Obsesi Britania dengan cuaca ternyata bisa menjadi lebih dari sekedar guyonan nasional. Di film “Pressure”, drama Perang Dunia II yang terlihat menarik dan efisien ini, tidak eksplisit menyebut bahwa seorang ahli Meteorologi memenangkan perang, tetapi membuat penonton tidak keberatan jika mereka percaya demikian. “Ahli cuaca” yang dimaksud adalah Kapten James Stagg, seorang meteorolog ternama yang ditunjuk sebagai Chief Meteorological Officer untuk Operasi Overlord. Ia bertanggung jawab melaporkan kepada Jenderal Dwight D. Eisenhower tentang kapan waktu yang tepat untuk hari H. Jika terdengar kurang mendebarkan, coba bayangkan bagaimana cuaca Inggris yang tidak dapat diprediksi, ditambah dengan pesona Andrew Scott sebagai Stagg yang argumentatif, berdebat dengan Brendan Fraser sebagai Eisenhower mengenai kemungkinan hujan, seakan ribuan nyawa bergantung padanya—karena kali ini, memang demikian.
Pemasaran “Pressure” yang akan tayang di bioskop AS hari Jumat ini, agak mengejutkan karena lebih awal dari perilisan di Inggris, menekankan skala epik dramatisasi hari-H yang dipangkas. Namun, film garapan Anthony Maras ini lebih merupakan sebuah karya panggung, yang sebagian besar berlatar di markas militer Sekutu, di mana Operasi Overlord direncanakan hingga ke detil terkecil. Drama di dalamnya terbatas pada konflik verbal yang tegang di atas meja, peta, dan papan pengumuman. Jika saat menontonnya terlintas bahwa film ini cocok untuk panggung teater, itu bukan tanpa alasan—drama dengan judul sama yang ditulis oleh David Haig sukses di West End pada 2014, meskipun mungkin terlalu British untuk sukses di Broadway.
Di layar lebar, film ini juga sangat berhasil, berkat arahan Maras dan Haig yang menulis adaptasi ini. Mereka tidak berusaha keras untuk mengeksplorasi atau melebarkan narasi, melainkan menghormati skala dan konteks ironis dari karya asli, di mana nasib dunia bebas bergantung pada hal-hal kecil yang berada di luar kendali manusia, serta cara berbeda dalam merespons ketidakberdayaan tersebut. Menariknya, film ini memiliki durasi yang efisien selama 100 menit, cukup singkat untuk film perang berkualitas tinggi.
Ketika perhitungan Stagg menunjukkan badai besar akan menerpa pada 5 Juni 1944—hari yang diharapkan untuk pendaratan di Normandia—setelah periode tenang yang berkepanjangan, saran sederhana tapi mendesak yang ia berikan adalah menunggu satu hari. Meski semangat untuk bertindak berkobar, para petinggi militer yang terlibat, termasuk Eisenhower yang gelisah dan General Bernard Montgomery (Damian Lewis) dari Inggris, bertindak seolah-olah pria ilmu pengetahuan yang mungkin rasional ini secara pribadi telah mengkhianati misi.
Keceriaan muncul saat melihat para pemimpin perang yang biasanya perkasa ini hanya bisa terpukul oleh laporan cuaca sederhana, bahkan sampai tersulut amarah karenanya. Meski semua elemen di “Pressure”, mulai dari kerja ensemble yang serius hingga sinematografi halus Jamie D. Ramsay dan alunan musik mendebarkan dari Volker Bertelmann, berusaha mengagungkan peristiwa di layar, film ini justru terangkat oleh nada absurditas yang kontras.
Bukannya membantu, rekan Stagg dari Amerika, meteorolog kurang berpengalaman Irving Crick (Chris Messina), bahkan bersedia memanipulasi data cuaca demi memberikan informasi yang disukai atasannya—mengabaikan fakta. Meski berlatar lebih dari 80 tahun yang lalu, “Pressure” terasa relevan dengan iklim politik pasca-kebenaran di era Trump, di mana keahlian sering kali diragukan, dan kepemimpinan berarti otoritas tanpa pertanyaan.
Dari sisi lain, Eisenhower di sini tidak digambarkan sebagai sosok tiran. Penampilan Fraser yang menarik dan menggebu-gebu tetap menyisakan sedikit kerendahan hati dan ketidakpastian di masa depan presiden tersebut, bahkan saat dia merasakan tekanan dari momen itu. Dalam perannya sebagai sekretaris pribadinya, Kay Summersby, Kerry Condon diamanatkan untuk mengimbangi kekuatan pria-pria tersebut dan menangani ego mereka yang besar.
Namun, film ini jelas milik Scott yang selalu bisa diandalkan. Ia tidak mengambil jalan mudah untuk menggambarkan Stagg yang cemas dan tegang, memainkan karakternya dengan dingin yang sesuai dengan ramalan kelabu—tetapi juga memberikan integritas yang teguh, layak dipercaya dengan hidup kalian. Tidak ada kebahagiaan dalam merusak perayaan ini: Scott, serta “Pressure”, mengedepankan pentingnya perencanaan, mendengar, dan memilih pilihan yang bijak.




