Selama dua puluh lima tahun terakhir, Devil May Cry menjadi salah satu bintang besar bagi Capcom. Dante, karakter utamanya, telah menjadi ikon di genre action-adventure dengan berbagai pertarungan boss yang seru dan adegan pertarungan yang bikin adrenalina naik. Game ini tetap menjadi salah satu permainan aksi yang paling berpengaruh di zamannya, membuka jalan bagi bangkitnya genre hack-and-slash. Uniknya, Devil May Cry menawarkan kontras yang berlebihan dan penuh gaya dibandingkan dengan franchise horor besar milik Capcom, Resident Evil.
Meskipun beberapa judul dalam seri Resident Evil menyajikan aksi yang cukup mendebarkan, seri ini lebih dikenal dengan suasana survival-horror yang menegangkan. Itulah yang menjadikan fakta bahwa Devil May Cry awalnya dikembangkan sebagai spin-off dari Resident Evil sangat mengejutkan. Dua puluh lima tahun kemudian, keyakinan Capcom terhadap tim pengembangnya berujung pada franchise hebat yang seharusnya sudah diabaikan dari sekuel Resident Evil.
Devil May Cry Hampir Menjadi Game Resident Evil
Game yang akhirnya menjadi Devil May Cry pertama kali diumumkan pada akhir 1999, kurang dari dua tahun sebelum rilis resminya pada 23 Agustus 2001. Rencana awalnya menyebutkan game ini sebagai Resident Evil 4. Hideki Kamiya ditugaskan untuk memimpin proyek ini, memilih pendekatan aksi yang lebih bergaya dibandingkan dengan entry sebelumnya yang lebih tegang. Seiring pengembangan, banyak perubahan dilakukan pada formula Resident Evil. Karakter utama, “Tony,” adalah seorang pejuang superhuman yang sangat berbeda dari protagonis sebelumnya. Pertarungan yang sering kali tidak seimbang dengan sudut kamera tetap membuat tim pengembang memutuskan untuk menyingkirkan latar belakang pre-rendered yang standar dan menggantinya dengan sistem kamera yang lebih dinamis. Daripada mengambil inspirasi visual dari film zombie dan estetika gruesome, game ini justru beralih ke tema medieval berdasarkan karya seni Gotik.
Setelah melihat perubahan besar yang terjadi pada game ini, produser Shinji Mikami memutuskan untuk memutuskan tim pengembang dan membentuk arah baru. Resident Evil 4 menjalani periode pengembangan yang panjang dengan banyak perubahan, tetap mempertahankan nada survival-horror namun lebih mengarah ke aksi. Kamiya, yang kini bebas dari ikatan franchise yang sudah ada, semakin mengekplorasi pengaruh gothic. Cerita mulai mengacu pada puisi epik “Dante’s Inferno,” membawa unsur supernatural dan demonik. Karakter utama, Tony, pun diganti namanya menjadi Dante, sebagai penggambaran pengaruh puisi tersebut. Dante pun berubah sebagai karakter, meninggalkan sisi serius yang ada di Resident Evil dan kini tampil lebih santai dengan keahlian yang konyol. Gaya permainannya yang berlebihan dan karakter yang bombastis saling mempengaruhi hingga menghasilkan Devil May Cry yang kita kenal sekarang.
Kenapa Penting Banget Devil May Cry Berdiri Sendiri
Dalam konteks yang lebih luas, pendekatan pengembangan ini terbukti menjadi sukses besar untuk Capcom. Bebas dari ekspektasi menjadi bagian dari franchise horor terbesar mereka, Devil May Cry bisa berkembang dengan baik. Kritikus dan penonton merespons positif gaya permainan yang ditawarkan, mendapatkan ulasan yang luar biasa dan terjual lebih dari 2 juta kopi dalam lima tahun. Game ini melahirkan franchise baru dengan nuansa dan rasa aksi-petualangan yang berbeda, memberikan Capcom kontras yang ideal dengan franchise horor mereka yang lain. Resident Evil tetap fokus pada survival-horror meskipun juga semakin mengadopsi elemen aksi setelah kesuksesan besar Resident Evil 4. Game ini membantu menghidupkan kembali subgenre hack-and-slash untuk era 3D, membuka jalan untuk game seperti Ninja Gaiden dan God of War.
Lebih dari itu, Devil May Cry berhasil dengan cara yang jauh dari pendekatan tradisional dalam mengembangkan game. Game ini ada karena Capcom bisa melewati risiko alami dari eksperimen, membiarkan para pengembang menciptakan apa yang mereka inginkan alih-alih memaksakan pendekatan yang lebih baku. Menghindar dari terlalu mendekati sumber material, para pengembang ingin menciptakan game unik yang tidak terasa seperti game manapun sebelumnya. Alih-alih menghentikan proyek ketika terlalu berbeda, Capcom membiarkannya berkembang. Tim Devil May Cry akhirnya menghasilkan sesuatu yang sangat unik dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Devil May Cry jadi salah satu contoh paling menarik di dunia gaming modern tentang bagaimana siklus pengembangan yang tidak mulus bisa melahirkan sesuatu yang benar-benar hebat jika para artis diberikan kepercayaan dan ruang untuk berkarya.
Opini Kita
Kayaknya bakal seru banget kalau kita bisa lihat perkembangan lebih lanjut dari franchise ini. Apalagi dengan teknik dan cerita yang semakin menarik di era modern sekarang. Semoga aja Capcom tetap bisa mempertahankan esensi dari apa yang membuat Devil May Cry dicintai sambil terus berinovasi dengan cerita dan gameplay-nya!

