Popularitas industri anime yang terus melesat dalam beberapa tahun terakhir bikin banyak orang penasaran untuk menjelajahi dunia acara dan film yang seru. Meskipun anime sudah populer di Amerika Serikat sejak tahun 1990-an, kini popularitasnya belum juga surut. Era 2010-an adalah saat-saat transformasi untuk industri anime, terutama setelah finale Shonen Big Three. Banyak serial anime yang lama pun mulai menghilang, digantikan oleh rilis-rilis musiman. Di sisi film anime, lonjakan rapid ini membawa lebih banyak tayangan bioskop, baik di AS maupun di berbagai wilayah di luar Jepang.
Salah satu anime yang mencuri perhatian di era tersebut adalah A Silent Voice dari Kyoto Animation, yang masih jadi salah satu film paling dicintai dan mengharukan sepanjang masa. Film ini diadaptasi dari manga Weekly Shonen Jump karya Yoshitoki Oima yang telah memenangkan berbagai penghargaan, dan diserialisasikan dari tahun 2013 hingga 2014. Anime ini pertama kali tayang di Jepang pada 16 September 2016 dan debut di bioskop AS pada 20 Oktober 2017. Tahun ini, Crunchyroll membuatnya lebih mudah diakses bagi penggemar di seluruh dunia, menunjukkan betapa cinta dan terkenalnya film ini hingga kini.
A Silent Voice Itu Tentang Apa Sih?
Cerita yang bikin hati sakit ini mengisahkan Shoya Ishida, yang setiap harinya dihantui rasa bersalah atas perbuatannya di masa kecil. Bersama teman-temannya, dia mengganggu Shoko Nishimiya, seorang gadis tuna rungu, saat mereka di sekolah dasar. Bullying yang mereka lakukan sangat ekstrem hingga Shoya tidak ragu untuk melepas alat bantu dengar Shoko, yang bikin telinga gadis itu berdarah. Sungguh menyedihkan, Shoko sangat bergantung pada alat bantu itu. Karena bullying yang terus berlanjut, Shoko akhirnya harus pindah sekolah.
Tapi Shoya tidak pernah menyangka, saat kebenaran terungkap, semua temannya justru menyalahkannya. Tak lama, ia jadi target bully seperti yang dulu dilakukan ke Shoko, dan itu bikin dia semakin terisolasi. Sejak insiden tersebut, Shoya dijauhi dan tak pernah bisa meredakan rasa bersalah atas perlakuannya terhadap Shoko. Kini di sekolah menengah, dia terjebak dalam rasa benci pada diri sendiri dan kecemasan sambil berusaha mencari penebusan. Dia mencari Shoko untuk meminta maaf dan mencoba memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
Meskipun tidak berharap Shoko akan memaafkannya, Shoko justru menerima permintaan maafnya, dan mereka perlahan membangun kembali persahabatan sambil menghadapi luka masing-masing. Saat Shoya belajar lebih banyak tentang Shoko, dia menyadari bahwa meski sudah remaja, Shoko masih merasa tidak cukup baik setelah menghadapi berbagai kesulitan. Sepanjang perjalanan ini, dia juga bertemu kembali dengan teman-teman sekelasnya dari sekolah dasar yang kini sudah move on dengan hidup mereka masing-masing.
A Silent Voice: Kisah Penebusan yang Paling Mengharukan

Film yang memukau ini mengangkat tema-tema sensitif dengan fokus pada penebusan dan pengampunan. Setelah pertemuan kembali mereka, cerita berfokus pada beban emosional yang dirasakan keduanya, menciptakan momen-momen kerentanan saat mereka berusaha sembuh. Perjuangan Shoya untuk penebusan dan perjalanan Shoko menuju penerimaan diri culminates dalam ending yang mengharukan. Yang bikin film ini istimewa adalah bagaimana ia menyoroti pentingnya koneksi berarti dengan orang lain.
Meskipun film anime ini mencakup alur cerita utama dari semua tujuh volume manga, ia jauh lebih padat dalam narasi dan memotong subplot besar, termasuk pengembangan karakter sampingan, untuk menyesuaikan dengan durasi tayang. Ini artinya, manga tidak akan pernah mendapatkan adaptasi penuh, tapi itu tidak mengurangi kehebatan film ini. Meskipun begitu, ending film ini jelas dan tidak menyisakan keraguan bahwa keduanya menemukan ketenangan di sisi satu sama lain. Ending ini mungkin salah satu representasi visual terbaik yang pernah ada di film anime.
Alih-alih menunjukkan langsung perjalanan penyembuhan Shoya, film ini lebih fokus pada transformasi pribadi saat “X” yang menandai wajah orang-orang di sekitarnya mulai menghilang. “X” tersebut adalah cara pandangnya terhadap orang lain yang menggambarkan kecemasan sosial yang mendalam, rasa bersalah yang intens, dan isolasi yang dia ciptakan sendiri. Namun, finale mengkonfirmasi bahwa dia sedang berusaha keluar dari cangkangnya, yang merupakan bagian besar dari proses penyembuhannya. Di sisi lain, Shoko akhirnya belajar menerima dirinya apa adanya dan hidup berdampingan dengan orang lain tanpa merasa kurang.
Opini Kita
Kayaknya film ini bakal terus jadi favorit banyak orang, gaes! Dengan tema penebusan yang kuat dan fokus pada hubungan emosional, banyak yang definitely akan terhubung dengan ceritanya. Semoga studio Kyoto Animation bisa mengadaptasi lebih banyak karya hebat seperti ini di masa depan, karena jujur, masih banyak cerita yang layak untuk diangkat ke layar lebar!

