Lebih dari empat dekade lalu, dunia serial Shonen berubah selamanya saat Dragon Ball karya Akira Toriyama pertama kali muncul di majalah Weekly Shonen Jump. Séries ini meninggalkan jejak permanen di industri sebagai salah satu franchise paling ikonik dalam sejarah Shonen dan menjadi salah satu serial paling berpengaruh sepanjang masa. Dragon Ball bukan hanya menyuguhkan pertarungan yang mendebarkan, tetapi juga memperkenalkan karakter-karakter yang tak terlupakan sepanjang perjalanan ceritanya.
Transformasi yang dibawa Dragon Ball kepada genre Shonen sangatlah besar, melahirkan banyak serial ikonik seperti One Piece, Naruto, dan Bleach. Anime adaptasi yang dirilis tahun 1986 ini menjadi fenomena global. Sejak saat itu, franchise ini meluncurkan berbagai spin-off, sekuel, seri anime, film, bahkan adaptasi video game. Meskipun tidak ada satu pun seri yang mengecewakan dari adaptasi manga, anime original kadang kala kurang mendapat sambutan hangat. Salah satu contohnya adalah Super Dragon Ball Heroes, yang jadi salah satu seri terburuk yang pernah ada. Seri ini berakhir dua tahun lalu, dan mungkin belum banyak yang menontonnya.
Super Dragon Ball Heroes Tetap Jadi Seri Terburuk dalam Franchise
Ketika Super Dragon Ball Heroes diluncurkan pada tahun 2018, serial ini langsung jadi sorotan, tapi sayangnya, karena alasan yang salah. Dipandang sebagai spin-off dari Dragon Ball Super, cerita ini berlangsung di waktu yang sama. Selama enam tahun, anime ini merilis 56 episode dan berakhir pada 8 Agustus 2024. Serial ini bertujuan untuk mempromosikan permainan kartu dan video dengan nama yang sama sambil mengadaptasi arc Prison Planet dari permainan tersebut. Ceritanya berlangsung setelah Tournament of Power, saat Fu, karakter asli dari game, menculik Future Trunks untuk menarik Goku dan Vegeta ke Prison Planet.
Fu pun menciptakan area eksperimental dan mengumpulkan para pejuang kuat dari berbagai planet dan era, memerangkap mereka dalam kompetisi yang aneh di mana mereka harus mengumpulkan Dragon Balls Spesial jika ingin melarikan diri dengan hidup-hidup. Serial ini sering dikritik karena lebih mengutamakan fan-service dan pemasaran daripada plot yang koheren, membuat penggemar sangat kecewa.
Kualitas animasi juga sangat buruk, yang bikin dunia yang dibangun dalam cerita ini jauh dari harapan. Lima puluh episode pertama menggunakan animasi 2D dari Toei Animation, namun studio ini kemudian digantikan oleh Dimps untuk sisa episode, dan menggunakan 3DCGI dengan model serta aset dari game arcade Super Dragon Ball Heroes. Meskipun sudah bertahun-tahun sejak perilisan anime ini, kamu nggak ketinggalan apa-apa meskipun belum sempat menontonnya.
Reaksi AWverse
Jujur, ini adalah salah satu pengumuman yang paling ditunggu-tunggu untuk dibahas di kalangan penggemar. Mungkin kita semua berharap ada kejutan yang bikin Super Dragon Ball Heroes muncul dengan cara yang lebih menarik, tetapi kenyataannya, terutama dengan animasi dan ceritanya yang kurang memuaskan, ini bikin kita semua merindukan momen-momen epic dari Dragon Ball klasik. Semoga aja, di proyek-proyek ke depan, kita bisa melihat bagaimana Toei Animation mengubah kembali arah cerita ke dalam tingkatan yang lebih baik!

