Home Movie Apakah Penonton Film Masih Peduli dengan Majalah? Temukan Apa Kata Mereka!
Movie

Apakah Penonton Film Masih Peduli dengan Majalah? Temukan Apa Kata Mereka!

Share
Apakah Penonton Film Masih Peduli dengan Majalah? Temukan Apa Kata Mereka!
Share

Dalam momen ikonik di film “The Devil Wears Prada,” Miranda Priestly, editor majalah Runway yang diperankan Meryl Streep (yang seharusnya dapat Oscar untuk penampilannya), memberikan ceramah yang tajam kepada Andy (Anne Hathaway), asisten keduanya yang simpel. Miranda menjelaskan bahwa meskipun Andy merasa tidak ada hubungannya dengan dunia fashion, sebenarnya ia sangat keliru. Dengan menggunakan sweater biru cerulean Andy sebagai contoh, Miranda menegaskan bahwa fashion mempengaruhi dunia dalam berbagai cara yang mungkin tidak kita sadari, dan kita semua mengikuti aturannya.

Ceramah ini bukan hanya pelajaran pertama bagi Andy, tetapi juga menunjukkan bahwa Miranda tidak hanya bos sadis yang angkuh dan menuntut. Ia memiliki visi — tentang fashion, dunia yang lebih besar, dan tempatnya yang seharusnya di dalamnya.

Menariknya, ceramah ini ditujukan kepada penonton sama seperti kepada Andy. “The Devil Wears Prada” adalah komedi kantor yang menyegarkan dan pun penuh tawa, sekaligus berhasil mengajak kita untuk mengenal dan mencintai dunia fashion, yang mungkin awalnya dianggap sebagai dunia yang jauh dari kehidupan kita. Di akhir film, saat Miranda, dalam mobil yang melintasi Paris, berkata kepada Andy, “Semua orang menginginkan ini. Semua orang ingin menjadi kita” (yang diubah atas permintaan Streep dari “Semua orang ingin menjadi saya”), ia menegaskan bahwa fashion adalah perpaduan antara komersial dan keindahan, dengan para pengatur selera yang kadang tampak absurd, tetapi sebenarnya menyimpan makna yang dalam.

Inline – HLD One Day Trip

Seperti yang kita tahu, “The Devil Wears Prada 2” adalah film yang sangat berbeda dari pendahulunya. Film asli memiliki sentuhan tajam dan humor yang cepat, sementara film baru ini dibuka dengan latar belakang dunia media yang sedang berantakan. Pendekatannya lebih bernuansa drama yang diselingi humor, alih-alih komedi penuh tawa mendalam.

Baca juga  Bruce Campbell dari The Evil Dead Ungkap Diagnosis Kanker: Apa yang Dia Katakan?

Sebagai penggemar berat film baru ini, banyak yang merasa bahwa cara ini adalah langkah yang tepat — melihat karakter 20 tahun kemudian dari perspektif yang lebih dalam dan kaya. Miranda masih ratu Runway yang galak, namun kini ia juga terlihat cemas dan rentan, berusaha keras untuk mempertahankan posisinya. Ia tak lagi bisa sembarangan mengeluarkan pendapat (agar tidak melanggar aturan HR), dan ada momen yang menggembirakan ketika ia terpaksa terbang dengan kelas ekonomi.

Beberapa penonton, termasuk teman-teman saya, merasa kehilangan sosok “pemimpin es” yang tajam dari film pertama, dan saya bisa memahami sentimen itu. Namun, kesempatan para pembuat film — sutradara David Frankel dan penulis skenario Aline Brosh McKenna — untuk memperlihatkan Miranda yang lebih manusiawi dan dapat didekati, tetap terasa. Akan tetapi, saya berharap mereka juga memberi lebih banyak dialog tajam yang menyerupai lelucon yang terlontar spontan, seperti yang biasa diucapkan Jean Smart dalam “Hacks.” Beberapa orang justru lebih lucu ketika mereka berada dalam situasi sulit, dan Miranda, yang berjuang untuk menyelamatkan kekaisarannya, sempurna untuk humor getir semacam itu.

Inline – HLD Private Trip

Namun, “The Devil Wears Prada 2” mengambil risiko, mengarahkan pada hal yang tak terduga, dan menembus inti permasalahan yang sepertinya sangat relevan dengan penonton masa kini. Film ini mengajak kita untuk merasa terhubung dengan nasib Runway yang sedang terancam di dunia media yang goyah. Saat Oscars tiba, jika ada film tentang dunia perfilman, seperti “The Artist” atau “Once Upon a Time in Hollywood,” biasanya film tersebut mendapat dukungan lebih dari dalam industri. Mungkin benar, tetapi banyak orang biasa juga menyukai film yang menggugah dengan tema Hollywood — tempat nyata yang menjadi mitos aspirasi dan impian.

Baca juga  Neon Ubah Karya Pendek Horor Sam Evenson, 'Mora', Menjadi Film Fitur!

Dinamika yang sama juga berlaku dalam dunia media. Meskipun petinggi media mungkin senang melihat film tentang diri mereka sendiri, banyak kalangan dikhawatirkan salah menilai bagaimana film ini menyentuh aspek realita. Banyak yang memberi label film ini sebagai “suram” dan “pesimis,” karena menyentuh saraf sensitif di hati para profesional media yang cemas tentang masa depan mereka. Namun, “The Devil Wears Prada 2” bukanlah film suram; ia sebenarnya adalah dongeng tentang harapan dan impian yang diatur dalam dunia nyata. Di mana film pertama menyoroti kemewahan fashion, film baru ini berfokus pada upaya menyelamatkan keindahan dan nilai yang pernah ada dalam dunia majalah.

Di dalam lanskap media saat ini, apakah ini menjadikan film sebagai dongeng? Mungkin. Namun, ada makna mendalam dan pertanyaan penting: Seberapa besar kita, sebagai masyarakat, peduli terhadap nilai-nilai “media lama” — keindahan, pelaporan, pengalaman, gambar yang tak terlupakan, serta kebenaran? “The Devil Wears Prada 2” menggunakan nasib Runway dan Miranda sebagai cara untuk menjawab pertanyaan itu. Meskipun Runway adalah produk fashion yang glamour, ia diciptakan dan dieksekusi seperti sebuah karya seni. Film ini bertanya: Apakah kita baik-baik saja jika semua itu hilang?

Inline – AWS Open Trip

Di awal film, saat Andy, kini seorang jurnalis serius yang selalu ia impikan, terpaksa mundur dari sebuah publikasi kecil bernama Vanguard, ia mendapatkan posisi sebagai editor fitur baru di Runway. Ia ditugaskan untuk menulis cerita tentang perusahaan yang terhubung dengan Runway yang terlibat kasus pabrik kerja. Ia berhasil, namun cerita itu hampir tidak mendapatkan perhatian. Film ini tidak sok menganggap bahwa menarik perhatian di tahun 2026 lebih mudah daripada yang tertera.

Baca juga  Ulasan 'Dhurandhar: The Revenge': Blockbuster Aksi Bollywood yang Bikin Terpukau!

Namun, film ini berupaya melawan dorongan jurnalisme berbasis algoritma dengan menyatakan bahwa hanya faktor manusia yang terkurasi dan didukung yang dapat membuat sebuah majalah seperti Runway — atau, secara implisit, majalah hebat lainnya — bisa bertahan. Itulah drama film ini. Itulah yang kini diperjuangkan Miranda, begitu pula Stanley Tucci sebagai Nigel, yang sekarang menjadi sosok bijak yang mencuri perhatian. Namun, di sinilah “The Devil Wears Prada 2” bukan hanya film tentang fashion atau media. Di inti, ia adalah petualangan ringan, namun di penghujungnya ada sesuatu yang menyentuh dan membangkitkan, karena yang diperjuangkan Miranda dan timnya — baik anggaran yang dipotong, atau pengusaha teknologi yang ingin mengendalikan segalanya, atau apatisme yang muncul dari banjir konten kualitas rendah — adalah apa yang terjadi di dunia kita saat ini. Mereka berjuang untuk tempat di mana sentuhan manusia masih memiliki makna.

Inline – AWV Youtube
Share