Industri game dunia saat ini sepertinya mengalami banyak kekacauan. Muncul tragedi di balik pembuatan game yang bikin kita bertanya-tanya, “Apa ada yang masih bisa nyetir?” Dalam beberapa tahun terakhir, banyak publisher dan studio besar terjebak di pusaran kesulitan yang berujung pada keputusan aneh dan sering kali merugikan. Mungkin ini saatnya kita mengupas lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi.
Ambil contoh Sony. Mereka telah menghabiskan bertahun-tahun mencoba menangkap kesuksesan live service, yang pada akhirnya mengakibatkan kegagalan seperti Concord, yang dibakar hingga ratusan juta dolar hanya untuk ditutup setelah minggu peluncurannya. Sungguh ironis, studio Blue Point yang terkenal dengan remaster berkualitas tinggi, malah dipaksa mengerjakan spin-off God of War dengan model live service, yang seharusnya sudah bisa diprediksi menjadi bencana. Alhasil, Sony harus menutup studio ini pada Februari 2026 setelah kehilangan kesabaran dengan proyek-proyeknya sendiri.
Meski Sony telah membatalkan delapan dari dua belas proyek live-service yang dijanjikannya akan diluncurkan sebelum 2025, ambisi mereka terhadap model bisnis ini tampaknya belum pudar. Bulan lalu, CEO Sony Interactive Entertainment, Hideaki Nishino, mengungkapkan bahwa mereka ingin “terus menghadapi” tantangan ini. Ini terdengar aneh, apalagi setelah mereka memecat hampir seluruh tim Destiny 2 karena menghentikan pengembangan konten lanjutan dari game yang satu ini. Padahal, para developer yang tersisa baru saja menarik banyak pemain kembali untuk update terakhir mereka. Mengapa membuang semua keahlian dan pengalaman itu demi efisiensi biaya?
Sambil bertindak aneh, Sony juga mengumumkan akan menghentikan produksi disc fisik pada 2028, memaksa semua game PlayStation ke jalur distribusi digital. Ini mungkin terlihat menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi bisa jadi akan merugikan mereka dalam jangka panjang, terutama bagi pemain yang suka menjual kembali game bekas. Bayangkan jika kita tak lagi bisa memanfaatkan pasar sekunder; banyak gamer, termasuk penulis, mungkin tidak akan melanjutkan hobi ini tanpa bisa menjual game-game lamanya.
Pindah ke Microsoft, keadaan tampaknya tidak jauh lebih baik. Di bawah pimpinan Phil Spencer, divisi gaming Microsoft menghabiskan puluhan miliar dolar untuk akuisisi, berharap Game Pass bisa menjadi solusi. Namun, hasilnya jauh dari harapan. Dengan jumlah pelanggan jauh di bawah target, mereka malah terjebak dalam kampanye pemasaran yang buruk, strategi rilis yang kacau, dan berulang kali melakukan pemecatan massal. Semua ini tentu berdampak negatif pada para developer yang sudah mereka kumpulkan.
Menyedihkan lagi, setelah mengakuisisi ZeniMax, Microsoft justru melakukan pemecatan besar-besaran, termasuk tim yang mengembangkan MMO yang Spencer kabarnya sangat gemari. Hal ini hanya menunjukkan bahwa meski mereka berinvestasi besar, pemecatan dan ketidakpastian kerja merugikan bukan hanya individu, tetapi juga kualitas game yang dihasilkan. Pada akhirnya, kita melihat penghancuran banyak potensi luar biasa di industri game.
Di sisi lain, tidak semua studio bernasib sama. Capcom, misalnya, telah menikmati keberhasilan beruntun selama beberapa tahun berkat manajemen yang lebih bijaksana. Perlahan tapi pasti, mereka membangun kembali reputasi mereka tanpa perlu melakukan pemecatan besar-besaran. Dalam dunia game yang sedang berubah, sepertinya berhasil menciptakan game berkualitas dengan tim yang stabil bisa menjadi langkah yang lebih berkelanjutan. Hanya saja, bagaimana jika industri game kita terus didorong oleh tekanan laba jangka pendek tanpa memikirkan dampak jangka panjang?
Kita harus ingat, kreativitas dalam industri game bukanlah sesuatu yang bisa dihasilkan secara instan dengan mengandalkan AI atau teknologi canggih lainnya. Developer berpengalaman dan tim yang solid adalah fondasi untuk membuat permainan yang bisa bertahan lama. Ketika industri lebih fokus pada strategi jangka pendek seperti membuat game dengan konsep copycat alih-alih berinovasi dan menciptakan pengalaman baru, kita semua, pemain dan developer, yang akan dirugikan pada akhirnya.
Opini Kita
Kayaknya bakal menarik banget kalau industri game bisa menemukan keseimbangan antara inovasi dan keberlanjutan. Dengan mengutamakan kualitas dan kreativitas, bukan hanya fokus pada laba, para pengembang pasti bisa memberikan pengalaman terbaik untuk kita semua. Semoga aja ke depan, studio-studio besar ini bisa memikirkan ulang strategi mereka dan kembali fokus pada membangun game yang bukan hanya menjanjikan, tetapi juga memberi makna bagi para pemain.





