It Ends adalah judul film horor yang bikin merinding. Nama yang singkat dan langsung ini, hasil karya penulis-sutradara Alexander Ullom, seakan mengundang rasa cemas yang membuat pikiran melayang ke berbagai arah. Setelah diputar perdana di SXSW 2025 dan sempat hadir di Letterboxd Video Store, hype untuk film ini semakin menggunung menjelang rilis di bioskop nasional oleh NEON. Dan tenang saja, film ini benar-benar memenuhi ekspektasi. It Ends (2025) menyuguhkan penampilan natural yang dipadukan visual minimalis yang kuat, menciptakan mimpi buruk eksistensial yang sesungguhnya. Di tahun yang sudah penuh dengan film sejenis, Ullom berhasil mengungkap rasa horor yang sama sekali baru.
Kisahnya sederhana namun menarik. Empat teman yang sudah lama tidak bertemu — James (Phinehas Yoon), Day (Akira Jackson), Fisher (Noah Toth), dan Tyler (Mitchell Cole) — memutuskan untuk melakukan perjalanan. Setelah berbelok ke jalan yang menuju ke hutan dalam, mereka menyadari bahwa jalan raya yang seharusnya mereka capai jauh sebelumnya sudah menghilang dari pandangan. Ketika berbalik, jalan yang mereka lalui sebelumnya pun telah lenyap, bikin mereka terjebak di jalan buntu.
Saat terhenti, mereka diserbu oleh sekumpulan orang yang berusaha masuk ke mobil mereka. Setelah menginjak gas, perjalanan ini berlangsung selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, di mana mereka terkurung di jalan hutan tanpa akhir sambil berjuang mempertahankan kewarasan.
‘It Ends’ Menampilkan Karakter Protagonis yang Digarap Dengan Baik
Dalam film horor yang hanya memiliki empat karakter utama ini, penting banget supaya mereka entertaining dan bisa bikin penonton terhubung. Naskah Alexander Ullom dan penampilan dari setiap anggota pemeran inti memberikan dimensi yang jarang ditemukan di film horor modern. James yang diperankan Phinehas Yoon berusaha mencari logika di sekitarnya, Fisher yang diperankan Noah Toth ceria tapi kadang keterlaluan, Day yang diperankan Akira Jackson seringkali menyurut ke dalam dirinya sambil mendengarkan pendapat orang lain, dan Tyler yang diperankan Mitchell Cole bahkan terlalu sederhana. Semua karakter ini terasa nyata, tersatukan oleh perasaan terjebak dalam hidup tanpa bisa menghadapinya.
It Ends membuat perasaan bersama itu sangat jelas sehingga menciptakan ketegangan terus-menerus kapan masing-masing individu, dan grup teman ini, akan meledak. Ullom menciptakan situasi tekanan tinggi yang menyelami rasa sakit ketika orang-orang menjauh, namun mereka tidak tahu harus melangkah ke mana. Dinamika yang rumit pun muncul. Misalnya, Day dan Fisher ingin menjaga suasana tenang, sementara Tyler menyimpan rasa kesal kepada James yang seolah menjauhi mereka. Di sisi lain, James tampaknya siap untuk pergi jauh dari kelompok itu. Semua orang berada di ambang perubahan dan dipaksa untuk menghadapinya dalam realitas baru yang menyiksa.

Alexander Ullom Menemukan Horor Dalam Eksistensialisme
Karakterisasi yang kuat dan penuh rasa sakit dalam dinamika yang ada bikin penonton juga merasakan horor mendalam dari jalan yang tak ada ujungnya. Sinematografer Evan Draper dan Jazleana Jones menampilkan pendekatan yang realistis, menjadikan jalan dua jalur yang dikelilingi pepohonan tampak seperti jalan biasa. Awalnya, bagian dalam mobil terasa nyaman, selaras dengan suasana tenang di sekitarnya. Melalui sudut pandang kreatif, seperti fokus pada aspal dan hamparan pohon yang tiada henti, perjalanan estetis ini berubah menjadi neraka yang sempit di mana apapun yang berbeda akan jadi sejuk.
Keterpurukan situasi dalam It Ends dibantu oleh bagaimana Ullom menetapkan aturan dari jalan raya tanpa akhir ini. Ada elemen supernatural, di mana mobil bisa terus melaju meski bensin sudah habis. Begitu pula, para karakter tak perlu makan atau minum untuk bertahan hidup. Mereka terus mempertanyakan apakah mereka berada di purgatory atau semacam kehidupan setelah mati; melihat mereka mencoba memahami situasi dan merumuskan aturan untuk grup — seperti waktu untuk teriak, musik, dan curhat, serta menghitung waktu berhenti untuk melihat seberapa cepat kerumunan muncul — sungguh menarik.

Rasa Horor yang Berbeda dan Mengena untuk 2026
Pada akhirnya, daya pikat terbesar dari It Ends adalah bagaimana film ini menggali horor dari pemikiran tentang jalur hidup yang bisa diambil. Ketika terperangkap tanpa ujung, apakah kita mencoba menikmati apa yang ada atau melakukan pencarian seperti James yang mulai gila, berharap ini semua punya makna dan ada cahaya di ujung terowongan? Atau mungkin, memilih bergabung dengan yang terjebak di hutan adalah jalan terbaik?
Perjalanan dalam It Ends bisa ditafsirkan dalam berbagai cara. Ini bisa jadi metafora umum untuk hidup, keseimbangan kerja-hidup, atau pergeseran hubungan dengan orang-orang terdekat. Intinya adalah ketakutan bukan hanya tentang bertambah tua, tetapi juga menghadapi rasa sakit hidup. Seperti judulnya, It Ends. Namun, pengaruh film ini pada penonton kemungkinan tidak akan berakhir. It Ends adalah debut yang penuh pemikiran dan menggugah dari Alexander Ullom yang mungkin tidak sekeren film horor lain tahun ini, seperti Backrooms atau Obsession, tetapi memberikan rasa horor yang lebih mendalam dan berkesan daripada yang pernah ada dalam waktu lama.
Opini Kita
Kayaknya bakal seru banget kalau ulasan horor ini diadaptasi ke dalam film Indonesia. Dengan tema yang relatable, penonton di sini bisa merasakan kengerian yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Semoga aja saat rilis, It Ends bisa jadi hype yang bener-bener menarik perhatian para pencinta film horor di Tanah Air!

