Adaptasi film The Running Man yang dibintangi Arnold Schwarzenegger di tahun 1987 memang menyimpang jauh dari maksud asli novel dystopian karya Stephen King. Namun, yang lebih mengejutkan adalah hasil remake tahun 2025 yang juga tidak jauh lebih baik. Banyak film sci-fi yang gagal membawa nuansa dan kedalaman dari novel-novel ambisius ke layar lebar. Belum lagi, ada banyak buku Stephen King yang dianggap tidak bisa difilmkan, jadi tidak heran kalau sebuah novel sci-fi karya King yang gagal diadaptasi bukanlah hal yang mengejutkan.
Yang bikin tercengang adalah bagaimana film The Running Man tahun 1987 ini malah gagal total, baik dari segi kritik maupun box office untuk si bintang Arnold Schwarzenegger. Disutradarai oleh Paul Michael Glaser, yang lebih dikenal dari serial Starsky and Hutch, film ini mengisahkan tentang sebuah acara game show mendebarkan yang disponsori negara, di mana para penjahat diburu oleh pembunuh bayaran di seluruh Amerika. Schwarzenegger memerankan Ben Richards, seorang polisi tak bersalah yang terjebak dalam permainan mematikan dan pada akhirnya membalikkan keadaan terhadap para penyerangnya.
The Running Man Jauh Lebih Ringan daripada Novel Asli Stephen King
Kalau struktur cerita ini terdengar familiar, itu karena The Running Man bukanlah cerita dystopian sci-fi pertama maupun terakhir yang menyindir media massa dan negara fasis dengan kisah pertandingan kematian di layar kaca. Film cult klasik Death Race 2000 sudah lebih dahulu menggunakan premis serupa 12 tahun sebelum film Schwarzenegger hadir, sementara Battle Royale dan The Hunger Games mengambil alur yang sama di abad ke-21. Namun, adaptasi film tahun 1987 ini tidak seefektif thriller dystopian lainnya.
Meskipun film sci-fi Schwarzenegger selanjutnya, Total Recall, juga mengubah banyak dari sumbernya, itu terbukti menjadi keputusan yang tepat. Sutradara Paul Verhoeven menyisipkan banyak tema menarik tentang memori, digitalisasi, dan penggunaan hiburan untuk melupakan masalah sosial. Cerita asli karya Philip K. Dick yang berjudul “We Can Remember It For You Wholesale” terlalu pendek untuk mengeksplorasi tema-tema ini secara mendalam. Namun, novel asli The Running Man memiliki banyak hal untuk dikatakan tentang kelas, ketidakadilan, dan media Amerika, yang sayangnya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh film ini.
Remake The Running Man Juga Gagal Menghidupi Buku Sci-fi Karya King
Dalam cerita asli, Richards secara sukarela berpartisipasi dalam permainan mematikan karena ia sangat kekurangan untuk menghidupi keluarganya. Dia mengakhiri kisah dengan meledakkan markas besar jaringan TV, merenggut nyawanya sendiri dan para penjahat dalam sebuah aksi pemberontakan yang menyedihkan. Dengan menjadikan protagonis film 1987 sebagai polisi yang terampil dan berhasil mengalahkan penjahat untuk menjadi pahlawan nasional, film ini menghilangkan satir tajam dari komentar sosial yang ada dan mengubahnya menjadi sekadar film sci-fi Schwarzenegger biasa.
Sementara itu, remake tahun 2025 arahan sutradara Edgar Wright yang dibintangi Glen Powell lebih berusaha mendekati material aslinya. Namun, film ini menghadapi tantangan yang berbeda. Ketika film ini dirilis, penonton sudah disuguhi beragam cerita tentang antihero biasa yang menuntut balas terhadap orang kaya secara kekerasan dalam beberapa tahun terakhir. Berkat film seperti Saltburn, Death of a Unicorn, The Menu, Joker, Parasite, dan Knives Out, satir kelas dalam The Running Man tidak lagi terasa berani atau inovatif.
Opini Kita
Kayaknya bakal seru banget kalau remake ini berhasil menampilkan pesan yang lebih dalam seperti dalam novel aslinya. Apalagi dengan banyaknya film serupa yang sudah ada, studio harus benar-benar cerdas agar ceritanya tetap relevan dan segar. Semoga aja mereka nggak mengulang kesalahan yang sama seperti di film sebelumnya!




