Sepertinya banyak yang berpikir kalau film Supergirl ini bikin perdebatan hangat di kalangan penonton dan kritikus. Semakin banyak yang menonton, semakin kuat juga perbedaan pendapat itu. Salah satu review yang ditunggu-tunggu datang dari nama besar di dunia game dan film, Hideo Kojima. Dan, jawabannya bener-bener bikin penasaran!
Kojima memberikan pandangannya mengenai film ini, terutama terkait dengan beberapa perbandingan yang dibuat antara Supergirl dan Mad Max: Fury Road. Namun, dia lebih melihat film ini sebagai sebuah kisah klasik yang bisa digambarkan dalam konteks The Good, the Bad and the Ugly. Di cuitannya di X, Kojima menulis, “Saya nonton ‘Supergirl’ di IMAX. Itu bukan ‘film superhero’ yang bikin heroik untuk menyelamatkan Bumi lewat pengorbanan diri di tengah konfrontasi ‘kebaikan’ dan ‘kejahatan.’ Ini lebih ke cerita pertumbuhan diri tentang bagaimana Kara menyelamatkan dirinya sendiri, saat dia berjuang dengan trauma yang dia alami. Secara struktur, rasanya lebih mirip dengan The Good, the Bad and the Ugly (1966), di mana para pahlawan, penjahat, dan penipu semua berkumpul.”
I saw “Supergirl” in IMAX. It wasn’t a “superhero movie” about saving the Earth through self-sacrifice as “justice” confronts “evil.” It was a coming-of-age story about saving oneself, Kara, as she struggles with her own trauma. Structurally, it feels less like “Mad Max: Fury… pic.twitter.com/GDDDKFRYaw
— HIDEO_KOJIMA (@HIDEO_KOJIMA_EN) June 28, 2026
Perbandingan Supergirl dengan The Good, the Bad and the Ugly Bikin Makin Terasa
Perbandingan ini memang bener-bener tepat karena film The Good, the Bad and the Ugly yang dirilis tahun 1966 ini mengikuti petualangan tiga karakter yang menunjukkan perbedaan mendasar antar mereka, serta apa yang terjadi ketika mereka bertemu dengan seseorang yang tidak terlalu menghargai kemanusiaan atau kehidupan demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Film ini berkisar pada cerita Blondie (Clint Eastwood), Tuco (Eli Wallach), dan Angel Eyes (Lee Van Cleef), yang semuanya mencari harta karun emas Confederate yang dicuri. Banyak dari film ini fokus pada perjalanan Blondie dan Tuco, dan keduanya menjadi tokoh utama pada berbagai titik, mirip dengan dinamika antara Supergirl dan Ruthye. Blondie dan Tuco memulai kolaborasi mereka, kemudian menjadi rival sebelum akhirnya mengembangkan hubungan yang lebih akrab, meski Blondie menghadirkan situasi yang penuh tipu daya sesuai dengan kepribadiannya dan nada film tersebut.
Kojima menunjukkan bahwa ini bukan hanya soal kebaikan dan kejahatan, tapi lebih pada perbedaan kecil yang memisahkan orang saat keadaan sudah sangat sulit. Meskipun Blondie dianggap sebagai ‘baik’ dalam skenario ini, dia tetap hidup di zona abu-abu, meskipun hatinya terlihat saat dia menciptakan pilihan. Ini jadi perbandingan yang menarik, apalagi dengan nuansa film barat yang memang cocok, karena penulis Tom King sudah pernah menyebutkan bahwa True Grit jadi inspirasi untuk cerita awalnya.
Kalau bicara soal yang akan datang, Supergirl bakal muncul lagi di Superman: Man of Tomorrow, dengan peran yang cukup besar. Film ini juga bakal menjadi debut Brainiac di DCU, yang pastinya bakal memaksa Superman bekerja sama dengan musuh terbesarnya, Lex Luthor. Kita lihat aja bagaimana peran Supergirl di film ini, tapi bayangin deh kalau ada momen yang menampilkan kuartet luar biasa antara Superman, Supergirl, Krypto, dan Lex Luthor yang menggunakan armor.
Supergirl sudah tayang di bioskop sekarang!
Opini Kita
Kayaknya bakal seru banget kalau kita bisa lihat interaksi antara karakter-karakter ini di Superman: Man of Tomorrow. Semoga aja film ini bisa membawa kedalaman dan nuansa yang sama seperti yang dibilang Kojima. Pasti ada banyak momen emosional yang mengejutkan dan bikin penonton penasaran tentang arah cerita kedepannya!




