PlayStation 5 punya tugas yang sangat berat, mengikut jejak sukses PlayStation 4 yang memiliki koleksi game yang luar biasa. Tapi, PS5 berhasil melakukannya! Dengan banyak judul baru, sekuel yang inspiratif, perangkat keras yang ditingkatkan, dan kontroler DualSense yang bikin ketagihan, gaming di PS5 jadi pengalaman yang nggak tergantikan. Namun kini, saat PS5 memasuki fase akhir kehidupannya, perhatian pun mulai beralih ke PS6, dan yang ada di benak banyak gamer adalah: apakah PS6 akan membawa harapan baru atau justru menambah masalah? Masalahnya bukan karena Sony berhenti menghadirkan game yang berkualitas, tapi keputusan-keputusan terbaru mereka bikin banyak orang merasa bahwa visi awal PlayStation mulai memudar.
Ambisi Sony dalam menghadirkan game live-service, proyek yang dibatalkan, strategi perangkat keras yang berubah, peluncuran game yang kurang mulus, dan berakhirnya kerja sama dengan Hideo Kojima semuanya menyumbang pada ketidakpastian ini. Contoh kegagalan terlihat pada Concord dan reaksi yang kurang menggembirakan terhadap Marathon. Malah, game Wolverine dari Marvel yang seharusnya jadi pemenang, juga mendapatkan respons yang campur aduk. Dengan pengalaman bertahun-tahun bermain PlayStation, dari konsol pertama hingga sekarang, banyak yang mulai bertanya-tanya: akankah PS6 hanya memperburuk keadaan ini?
Strategi Live-Service PlayStation Terlalu Mahal
Salah satu perubahan terbesar dalam strategi PlayStation di era PS5 adalah investasi besar-besaran mereka dalam game live-service, diprakarsai oleh mantan presiden Jim Ryan. Ada rencana ambisius untuk meluncurkan 12 game live-service sebelum tahun fiskal 2025. Seandainya berhasil, itu bakal jadi sumber pendapatan yang konstan dan mempertahankan pemain di PS5 lebih lama dari sebelumnya, sekaligus memberikan pengalaman tak ada habisnya dalam dunia-dunia paling populer milik Sony.
Contoh paling jelas adalah Concord. Premisnya menarik dan gameplay-nya solid, tapi sayangnya, model live-service tidak pas sama sekali. Seharusnya itu jadi game yang lebih fokus pada narasi, mirip dengan vibe Guardians of the Galaxy. Dan sangat disayangkan, hanya dalam dua minggu, game ini ditutup karena gagal menarik pemain yang cukup. Yang lebih menyedihkan, developer Firewalk ditutup, bikin semua investasi waktu dan uang jadi sia-sia.
Ini bukan satu-satunya contoh. Sony juga membatalkan game live-service God of War dan multiplayer The Last of Us. Bend Studio dan Bluepoint Games juga merasakan dampaknya, di mana Bluepoint bahkan ditutup. Kebijakan ini mungkin membuat developer kehilangan waktu, tetapi sumber daya yang ada bisa dialihkan ke proyek lain. Namun, ini hanya menunjukkan bagaimana strateginya menggiring sumber daya ke game yang tak sampai ke tangan pemain.
PlayStation Kehilangan Identitasnya yang Spesial

Salah satu aspek paling menyebalkan dari generasi PS5 adalah perubahan hubungan Sony dengan game fisik. Rencana mereka adalah berhenti memproduksi game fisik pada tahun 2028, yang bikin pemain hanya bisa membeli game secara digital. Ini tentu menimbulkan pertanyaan serius tentang kepemilikan game dan membuat fans terbatas dalam memilih tempat membeli game.
Game fisik seringkali mendapatkan diskon yang lebih baik, berfungsi sebagai barang koleksi, dan dapat dijual kembali. Game digital memang praktis, tapi kenyamanan bukan jaminan kepemilikan. Ketika perusahaan beralih ke distribusi digital, mereka mengontrol lebih banyak bagaimana game dijual dan diakses. Bagi gamer yang ingin menjaga koleksi mereka, meminjam game ke teman, atau menjualnya, pergeseran ini menciptakan kekhawatiran nyata tentang masa depan perangkat keras PlayStation. Disk fisik adalah bukti kepemilikan yang nyata; kehilangan ini membingungkan makna kepemilikan itu sendiri.
Kekhawatiran yang sama muncul dengan hubungan Sony terhadap para developer. Physint yang diumumkan sebagai proyek PlayStation, ternyata Sony memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama ini. Beruntungnya, Kojima menemukan partner di Xbox untuk melanjutkan Physint, tetapi ini menunjukkan sikap Sony. Jika mereka mudah memutuskan hubungan dengan salah satu nama terbesar di industri gaming, apa artinya bagi studio lain?
PS6 Butuh Lebih dari Sekadar Perangkat Keras yang Lebih Baik

PS5 tetap jadi rumah untuk beberapa game terbaik generasi ini. Meski beberapa game baru belakangan ini kurang memuaskan, sejarah PS5 tetap dipenuhi judul-judul seperti Ghost of Tsushima, Death Stranding 2: On The Beach, God of War: Ragnarok, dan Horizon: Forbidden West. Game-game ini membuktikan bahwa PlayStation masih punya rilis besar yang bisa menarik pemain. Tapi, banyak di antara game ini adalah judul lama dan tidak bisa terus mendukung konsol selamanya.
Marathon adalah contoh dari kehati-hatian yang muncul. Setelah melewati penundaan dan kontroversi, game ini saat ini kehilangan pemain dengan cepat. Sementara itu, Wolverine juga menuai kritik tajam dari para kritikus dan gamers, menunjukkan penurunan signifikan dari kesuksesan Spider-Man dari Insomniac. Ini menjadi tanda bahwa franchise terkenal dan produksi dengan biaya tinggi tidak selalu menjamin game yang hebat, meninggalkan masa depan studio Sony dalam ketidakpastian.
PS6 masih berpotensi jadi konsol yang luar biasa. Dengan perangkat keras yang lebih baik, waktu loading yang lebih cepat, grafik yang lebih kuat, dan generasi baru game first-party, semua ini sangat dinantikan. Tapi Sony perlu menunjukkan bahwa mereka mengerti alasan orang membeli konsol PlayStation. Yang dibutuhkan pemain adalah game yang berkualitas, perpustakaan yang kuat, dan kepercayaan bahwa pembelian mereka tetap aksesible. Perusahaan masih punya waktu untuk mengatasi kekhawatiran ini, tapi PS6 tidak bisa hanya mengandalkan nama PlayStation untuk maju ke depan.
Reaksi AWverse
Kayaknya bakal seru banget kalau Sony bisa bener-bener mendengarkan masukan dari para pemain dan mempertimbangkan kembali pendekatan mereka. Semoga aja mereka nggak ngulangin kesalahan yang sama di masa depan, karena banyak gamer masih berharap untuk melihat karya-karya brilian dari PlayStation. Kita tunggu aja pembuktiannya pas rilis nanti!

