Di dunia gaming yang selalu berkembang, Beast of Reincarnation hadir dengan nuansa berbeda. Game RPG aksi ini diciptakan oleh Game Freak, studio yang terkenal lewat franchise Pokémon. Dengan tanggal rilis yang dijadwalkan pada 4 Agustus 2026 dan banderol harga sekitar $60, game ini menarik perhatian banyak penggemar. Namun, bagaimana gameplay-nya? Mari kita bahas!
Beast of Reincarnation membawa kita ke sebuah dunia sci-fi yang suram, di mana protagonis kita, Emma, berjuang melawan penyakit bernama Blight. Penyakit ini telah mengubah Jepang abad ke-41 menjadi puing-puing hijau yang berbahaya. Emma kehilangan semua emosi akibat malapetaka ini, dan tidak dapat mengingat masa lalunya. Yang menarik, di balik segala kesulitan, dia memiliki kekuatan unik yang bisa mengeluarkan flora tentakel yang agresif. Bersama anjingnya yang juga terinfeksi Blight, Koo, Emma bertekad melawan makhluk misterius yang menjadi sumber malapetaka ini.
Sebagai game aksi, Beast of Reincarnation menawarkan mekanik pertarungan yang inti. Emma ahli menggunakan pedang dan melakukan parry. Jika kamu pernah menikmati Stellar Blade, siap-siap merasakan pengalaman yang mirip di sini, namun dengan banyak pengaturan senjata dan taktik yang lebih bervariasi. Emma juga memiliki busur dan senapan silang yang dapat dimodifikasi untuk menghadapi musuh yang lebih kuat.
Meski terlihat klise pada pandangan pertama, dan mungkin menggoda untuk mengatakan game ini hanya sekadar ceriakan dari game lain seperti Sekiro dan Final Fantasy, nyatanya Beast of Reincarnation memiliki pendekatan yang sangat berbeda. Alih-alih berfokus hanya pada kecepatan dan kelincahan, gameplay ini juga menggabungkan nuansa melankolis yang sangat dalam. Menariknya, game ini tidak hanya mengandalkan intensitas aksi, tapi juga menawarkan saat-saat tenang yang bikin kita merenung, seolah menyelami emosi karakter yang ada.
Desain pertarungannya luar biasa, terutama saat menghadapi boss-boss atau mini-boss. Keselarasan gerakan Emma, mulai dari penggunaan busur, rambutnya yang magis, hingga teknik pedangnya, menciptakan momen yang nyaris balet. Momen-momen ini menonjol di tengah atmosfer yang suram dan kepungan visual yang sering kali terasa terlalu rumit dan hijau. Label double-A untuk game ini bisa debatabel, tapi satu hal yang pasti: ada sesuatu yang istimewa dalam presentasinya.
Kendati beberapa elemen desain musuh terasa kurang menggigit—sering kali tampak begitu acak di peta, tantangan terbesar terletak pada menghindari serangan yang mematikan. Keberadaan checkpoint yang melimpah membuat game ini tidak terlalu menghukum pemain jika mati, namun bisa jadi mengurangi ketegangan. Tapi, saat berhasil mencapai titik climax dalam permainan, pengalaman ini terasa sangat memuaskan.
Untuk performa di PC, beberapa perangkat mungkin mengalami kesulitan, terutama di laptop gaming dengan spesifikasi mendekati minimum. Meskipun adanya patch performa yang dikeluarkan, penting untuk mempersiapkan perangkat yang cukup kuat untuk merasakan pengalaman terbaik dari Beast of Reincarnation.
Opini Kita
Beast of Reincarnation jelas memiliki daya tarik tersendiri dan bisa jadi angin segar di dunia game RPG aksi. Meskipun pendekatan visual dan gameplay mungkin tidak sempurna, karakterisasi dan narasi yang mendalam membuatnya mencuri perhatian. Semoga hal ini bisa jadi pembuktian bahwa Game Freak mampu membuat karya monumental di luar dunia Pokémon!

