Roadmap untuk Dungeons and Dragons yang diumumkan di Gen Con tahun ini bikin para penggemar jadi bersemangat. Ada banyak pengumuman menarik, termasuk kembalinya setting Dark Sun dan Greyhawk dari edisi-edisi lama. Selain itu, beberapa kolaborasi dengan IP lain juga diumumkan sebagai bagian dari inisiatif “Universes Beyond,” mirip dengan pendekatan yang diambil Magic: The Gathering dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun rencana kolaborasi dengan World of Warcraft dan Star Wars berupaya untuk mengadaptasi D&D agar sesuai dengan dunia tersebut, ada beberapa jagat yang mungkin sulit untuk diadopsi.
Setting fantasi lainnya seperti World of Warcraft, Lord of the Rings, atau bahkan Game of Thrones tampaknya cocok banget untuk Universes Beyond. Namun, semua franchise ini memiliki sistem permainan terpisah selain D&D. Khusus untuk Star Wars, sudah ada konten yang merombak sistem D&D edisi ke-5 agar lebih sesuai dengan settingnya. Di balik semua ekspansi untuk aturan D&D lewat mekanik 5.5e yang baru, tetap ada batasan alami yang akan menghalangi beberapa franchise untuk menjadi crossover yang sukses.
5. Alien/Predator
Franchise Alien atau Predator berakar pada genre sci-fi horor, yang sudah jelas sedikit berbenturan dengan D&D. Meski ekspansi terbaru Ravenloft: The Horrors Within memberikan pemain Domain of Dread yang mengimitasi tema-tema dari kedua seri tersebut, setting ini tetap lebih terikat pada konsep horor gotik dan fantasi ketimbang elemen futuristik. Game-game lain seperti Starfinder atau D&D sendiri dengan Spelljammer juga gagal mengadopsi Alien atau Predator dengan sempurna, karena rasa tak berdaya para karakter dalam setting tersebut nggak cocok dengan fantasi kekuatan yang biasa ada di D&D.
Sudah ada Alien: The Roleplaying Game yang menekankan teror dari film orisinal Ridley Scott di atas aksi bombastis di Alien 2. Satu Xenomorph saja bisa jadi bencana bagi kelompokmu, dan ancaman lain seperti Android nakal atau face hugger juga bisa jadi tantangan besar. Meskipun asik melihat karakter-karakter sci-fi dari Alien dibangun di atas kelas/keterampilan yang sudah ada, sistem inti D&D tetap akan melahirkan karakter yang bisa menghadapi Xenomorph, meskipun hanya sebentar.
Hal yang sama berlaku untuk seri Predator. Meskipun belum ada TTRPG populer untuk franchise ini, rasanya lebih pas saat mengolah perasaan ketidakberdayaan dari film pertama. Meskipun film Predator: Badlands atau Predator: Killer of Killers memberikan pendekatan yang lebih bervariasi, crossover untuk Universes Beyond ini mungkin tidak akan menyoroti sisi-sisi unik dari film-film tersebut. Bermain sebagai berbagai tipe Yautja dalam kelas-kelas D&D mungkin satu-satunya cara ide ini bisa berjalan, tapi secara keseluruhan, kedua franchise ini bukan pilihan terbaik.
4. Marvel Comics
Cerita superhero sangat cocok dengan fantasi kekuatan D&D, tapi setiap hero, anti-hero, dan villain jauh lebih bervariasi daripada organisasi yang biasanya ada dalam TTRPG. Marvel Comics sudah beberapa kali berkolaborasi dengan D&D, terutama untuk Magic: The Gathering, menunjukkan bahwa ada kemitraan penting di sini. Kolaborasi D&D dengan Marvel mungkin sudah dalam tahap pengembangan, entah itu untuk Avengers, Fantastic Four, Spider-Man, atau bagian lain dari semesta komik.
Namun, menurut banyak pihak, ekspansi Marvel Comics di D&D bisa jadi bencana. Sebab, sudah ada sistem TTRPG hebat untuk cerita superhero yang namanya Mutants & Masterminds, yang sudah melalui berbagai edisi dan menyempurnakan perpustakaan gameplay untuk menceritakan segala macam petualangan dengan karakter super. Game ini lebih menekankan personalisasi dan individualisme karakter, mendorong kreativitas pemain bukan hanya memilih jalur dari build yang berbeda seperti di D&D.
Mendefinisikan kekuatan super melalui arketipe tradisional D&D hampir mustahil, dan setiap ekspansi gameplay kemungkinan besar bakal terasa seperti adopsi yang kurang lengkap. Batasan dari Marvel Comics juga membatasi jangkauan crossover ini, lebih mengedepankan stat block untuk karakter-karakter yang sudah dikenal, ketimbang memberikan pemain cara untuk terintegrasi ke dalam dunia Marvel yang kaya. Pada akhirnya, Mutants & Masterminds tetap jadi pilihan yang lebih baik.
3. The Walking Dead
Salah satu Universes Beyond yang mungkin kita lihat untuk D&D adalah The Walking Dead, franchise yang masih dijadikan kenangan manis banyak orang karena dramanya di tengah zombie apocalypse. Namun, ada terlalu banyak hal yang bisa tersakiti oleh crossover ini, apalagi ditambah dengan apa yang sudah diumumkan untuk game tahun depan. The Walking Dead adalah setting yang didefinisikan oleh kurangnya sumber daya, yang mungkin mudah diadopsi untuk gameplay unik, tapi ini sama dengan dunia Dark Sun yang sudah kembali ke D&D.
Apokalips brutal di Dark Sun dengan mudah mengungguli The Walking Dead, membuat yang terakhir terasa seperti versi yang lebih sederhana. Saat pemain memiliki pilihan untuk bertarung melawan Sorcerer Kings dan menemukan artefak ajaib yang kuat di Dark Sun, atau menggunakan shotgun yang diubah menjadi item sihir di kolaborasi The Walking Dead, pilihan yang pertama jelas lebih menarik. Kenyataan bahwa The Walking Dead dapat menjadi pendekatan yang menarik untuk TTRPG, tetapi kurang menarik dibandingkan dengan setting yang lebih fantastis seperti World of Warcraft, Star Wars, atau lainnya.
2. Tomb Raider/Uncharted
Tomb Raider mengalami masalah yang sama dengan The Walking Dead — kurangnya variasi fantastis untuk membenarkan crossover dengan D&D. Game pertama dari Tomb Raider mungkin memperlihatkan dinosaurus dan elemen aneh lainnya, tetapi game-game selanjutnya lebih fokus pada realisme. Sama halnya dengan Uncharted, yang lokasi unik harta karunnya bisa digunakan sebagai setting D&D, tetapi tetap mengalami batasan ala Tomb Raider dalam hal variasi gameplay dan nuansa.
Kedua game ini tidak sepenuhnya cocok dengan arketipe D&D, karena protagonis seperti Lara Croft dan Nathan Drake lebih fleksibel daripada spesialis. Menyusun kelas, subclass, latar belakang, atau feats unik untuk crossover D&D di salah satu setting tersebut pasti menjadi tantangan besar, dan mungkin saja tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. Tomb Raider sudah digunakan untuk Magic: The Gathering, jadi godaan untuk menggunakannya lagi dalam D&D ada, tapi mengandalkan para penggemar seri ini untuk terjun ke D&D terlalu fokus pada audiens yang terlalu kecil untuk sebuah ekspansi yang berpotensi mahal.
1. Transformers
Franchise Transformers, di atas kertas, memiliki semua yang dibutuhkan untuk kolaborasi D&D. Dari variasi karakter yang menarik yang bisa membangun ide gameplay yang berbeda, hingga setting yang khas dengan banyak cerita untuk dijelajahi. Estetika sci-fi juga bukan sifat yang mendefinisikan Transformers, dengan karakter seperti Optimus Prime yang sering menggunakan pedang atau kapak, yang bisa dengan mudah diterjemahkan ke dalam D&D. Namun, sama seperti Marvel Comics, sudah ada sistem yang bekerja jauh lebih baik daripada sekadar terjemahan dari TTRPG fantasi.
Transformers Roleplaying Game adalah sistem yang diterbitkan oleh Renegade Studios, dan telah menyempurnakan gameplay TTRPG ini untuk waktu yang cukup lama. Pemain dalam sistem ini jadi Autobots dengan kelas masing-masing, menciptakan robot mereka sendiri dari awal. Gameplay sistem ini tidak dirancang untuk karakter fantasi, tapi lebih untuk Transformers itu sendiri. Ada mekanik yang sangat terkait dengan lore Transformers, mulai dari apa yang character-mu ubah saat sudah saatnya untuk bertempur, hingga senjata yang digunakan dalam pertempuran melawan ancaman.
Dengan cara kemampuan dan fitur ditata di lembar karakter untuk Transformers Roleplaying Game, terlihat jelas bagaimana franchise sudah membangun TTRPG mereka sendiri tanpa pengaruh D&D. Universes Beyond terburuk yang bisa dikejar oleh Dungeons and Dragons adalah yang sudah memiliki fondasi permainan yang hebat, karena pemain akan selalu memilih sistem yang sesuai dengan IP yang mereka cintai ketimbang game luas yang hanya menjadikan franchise itu sebagai tambahan belaka.
Opini Kita
Bakal seru banget kalau Dungeons and Dragons beneran melakukan kolaborasi dengan setting-sering yang unik. Namun, beberapa franchise di atas sepertinya bukan pilihan yang tepat. Kita bisa berharap mereka lebih fokus pada IP-IP yang mendukung pengalaman RPG yang kaya, biar setiap pemain bisa merasakan kekuatan petualangan yang sebenarnya tanpa harus berjuang dengan batasan yang ada.

