Siapa sih yang nggak kenal “Lost”? Serial ini bener-bener bikin penontonnya berpikir keras. Tapi, J.J. Abrams, sang kreator, pengen agar penonton “Fringe,” salah satu serial terbarunya, merasa lebih gampang dan nggak kebingungan kayak fans “Lost.”
Setelah sukses dengan “Felicity” dan “Alias,” “Lost” bikin nama Abrams melesat dan jadi salah satu otak kreatif paling dicari di dunia televisi. Meskipun “Lost” sangat populer, serial ini punya satu kelemahan besar: alur cerita yang sangat kompleks dan saling terkait, yang bikin penontonnya sering merasa kebingungan dan terasing. Dalam wawancara dengan Hollywood Reporter, Abrams menjelaskan bahwa dia ingin “Fringe” jadi berbeda. “‘Fringe’ adalah eksperimen bagi kami. Kami percaya ada alur cerita keseluruhan, dan kami tahu tujuan akhir dari cerita tersebut… kamu nggak perlu nonton Episode 1, 2, dan 3 untuk bisa memahami Episode 4… acara ini nggak mengharuskan penonoton untuk mendedikasikan waktu secara gila-gilaan ke serial lain,” ungkapnya.
Fringe ternyata sangat berbeda, tetapi juga mirip dengan Lost
Dalam wawancara dengan TV Guide, J.J. Abrams mengungkapkan bahwa sejak awal, banyak perbandingan antara kedua serial. “Ketika pertama kali tayang, terutama karena alur cerita pesawat di pilotnya, banyak yang bilang kalau acara ini berusaha menjadi ‘copy-paste’ dari ‘Lost’. Beruntungnya, kami bisa tayang cukup lama untuk membuktikan bahwa ‘Fringe’ punya identitasnya sendiri,” katanya.
Dari dua musim pertama, “Fringe” sukses menghadirkan episode sci-fi yang inovatif, dengan alur cerita yang lebih umum dan mudah diikuti. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semesta yang dibangun oleh para penulis jadi pusat perhatian. Dalam wawancara yang sama, produser Bryan Burk mengatakan bahwa serial ini mulai hidup dengan caranya sendiri. “Saat kamu nonton episode awal, kamu bisa lihat bagaimana kami mencoba membuat episode yang berdiri sendiri, tapi sifat dari acara ini dan apa yang ingin jadi… adalah sebuah serial yang terikat satu sama lain. Acara ini seringkali memberi tahu apa yang ingin jadi, dan ini adalah salah satu contohnya,” jelasnya.
Meskipun “Fringe” dapet banyak pujian dari kalangan penggemar sci-fi dan memenangkan berbagai Saturn Awards, nasib serial ini tetap mirip dengan “Lost.” Rating awalnya cukup kuat, tapi di musim-musim terakhir, jumlah penontonnya berkurang meskipun ada sekelompok fan setia yang tetap setia hingga akhir. Bedanya, di finale “Fringe,” acara ini berhasil memberikan akhir yang sangat memuaskan bagi para penggemar dan kritikus, menjadikannya episode dengan rating tertinggi.




