Roni Mahadav-Levin, bos dari Festival Film Yerusalem, baru-baru ini mengeluarkan surat terbuka yang mengajak para pembuat film Palestina untuk turut serta dalam edisi festival tahun depan. Dalam surat tersebut, dia menekankan pentingnya kesempatan bagi seniman untuk menjangkau publik di bioskop-bioskop kita.
Di festival tahun ini yang berakhir pada hari Minggu, Mahadav-Levin mengungkapkan, “Saat lampu di bioskop mati, penonton tidak hanya berasal dari satu latar belakang. Bioskop dipenuhi berbagai orang, baik Yahudi maupun Arab, warga sekuler dan religius, lokal sekaligus internasional. Selama beberapa jam, mereka bersatu oleh narasi yang sama di layar. Diskusi yang terjadi di lobi selepasnya, yang mengungkap kebenaran-kebenaran yang mungkin tidak nyaman atau berbagi momen empati mendalam, adalah fondasi bagi masyarakat yang tangguh. Di sinilah narasi ekstremis ditantang, di sinilah status quo diguncang.”
Festival Film Yerusalem edisi ke-43 dibuka pada 9 Juli dan berlangsung hingga 19 Juli. Meski ada seruan untuk memboikot semua institusi film yang terkait dengan Israel, sejumlah pembuat film Palestina dan Arab-Israel tetap ikut berpartisipasi di festival ini. Salah satunya adalah aktor Palestina, Ehab Elias Salami, yang tampil dalam film “Where To?” karya Assaf Machnes, dan berhasil menyabet penghargaan untuk penampilan terbaik. Selain itu, festival ini juga menayangkan kompilasi film pendek berjudul “All That Remains” yang disusun oleh enam pembuat film Palestina, yang dikurasi oleh Fadi Far.
Mahadav-Levin berharap lebih banyak lagi pembuat film yang mau berpartisipasi tahun depan. Dalam suratnya, dia menegaskan, “Boikot dan penarikan budaya tidak menghukum para ekstremis; justru memberi mereka kekuatan. Ironisnya, para ekstremis yang ingin mencensur seni dan para pemboikot yang berusaha menghalangi penonton untuk melihatnya justru berbagi kepentingan yang sama: sama-sama berusaha membungkam diskursus, mengisolasi publik, dan menjaga masyarakat tetap terpecah. Saat Anda menghalangi film Anda dari penonton tertentu, Anda justru melakukan pekerjaan para sensor.”
Mahadav-Levin juga menekankan bahwa keberadaan sinema dunia dan lebih dari tiga puluh tamu industri internasional yang memilih untuk berpartisipasi tahun ini bukan merupakan dukungan terhadap kebijakan keras pemerintah Israel, melainkan pengakuan akan kekuatan budaya, dialog, dan pertukaran artistik untuk melawan ekstremisme dan menjaga diskursus demokratis tetap hidup. “Ketika lampu mati di bioskop kami, penonton bukanlah sebuah monolit. Bioskop dipenuhi dengan keragaman,” ujarnya.
Dia juga memberi penekanan pada pentingnya seni untuk membangun empati dan mengatasi perpecahan. “Jika kita benar-benar memercayai nilai-nilai universal kemanusiaan, hak-hak sipil, dan kebebasan, kita harus mendorong penayangan sinema global di mana pun publik berada. Ini adalah jalur yang kuat untuk menciptakan empati dan perlawanan.”
Mahadav-Levin di akhir suratnya berharap supaya Israel, Palestina, dan seluruh wilayah ini segera menuju hari-hari yang lebih baik. “Tapi untuk mencapainya memerlukan keterlibatan yang berani, refleksi, dan seni, bukan kesunyian. Sekarang adalah saatnya untuk bersikap proaktif. Jadilah bagian dari perubahan ini. Beranilah. Suara Anda layak didengar,” pungkasnya.
Reaksi Kita
Surat terbuka ini mendorong kita untuk memikirkan kembali arti seni dan komunikasi lintas batas. Kayaknya bakal seru banget kalau lebih banyak pembuat film Palestina yang berani tampil di festival ini, biar suara mereka bisa didengar di tengah ketegangan yang ada. Semoga ajakan ini bisa direspons positif dan membawa semangat baru bagi industri film di kawasan ini.




