Musik Indonesia kembali meramaikan dunia perfilman dengan hadirnya film “Jani Be Good,” yang disutradarai oleh Ariani Darmawan. Setelah lebih dari satu dekade berhenti dari dunia film untuk merawat keluarga, kini ia kembali dengan kisah yang menyentuh tentang empat wanita dari tiga generasi. Film ini diputar di Tokyo International Film Festival dalam kategori Asian Future Competition.
Darmawan mengungkapkan, “Selama lebih dari 10 tahun saya tidak membuat film karena fokus merawat anak dan keluarga. Kembali ke dunia film adalah impian yang paling saya inginkan.” Dengan semangat yang membara, dia siap menghadirkan cerita yang meresap di hati penonton.
Kisahnya berfokus pada Jani, seorang remaja berusia 13 tahun, yang terjebak dalam konflik antara ibunya, Winnie, dan kakaknya, Julia. Cerita berlangsung selama empat hari menjelang Natal, menggambarkan bagaimana Jani berusaha berinteraksi dengan anggota keluarganya dalam situasi yang penuh ketegangan. Winnie, seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai akuntan, sulit untuk mengatasi stres dan emosinya setelah Julia pergi dari rumah. Jani pun mencari dukungan dari neneknya, Oma, yang berjuang untuk menjual makanan sambil menyisihkan uang untuk kepentingan sendiri.
Keempat tokoh utama diperankan oleh Chempa Puteri, Sigi Wimala, Tutie Kirana, dan Hyori Mika. Screenplay film ini ditulis bersama Cyntha Hariadi, dengan produksi oleh Palari Films, sebuah perusahaan yang didirikan Darmawan bersama produser Muhammad Zaidy. Film ini direncanakan tayang di bioskop Indonesia pada 10 Desember mendatang.
Taurisia, salah satu produser, mengajak Darmawan untuk kembali membuat film drama keluarga yang sudah lama disukainya. “Sebagai ibu yang bekerja, saya sangat ingin membahas kehidupan keluarga saat ini,” ungkap Darmawan. Dia baru menyadari berapa banyak kerja keras yang tidak terlihat yang dibutuhkan setiap hari dalam mengelola keluarga.
Pengalaman menjadi ibu ternyata juga mengubah cara pandangnya terhadap ibunya sendiri. “Saat kecil, saya melihat ibuku mengatur segala sesuatunya di rumah, namun saya tidak pernah berpikir tentang perasaannya,” kata Darmawan. Sekarang, dengan pengalaman baru, dia memahami betapa melelahkannya menjadi seorang ibu dan tanggung jawab yang diembannya.
Jani, sebagai tokoh utama, kerap diingatkan untuk berbuat baik meskipun dia sudah berusaha. Film ini menunjukkan pertumbuhannya saat mulai menyadari bahwa ibunya, kakaknya, dan neneknya juga memiliki keinginan dan kekurangan masing-masing. “Banyak yang menganggap kalau keluarga yang terdiri dari perempuan saja pasti bisa akur,” ujar Darmawan. Namun, dia menegaskan bahwa masalah keluarga sama saja, baik di lingkungan yang semuanya wanita maupun campuran antara pria dan wanita.
“Sering kali, kita memilih untuk diam untuk menghindari konflik, padahal itu justru menyakiti kita lebih dalam,” jelasnya. Ketidakberdayaan dalam mengungkapkan perasaan ini menjadi tantangan, terutama dalam keluarga perempuan yang berusaha menjaga keharmonisan.
Darmawan ingin Winnienya tidak tampil sebagai tokoh jahat, karena dia adalah sosok yang juga berjuang. “Saya ingin penonton dapat melihat sisi kemanusiaannya,” katanya. Betapa mudahnya bagi seorang ibu merasa berhak untuk bersuara lebih keras karena dia adalah pencari nafkah utama.
Proses penulisan film ini melibatkan kolaborasi erat antara Darmawan, Hariadi, dan Taurisia. Meski menantang, kerjasama ini memberikan perspektif baru dalam penceritaan. Darmawan sebelumnya lebih banyak mengerjakan film sendiri, tetapi kali ini, tantangannya adalah menghidupkan tulisan Hariadi ke dalam adegan yang dapat menjangkau penonton.
Produksi film dilaksanakan dalam waktu singkat, hanya 13 hari, dan diambil di sebuah rumah di Bandung. Tahap persiapan dilakukan dengan membaca naskah bersama para pemeran sebelum syuting dimulai. Semua aktor harus membangun chemistry satu sama lain, meski mereka belum saling kenal sebelumnya.
Darmawan percaya, membuat film yang baik bukan hanya berkaitan dengan cerita yang dikemas, tetapi juga bagaimana emosi para karakternya dapat diterima penonton. Dia ingin menghasilkan karya yang bisa membawa penonton merasakan hubungan rumit yang ada di dalam keluarga.
Opini Kita
Kayaknya bakal seru banget kalau “Jani Be Good” benar-benar bisa menggugah emosi kita tentang kehidupan keluarga perempuan. Dengan perspektif baru yang dibawa Ariani Darmawan, harapannya film ini menjadi jendela untuk memahami dinamika sosial dalam keluarga Indonesia. Semoga aja film ini bisa jadi langkah awal yang baik buat sinema perempuan di tanah air!





