Ketika berbicara tentang opera, sering kali cerita bukanlah hal utama yang dijual, dan itulah tantangan menarik yang dihadapi oleh film animasi Prancis terbaru berjudul “Viva Carmen.” Mengadaptasi kisah asli Georges Bizet tahun 1875 dengan mengurangi elemen musik demi fokus pada narasi adalah langkah yang berani. Mengubah kisah cinta berapi-api dan penuh konflik ini menjadi film anak-anak juga bikin penasaran. “Viva Carmen” meneruskan tradisi panjang penggambaran cerita ini, dari interpretasi postmodern Jean-Luc Godard hingga musikal township South Africa “uCarmen-eKhayelitsha,” dan bahkan hip-hopera yang dibintangi Beyoncé. Mungkin film ini bukanlah versi “Carmen” terpanas pernah ada di layar, tapi pastinya menggoda dengan warna-warninya yang mencolok.
Memang, “Viva Carmen” bisa dibilang sebagai lambang keberhasilan dalam hal gerakan, desain, dan yang paling penting, warna! Film ini cocok banget untuk semua anak imajinatif (atau yang masih merasa muda di dalam) yang hobi menghafal nama-nama warna Crayola dan bahkan bikin nama-nama warna baru. Banyak nuansa hangat dari aprikot, magenta, dan aubergine yang dituangkan oleh Sébastien Laudenbach (berkolaborasi dengan desainer grafis Cyril Pedrosa). Palet warna yang dipilih ini jelas menggambarkan intensitas suhu dan gairah Andalusia di abad ke-19, dan paduan warna ini fleksibel, mengikuti alur cerita yang bergerak dari siang ke malam. Pemandangan dalam film ini tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga mengalir begitu alami berkat gaya desain karakter minimalis dan sapuan kuas yang tegas dari Laudenbach—siapa pun yang melihat film breakthrough-nya, “Chicken for Linda!” pasti akan langsung mengenali gayanya.
Film sebelumnya yang disutradarai bersama Chiara Malta ini berhasil menyentuh hati penonton, terutama lewat kisah hangat antara ibu dan anaknya serta visualnya yang penuh blok warna yang mencolok. Meskipun “Viva Carmen” mengadaptasi tragedi asli Bizet dari sudut pandang anak, film ini terasa kurang menyentuh, namun daya pikat visualnya tetap menjadi daya tarik utama. Setiap frame begitu indah, dengan ritme gerakan yang membuatnya terasa seolah digambar secara spontan di depan mata kita. Setelah tampil di festival Cannes dan Annecy, film ini pasti bakal memiliki profil global yang sebanding dengan film sebelumnya, yang berhasil dirilis di Amerika Serikat oleh GKIDS.
Naskahnya yang ditulis Santiago Otheguy menggali lebih dalam ke dalam konsep yang dikembangkan oleh Laudenbach dan produser Pierre-Henri Léon. Dia berani menggoyang-goyangkan cerita klasik ini, bahkan menciptakan tokoh baru: Salvador, seorang remaja yatim piatu yang bertahan hidup di jalanan keras Sevilla abad ke-19. Dia dilatih oleh Antonio, seorang pengasah pisau buta yang punya kemampuan unik melihat masa depan melalui bilah-bilahnya. Ketika Salvador bertemu dengan wanita Romani penuh semangat, Carmen, dia langsung terpesona. Ketika Antonio meramalkan bahwa Carmen akan mati di tangan kekasihnya, tentara ganteng José, Salvador bersama teman jalanannya, Belén, berusaha menggagalkan takdir itu.
Film ini memberikan perspektif feminis yang berbeda pada cerita aslinya. Walaupun tidak sepenuhnya menyelamatkan Carmen dari kekerasan patriarki, Belén justru muncul sebagai sosok pemimpin komunitas. Endingnya pun bukanlah kejahatan penuh gairah yang kelam, melainkan sebuah seruan untuk solidaritas di antara perempuan dan kelompok yang terpinggirkan. Meskipun fokus pada Salvador mungkin terasa sedikit aneh, apalagi ketika melihat bakat vokalnya yang menggoda dari Machado-Graner, kadang-kadang film ini tampak sedikit tersesat dalam cerita yang lebih besar, terjebak di antara drama dewasa dari sumber kisah dan petualangan ceria anak-anak yang mengelilinginya. Beberapa penonton muda mungkin akan sedikit bingung dengan elemen dewasa, tetapi “Viva Carmen” dengan cerdik menggambarkan realitas anak-anak yang beradaptasi dengan dunia orang dewasa dengan cara mereka sendiri.
Kalau pun ada momen-momen yang membuat penonton bingung atau kehilangan fokus, semuanya bakal tertutupi oleh keelokan animasi yang menyihir. Penonton akan tenggelam dalam hiruk-pikuk dan iklim keras kota terbakar ini berkat garis-garis tinta gelap dan kolam warna yang terasa seperti lukisan Gauguin. Musik yang digarap oleh Amine Bouhafa dan Isabelle Laudenbach, saudara perempuan direktur yang juga seorang gitaris flamenco, dengan cerdik menyisipkan potongan dan melodi dari komposisi Bizet yang sudah diolah menjadi lebih folk dan tidak terlalu meriah. “Viva Carmen” mungkin memberikan sedikit ruang bagi para puritan, tetapi tidak berusaha keras untuk menampilkan modernitas, melainkan lebih mengejar keajaiban cerita ala buku cerita yang dibuat dengan tangan.




