres yang bikin kita semakin maju dalam cerita.
Meski tantangan puzzle cukup ringan dan ada sedikit pengulangan dalam pencarian petunjuk, tidak ada mekanisme kebingungan yang seharusnya ada dalam game bertema Cthulhu. Beberapa momen terasa aneh, tapi tidak pernah ada keraguan apakah pengalaman Calvin nyata atau tidak. Ini sedikit mengecewakan sebagai penggemar genre horror.
Reaksi AWverse
Kayaknya, The Sinking City 2 ini bikin kita nggak sabar karena kombinasi antara horror dan narasi yang kuat. Meski terinspirasi dari Resident Evil, ada keunikannya sendiri yang bikin penasaran untuk terus bermain. Semoga aja, ketika game ini rilis, kita bisa merasakan pengalaman yang sesuai dengan ekspektasi!

