Ada berapa banyak film sci-fi yang kamu tahu baik dari awal hingga akhir? Banyak, kan? Namun, genre ini sering kali menjanjikan lebih dari yang bisa diberikannya. Biasanya, film sci-fi menyentuh berbagai alam semesta, teknologi canggih, dan cerita berskala epik. Tapi intinya satu: film harus tahu dengan jelas apa yang ingin disampaikan daripada sekadar melemparkan ide-ide tanpa dasar. Ketika ini tidak terjadi, penonton pasti merasakannya, dan pengalaman menonton bisa jadi sangat frustrasi. Apa yang dimulai dari konsep yang kuat bisa berakhir dengan kekecewaan yang besar.
Makanya, kami merangkum daftar 7 film sci-fi yang benar-benar buruk dari awal hingga akhir. Ini bukan hanya soal film-film yang tidak bagus, tapi lebih karena satu rangkaian kegagalan, di mana banyak elemen tidak pernah bisa dipadukan dengan cara yang berarti.
7) Moonfall
Ide di Moonfall langsung menarik perhatian: ceritanya berfokus pada Bulan yang keluar dari orbit dan mulai jatuh ke Bumi. Dalam situasi ini, Jo Fowler (Halle Berry) dan Brian Harper (Patrick Wilson), dua mantan astronaut, bersama K.C. Houseman (John Bradley), seorang teoritikus konspirasi, mencoba menghentikan kiamat. Dengan skala premis tersebut, film ini seharusnya bisa jadi film bencana sci-fi yang seru, kan? Tapi, sayangnya, itu bukan yang ingin disampaikan, dan ini jadi masalah besar.
Moonfall berusaha keras untuk terkesan serius sekaligus absurd, tanpa menemukan keseimbangan yang tepat. Skenarionya penuh dengan penjelasan pseudo-saintifik, tetapi tidak ada yang bisa dipertahankan, sehingga penonton harus menerima begitu saja bahwa semua yang terjadi hanyalah karena film ini berkata begitu. Dalam dunia sci-fi, itu sangat merugikan. Di samping itu, karakter-karakternya terasa dangkal dan tidak menarik; mereka ada hanya untuk mengantarkan kita dari satu ledakan ke ledakan lainnya. Bahkan keindahan visualnya pun tidak bisa menyelamatkan, karena setelah beberapa saat, semuanya terasa seperti kehancuran CGI yang berulang dan kehilangan dampak.
6) Starcrash

Semua orang tahu tentang Star Wars, tapi bagaimana jika seseorang mencoba membuat tanggapan terhadap cerita tersebut? Starcrash adalah jawabannya, meski nggak mengerti apa yang membuat franchise George Lucas berhasil. Di sini, kita mengikuti petualangan space opera ruang angkasa yang melibatkan penyelundup Stella Star (Caroline Munro) dan Akton (Marjoe Gortner) melawan kekaisaran galaksi dan Count Zarth Arn (Joe Spinell) untuk menyelamatkan satu-satunya penyintas misi rahasia. Di kertas, ini terdengar seperti petualangan sci-fi yang seru, tapi dalam praktiknya, hasilnya jauh dari harapan.
Film ini tidak punya ritme yang jelas, konsistensi visual, maupun dunia yang dibangun dengan baik. Mungkin bisa dimaklumi karena produksi tahun 70-an, tapi sulit berdalih ketika saga sci-fi lain dari era yang sama melakukan semua yang coba ditiru. Di Starcrash, semua terasa improvisasi dan hampir kacau, seolah-olah adegan-adegan diambil tanpa koneksi yang jelas antara yang satu dengan yang lainnya. Akibatnya, film ini terasa tidak merata; seharusnya bisa jadi cult movie yang buruknya menarik, tapi akhirnya hanya sulit diikuti, dan kurang energik.
5) Jupiter Ascending

Banyak keberanian dalam konsep Jupiter Ascending, namun sayangnya eksekusinya tidak sejalan. Film ini mencoba menghadirkan kisah besar tentang royalti antargalaksi, genetika, dan perebutan kekuasaan di luar angkasa. Dalam ceritanya, protagonis bernama Jupiter (Mila Kunis) menemukan bahwa ia punya takdir kosmik dan terjebak dalam perang antara keluarga yang mengendalikan planet. Namun, semua informasi ini terlalu banyak diberikan, dan film ini tidak membangun fondasi emosional yang baik, membuat penonton tidak bisa terhubung dengan karakter-karakternya, termasuk Jupiter yang selalu terombang-ambing oleh alur cerita. Bahkan penjahat dan karakter pendukung pun datang dan pergi sesuai kebutuhan plot. Ketidakjelasan alur ini menjadikan Jupiter Ascending terasa terlalu kacau dan rumit untuk dipahami.
4) Rebel Moon

Rebel Moon sebelumnya ditunggu banyak orang, namun setelah ditayangkan, penonton merasa kecewa (hingga hampir tidak ada minat untuk sekuelnya). Film ini berusaha menjadi bagian awal dari saga antargalaksi yang besar, di mana koloni damai terancam dan harus merekrut pejuang untuk melawan kekaisaran yang menindas. Fokus cerita ada pada Kora (Sofia Boutella), seorang pejuang dengan latar belakang yang misterius. Meskipun film ini berjanji akan menjadi kisah besar, kenyataannya alur ceritanya terasa cukup sederhana.
Semua aspek visual dihadirkan dalam ukuran ekstrem untuk menjual ide produksi sci-fi besar, tetapi cerita tidak menyamai ambisi itu. Karakter-karakternya tampak seperti arketipe tanpa kedalaman, dan film ini tidak menghabiskan waktu untuk memberikan mereka bobot emosional yang memadai. Adegan-adegannya sering kali dikembangkan seperti momen trailer: mencolok secara visual tetapi kurang substansi. Akhirnya, Rebel Moon lebih terasa sebagai konsep besar tanpa cerita yang solid.
3) The Adventures of Pluto Nash

Jarang ada yang mengingat The Adventures of Pluto Nash, dan memang ada alasannya. Kisah ini terjadi di koloni bulan pada tahun 2087, di mana karakter utama (Eddie Murphy) adalah mantan penyelundup yang berusaha melindungi klub malamnya dari mafia. Di tengah masalah, ia terlibat dengan penjahat yang ingin menguasai seluruh bulan. Di sini, ada potensi untuk komedi sci-fi yang ringan dan mudah ditonton, kan? Namun, sepertinya ide tersebut tidak pernah sepenuhnya berkembang.
The Adventures of Pluto Nash punya humor yang tidak mengena, ritme yang lambat, dan dunia yang tidak memiliki karakteristik sama sekali. Murphy tampak tidak terhubung dengan proyek ini. Segala sesuatu berjalan tidak sesuai, bahkan dari segi nada. Film ini berusaha jadi komedi, tapi rasa humornya tidak cukup, dan ingin tampil sebagai sci-fi, tetapi juga tidak menarik. Dalam kata lain, film ini hanyalah deretan adegan yang tidak terhubung dengan baik.
2) Cosmic Sin

Menariknya, banyak film yang tidak berhasil justru dimulai dengan ide yang cukup menarik, tetapi hancur dalam eksekusi. Cosmic Sin adalah salah satu contohnya, berusaha menjadi film militer sci-fi yang berlatar tahun 2524, berfokus pada kontak pertama manusia dengan peradaban asing yang bermusuhan. Di pusat cerita ada Jenderal James Ford (Bruce Willis) yang bekerja sama dengan sekelompok tentara untuk melakukan serangan perdana guna mencegah perang antarbintang sebelum menyebar. Produksinya pun sudah banyak menerima kritik tajam.
Tidak ada yang ditangani dengan cara yang meyakinkan, karena tidak ada ketegangan nyata yang menarik penonton. Dilema moral perang hampir tidak dieksplorasi, dan film ini tidak memberikan bobot atau konsekuensi pada keputusan karakter. Segala sesuatu dalam Cosmic Sin terasa terburu-buru dan dangkal, seolah-olah hanya mengisi waktu dengan adegan aksi dan penjelasan yang terus-menerus. Film ini ingin menjadi sci-fi, tetapi tidak memahami apa yang sebenarnya membuat genre ini berhasil di layar lebar.
1) Battlefield Earth

Beberapa film mungkin masih bisa menemukan hal positif, tetapi dengan Battlefield Earth, itu hampir tidak mungkin karena semuanya buruk dari atas hingga bawah. Ceritanya berlatar tahun 3000, saat Bumi dikuasai oleh ras alien, dan manusia hidup sebagai budak berjuang untuk melawan penindasan. Protagonisnya, Johnny Goodboy (Barry Pepper), memimpin pemberontakan untuk membebaskan Bumi dari pemimpin alien, Terl (John Travolta). Niatnya jelas: sebuah kisah sci-fi distopia yang mungkin berhasil jika setiap detailnya diperhatikan. Sayangnya, film ini gagal dalam hampir setiap aspek.
Battlefield Earth salah dari segi penulisan, pengarah, nada, dan visual sekaligus. Sebagai contoh, sudut pengambilan gambar yang terus menerus merugikan, alih-alih menambah gaya, hanya jadi mengganggu karena tak pernah berhenti. Dari segi penampilan, Travolta sebagai penjahat adalah sebuah kekeliruan besar, lantaran aktingnya terkesan kartun dan merusak keseriusan cerita. Ditambah lagi, narasinya tidak memiliki konsistensi logika internal. Film ini hancur di semua level (dan akan lebih buruk lagi setelah tahu bahwa ini diadaptasi dari buku).





