Virginia Woolf, meskipun bukan penggemar terbesar novel “Night and Day” di tahun 1919, kini karyanya mendapatkan perhatian baru lewat film adaptasi yang berjudul “Virginia Woolf’s Night & Day.” Novel ini terkenal rumit dan penuh dengan refleksi tentang perjuangan hak suara perempuan, diselingi dengan hubungan cinta yang berputar ala Shakespeare. Gharavi, selaku sutradara, memberikan sentuhan baru yang lebih menekankan pemberdayaan perempuan dan pendidikan, meskipun mengorbankan keanggunan dan nuansa yang ada di dalam teks asli. Ini adalah langkah berani yang menunjukkan betapa pentingnya untuk merayakan kebangkitan suara perempuan.
Apakah film ini akan menarik perhatian banyak penonton? Itu masih bisa jadi pertanyaan besar. “Virginia Woolf’s Night and Day” diperkenalkan di festival multimedia SXSW London menjelang rilis teatrikalnya di Inggris, dan sepertinya bisa jadi lebih mendapat tempat di platform streaming internasional. Gharavi, yang sebelumnya menyita perhatian dengan film pertamanya “I Am Nasrine,” kini membuktikan dirinya bisa beradaptasi dengan sinema warisan Inggris, meskipun arah film ini mungkin terasa sedikit kurang menarik bagi sebagian orang.
Memperankan karakter Katherine (atau Kit) adalah Haley Bennett, yang memberikan performa ceria dan mengesankan. Di tengah setting London era Edwardian, Kit adalah seorang wanita muda yang penuh semangat dan rasa ingin tahu, terutama terhadap astronomi—bidang yang saat itu masih sulit diakses oleh perempuan. Keterbatasan ini mendorongnya untuk menyamar sebagai pria demi bisa mengikuti kuliah di Royal Astronomical Society. Di sinilah peran patriarki yang mengekang impian dan ambisinya mulai terasa. Ayahnya, yang diperankan oleh Timothy Spall, lebih suka melihat anaknya menikah dengan pria yang tepat, sementara Kit berjuang untuk meraih impiannya.
Baginya, harapan ini tampaknya muncul ketika dia menerima lamaran dari sahabat masa kecilnya, William (yang diperankan oleh Jack Whitehall). Meskipun jelas dia hanya ingin terbebas dari tekanan keluarga, William adalah penyair yang konyol dan tidak berbakat. Di dalam perubahan besar dari novel aslinya, sepupu Kit, Cyril (Misia Butler), berperan sebagai pendukung terdekatnya, menunjukkan sisi gay yang terpinggirkan, yang nggak mau hidup dalam kebohongan hanya untuk menyenangkan orang lain.
Begitu Kit terjebak dalam pertunangan tanpa cinta, percikan ketertarikan datang dari Ralph (Elyas M’Barek), seorang editor sastra yang diutus oleh ayahnya. Momen di mana Kit dan Ralph bertemu tidak dieksplorasi dengan baik dalam adaptasi ini, karena karakter pria lainnya, kecuali Cyril, tampak tersingkir. Lebih banyak perhatian diberikan kepada persahabatan Kit dengan Mary, seorang suffragette yang berapi-api, yang diperankan oleh penyanyi Lily Allen dengan gaya yang sangat kontemporer. Film ini lebih menekankan pada solidaritas perempuan daripada nuansa individu yang ada di novel.
Walaupun penampilan Bennett yang energik dan kuat terasa melawan arus sosial yang ketinggalan zaman, terkadang suasana film ini terasa stagnan. Gharavi berusaha untuk menyemarakkan film dengan penggunaan kamera handheld dan skor musik beraliran elektronik, namun “Virginia Woolf’s Night & Day” bisa terasa terlalu banyak berbicara dan kaku dalam penyampaian pesannya, meskipun niatnya tulus. Meskipun film ini berbicara tentang masa depan yang lebih berani, pendekatan pembuatan filmnya kurang berani dalam mengganggu status quo.
Wajib Dinanti Nggak Nih?
Kayaknya seru banget kalau film ini bisa lebih mendalami hubungan Kit dengan Ralph. Semoga aja Gharavi bisa menemukan keseimbangan antara melestarikan essence dari karya Woolf dan menghidupkan cerita yang relatable untuk penonton zaman sekarang. Di tengah perubahan yang ada, semoga film ini bisa jadi perbincangan hangat di kalangan pecinta film dan feminis!




