Setiap penggemar animasi pasti pernah membayangkan kehadiran kembali film Who Framed Roger Rabbit. Karya Robert Zemeckis tahun 1988 ini hingga kini dianggap sebagai standar emas untuk film hybrid antara live-action dan animasi—sebuah prestasi teknis yang seolah mustahil, dibalut komedi abadi dan sihir sinematik yang tulus. Banyak film berupaya menangkap keajaiban yang sama, dengan berbagai tingkat keberhasilan. Looney Tunes sendiri sudah mencicipi beberapa percobaan, mulai dari Space Jam (1996) dan sequelnya di tahun 2021, hingga Looney Tunes: Back in Action (2003) karya Joe Dante. Sekarang, setelah perjalanan yang penuh liku menuju layar lebar, Coyote vs. Acme (2026) mendapatkan kesempatan untuk bersinar.
Menariknya, film yang mengangkat tema ketekunan dan menolak menyerah ini juga harus melalui banyak perjuangan agar bisa tayang di bioskop. Sama halnya dengan The Day the Earth Blew Up: A Looney Tunes Movie yang juga beruntung mendapatkan kesempatan tayang setelah diselamatkan dari “kuburan korporat” oleh Ketchup Entertainment. Coyote vs. Acme berhasil selamat dari perjalanan yang mencengangkan dan terbukti menjadi proyek Looney Tunes yang layak diselamatkan. Kedua film ini bertransformasi dari hampir menjadi penghapusan pajak untuk CEO Warner Bros. Discovery, David Zaslav, menjadi kisah underdog yang menginspirasi.
Wile E. Coyote Menggugat Acme
Film ini disutradarai oleh Dave Green, yang sebelumnya dikenal lewat Earth to Echo (2014) dan Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows (2016) yang menunjukkan kemampuannya memadukan live-action dengan karakter digital. Coyote vs. Acme memiliki premis yang sangat menarik. Setelah bertahun-tahun produk Acme gagal mengantarkan keberuntungan dan hanya membuatnya terjebak dalam berbagai situasi konyol, Wile E. Coyote akhirnya memutuskan untuk menggugat perusahaan Acme.
Film ini langsung menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang terjadi di Acme. Pembukaan film yang melibatkan ilmuwan kartun misterius, Dr. Lorre, serta Tweety Bird (Eric Bauza), mengisyaratkan bahwa perusahaan ini lebih berbahaya daripada sekadar menjual gadget cacat kepada coyote yang sangat gigih. Penonton kemudian melihat Wile E. beraksi, mencoba menangkap Road Runner dengan berbagai produk Acme yang selalu gagal—dari sepatu roket hingga perangkap lem. Puncak dari semua usaha ini membuat Coyote muak. Setelah bertahun-tahun mengalami kegagalan, dia merasa sudah cukup memiliki bukti kuat untuk membawa masalah ini ke pengadilan.
Si Kecil vs. Megakorporasi
Di saat yang sama, penonton diperkenalkan pada Kevin Avery (Will Forte), seorang pengacara yang sedang terpuruk dan menerima kasus Coyote karena butuh pekerjaan. Keponakannya yang ceria, Paige (Lana Condor), langsung melihat potensi klaim Wile E., terutama karena firma hukum kecil mereka di Albuquerque, New Mexico, di ambang kebangkrutan. Jika mereka bisa membuktikan bahwa Acme selama ini menjual produk cacat dengan sadar, mereka bisa menarik perhatian Mahkamah Agung dan memberi suara bagi kartun lain yang juga mengalami kerugian dari perusahaan tersebut.
Setup ini berubah menjadi kisah klasik perlawanan si kecil melawan kekuatan besar, di mana si kecil dalam cerita ini adalah coyote kartun yang bisu. Acme menjawab gugatan Wile E. dengan mengirimkan pengacara Buddy Crane (John Cena), yang percaya diri berlebihan dan konon belum pernah kalah dalam satu kasus pun. Cena tampil luar biasa dalam perannya, dengan kemampuannya memerankan karakter yang menghadapi situasi konyol dengan serius. Selain itu, aktor veteran Luis Guzmán menjadi pilihan yang tepat sebagai hakim, sementara Foghorn Leghorn (Eric Bauza) sebagai juru bicara korporat Acme menambah kesan konyol yang sangat disukai dalam film ini.
Menampilkan Kartun di Dunia Nyata
Salah satu tantangan terbesar dari Coyote vs. Acme adalah pendekatan animasi 3D yang bertujuan meniru penampilan 2D klasik. Ini adalah teknik umum yang juga digunakan dalam proyek lain seperti Chip ‘n Dale: Rescue Rangers (2022) dan Tom & Jerry (2021). Meskipun tidak akan sepenuhnya memiliki pesona animasi tangan, pelaksanaan di film ini sangat baik.
Yang lebih penting, karakter-karakter ini tetap terasa seperti diri mereka sendiri. Wile E. Coyote adalah makhluk yang tanpa henti berusaha, kadang terlihat sedikit jahat. Ia mengalami berbagai jenis penyiksaan fisik—dari dipukul, dibakar, hingga rata dengan tanah—tapi tetap ada sisi yang menggemaskan dari karakternya. Keputusan untuk membuatnya bisu ternyata cemerlang, karena ketidakmampuannya berbicara tidak menghalanginya untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan dan rasakan melalui tulisan tangan.
Petualangan Looney Tunes yang Mengejutkan Manis
Hubungan Wile E. dengan Kevin perlahan-lahan menjadi inti cerita. Kevin adalah pria yang sudah kehilangan harapan dan merasa tidak mungkin melawan korporasi besar, sementara Wile E. telah berjuang untuk mencapai tujuan yang sama tetapi terus-menerus gagal. Ia selalu bangkit kembali setelah setiap kegagalan, memberi semangat yang tak terduga. Pesan film ini sederhana namun mendalam: kadang-kadang, kegagalan jutaan kali tidak berarti kita berhenti berusaha.
Will Forte dan Lana Condor memberikan penampilan solid yang semakin mengesankan saat kita menyadari mereka berakting melawan karakter dan properti yang tidak nyata. Alur cerita yang melibatkan konspirasi korporat membawa Bugs Bunny (Eric Bauza) sebagai informan yang mencurigakan dan Daffy Duck sebagai korban dari eksperimen Acme yang gila. Ada satu momen menarik ketika Wile E. mengajak Kevin dan Paige melewati terowongan kartun yang ditangani dengan sangat baik oleh sinematografi Brandon Trost, sehingga membuat aktor nyata sepenuhnya merasa ada di ruang yang sama dengan karakter dan lingkungan yang seolah tidak ada.
Berusaha, Gagal, dan Berusaha Lagi
Efek teknisnya sangat mengesankan, tetapi Coyote vs. Acme menunjukkan bahwa semua keseruan ini hanya berguna jika karakter menjadi prioritas utama. Sutradara Dave Green dan penulis skenario Sammy Burch memperlihatkan cinta tulus mereka terhadap Looney Tunes dan sejarah yang telah terjalin selama puluhan tahun, dan itu terpancar dari setiap frame film. Tema besar tentang keserakahan korporat dan diskriminasi terhadap kartun terasa sangat relevan. Acme bukan lagi sekadar perusahaan yang menjual produk cacat; ia melambangkan mesin monopoli besar yang menganggap makhluk seperti Wile E. takkan pernah bisa melawan.
Walaupun Coyote vs. Acme tidak akan menggantikan Who Framed Roger Rabbit sebagai komedi live-action/animasi definitif, film ini berhasil memberikan sesuatu yang lebih penting bagi Looney Tunes sendiri: pemahaman akan alasan di balik daya tarik waralaba ini selama bertahun-tahun. Setiap lelucon, setiap gerak karakter, setiap coretan cat—dari yang digital hingga manual—berakar dari inspirasi yang jelas dan tulus.
Ironic Perfect dari ‘Coyote vs. Acme’
Wile E. Coyote mungkin tidak akan pernah menangkap Road Runner. Kevin mungkin juga tidak akan bisa mengalahkan korporasi besar seperti Acme. Kegagalan seolah sudah tertulis dalam DNA mereka. Namun, ada sesuatu yang indah ketika kita melihat mereka terus berusaha meskipun berbagai rintangan menghadang.
Setelah semua yang film ini alami sebelum berhasil ditayangkan, pesan di dalamnya terasa sangat ironic. Kadang kita harus tetap mengejar apa yang kita inginkan, meskipun semua produk Acme dirancang untuk membuat kita terjatuh dari tebing. Coyote vs. Acme mengalir dengan humor yang menghentak dan sikap yang tulus. Meski terhimpun dalam bentangan tantangan besar, film ini hadir dengan kreativitas yang memukau dan dedikasi dalam setiap frame.
Opini Kita
Kayaknya bakal seru banget kalau film ini bisa menghidupkan kembali keajaiban Looney Tunes di era modern! Dengan semua perjuangan dan perjalanan yang dilalui, semoga Coyote vs. Acme bisa menjadi bintang baru dalam jajaran film animasi yang tak terlupakan.
Coyote vs. Acme tayang di bioskop mulai 28 Agustus 2026!

