One Piece sudah jadi raja di dunia manga selama 29 tahun. Karya Eiichiro Oda ini bukan hanya populer, tapi juga membangun komunitas penggemar yang sangat besar. Namun, di balik kesuksesannya, ada cerita yang kurang menyenangkan untuk seri lain di Weekly Shonen Jump. Seharusnya sih, perayaan ulang tahun ini bisa jadi momen yang menyenangkan, tapi malah berubah jadi kepanikan nasional yang bikin penggemar seri lain harus merasakan kerugian.
Untuk merayakan ulang tahun ke-29 dan peluncuran One Piece Heroines, edisi #33 Weekly Shonen Jump ngasih kartu promo terbatas Monkey D. Luffy. Kartu ini bikin para pembeli rakus menyerbu toko buku dan minimarket di Jepang, dengan beli tumpukan majalah hanya untuk ambil kartunya dan jual online. Sayangnya, banyak dari majalah itu malah dibuang begitu saja, dan foto-foto majalah yang terbuang langsung viral di media sosial.
Alih-alih jadi yang bahagia, edisi ini juga mengandung chapter terakhir dari Blue Box karya Kouji Miura, yang menandai akhir dari salah satu anime romansa generasi baru terbesar di Jump setelah lima tahun. Penggemar yang berharap bisa dapet salinan fisiknya sebagai kenang-kenangan justru mendapati rak kosong, membuat Miura harus minta maaf karena banyak pembaca yang nggak kebagian.
Skalper Memaksa Sang Kreator Blue Box Minta Maaf Karena Kekurangan Majalah
Setelah masalah kekurangan di Weekly Shonen Jump, pencipta Blue Box, Kouji Miura, terpaksa minta maaf di X (dulu Twitter) kepada pembaca yang nggak bisa dapet salinan fisik dari chapter terakhir. Miura menegaskan bahwa pesan ini bukan ditujukan kepada siapa pun, melainkan murni sebagai permohonan maaf bagi penggemar yang sudah menunggu-nunggu chapter terakhir itu dan kecewa karena ketidakberuntungan mereka.
Lihat dari apa yang terjadi, rasanya sulit untuk menyalahkan pihak majalahnya. Situasi ini jelas bukan kesalahan Miura, dan juga bukan sepenuhnya salah One Piece. Weekly Shonen Jump mencetak jumlah eksemplar dengan perencanaan yang cermat, mempertimbangkan permintaan dan kenyataan bahwa majalah yang tidak terjual menjadi sampah. Nggak ada yang sampai menduga kalau satu kartu promosi bisa memicu kebangkitan pembelian sebesar itu.
Masalah utamanya adalah para skalper yang mengosongkan rak demi kartu Luffy sebelum membuang majalahnya. Ini adalah masalah yang udah sering muncul, dari kartu perdagangan dan konsol game hingga tiket konser, dan kali ini, pembaca manga jadi korban.
Bagian yang bikin frustasi banget adalah bahwa situasi ini sebenarnya bisa dihindari dengan aturan sederhana. Seandainya toko buku dan minimarket membatasi pembelian maksimal satu atau dua salinan per pelanggan, pasti lebih banyak pembaca yang bisa membeli edisi tersebut. Alih-alih, foto-foto majalah Weekly Shonen Jump tergeletak di kantong sampah dan di trotoar beredar di media sosial setelah para skalper merobek kartu promo eksklusif P-159 Monkey D. Luffy dan membuang sisa majalahnya. Dengan semakin banyaknya promosi kartu, retailer mungkin perlu mulai memperlakukan rilis semacam ini dengan cara yang berbeda.
Seluruh situasi ini juga menunjukkan betapa besar pengaruh One Piece saat ini. Franchise ini sudah tumbuh sebesar itu, sampai-sampai satu kartu promosi bisa mengalahkan perhatian chapter akhir dari seri terkenal lain di Weekly Shonen Jump. Blue Box menghabiskan waktu lima tahun untuk membangun salah satu cerita romansa modern terkuat di Jump, dan seharusnya chapter terakhirnya jadi pembicaraan utama pembaca pekan itu. Namun, yang terjadi adalah pembicaraan tentang rak kosong, majalah yang terbuang, dan aksi skalper. Ini jadi akhir yang aneh bagi momen perayaan, dan semoga saja bisa mendorong retailer untuk lebih melindungi rilis mendatang dari masalah yang sama.
Reaksi AWverse
Kayaknya ini jadi momen refleksi buat para penerbit dan retailer manga untuk lebih memperhatikan pembaca. Penggemar pasti berharap ada tindakan tegas agar kejadian serupa nggak terulang lagi. Kalau saja penjual bisa lebih bijak dalam mengatur penjualan, mungkin kita bisa lihat chapter keren Blue Box dengan lebih bahagia! Semoga ke depannya semua penggemar bisa mendapatkan apa yang mereka cintai tanpa kehilangan kesempatan.




