Kabar terbaru di dunia gaming datang dari PlayStation, yang bikin pengumuman besar tentang bagaimana brand mereka akan berkembang ke depan. Ini terjadi setelah Xbox, sebagai pesaing utama, melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan pemusatan pada pengurangan karyawan dan penutupan studio. Kayaknya Sony juga lagi berusaha beradaptasi dengan pasar yang berubah ini, tapi keputusan mereka mendapatkan banyak reaksi negatif karena dampak yang mungkin ditimbulkan.
Biaya pembuatan game AAA memang semakin melonjak akhir-akhir ini, dipicu oleh tingginya biaya teknologi, terutama yang berkaitan dengan AI. Menjawab tantangan ini, PlayStation memutuskan untuk menaikkan harga konsol PlayStation 5 di semua pasar. Di saat yang sama, Sony mulai lebih mengontrol apa yang bisa dimiliki pemain di perangkat PlayStation, yang membuahkan pengumuman terbaru yang bikin heboh.
Rencana PlayStation Menghentikan Produksi Disk Fisik Sebelum 2028
Di publish pada tanggal 1 Juli 2026, PlayStation mengumumkan bahwa mereka berencana untuk meninggalkan format fisik dan beralih ke digital sepenuhnya pada tahun 2028. Mereka menyebutkan bahwa keputusan ini berlandaskan pada “pergeseran tren preferensi konsumen” yang juga tercermin dalam industri hiburan secara keseluruhan. Game-game baru ke depannya hanya akan diluncurkan di PlayStation Store dan di pengecer dalam format digital, kemungkinan lewat kode yang bisa diambil pemain saat pembelian.
Tampaknya ini juga mencerminkan preferensi internal Sony. Meski mereka menyatakan bahwa perubahan ini akan lebih sejalan dengan cara kebanyakan komunitas mereka bermain, para gamer dari semua platform seperti PlayStation, Xbox, Nintendo, dan khususnya PC menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Terlihat jelas mengapa reaksi ini terjadi, mengingat semua perusahaan memang beralih dari gaming fisik selama beberapa tahun terakhir.
Xbox, misalnya, sudah terkenal dengan dorongannya untuk mengunduh game dari Xbox Game Pass. Sementara itu, Nintendo juga ikut berkontribusi dengan menetapkan harga yang lebih tinggi untuk game fisik, yang bikin cara tradisional memperoleh game jadi semakin sulit. Nintendo pernah mematok harga hingga $10 lebih mahal untuk kartu fisik tertentu, dan ini jadi makin rumit sejak adanya konsol handheld seperti Nintendo DS. Kedua perusahaan ini tampaknya nekad untuk membuat pembelian game fisik jadi lebih mahal dan sulit.
Memperoleh Game Secara Fisik Semakin Sulit
Perusahaan sudah lama enggan untuk mengeluarkan kembali judul-judul lama dalam format fisik, sehingga seringkali hanya ada batasan-batasan pada rilis ulang atau koleksi baru. Akibatnya, mendapatkan game-game lama jadi hampir mustahil dan harganya pun melambung tinggi. Misalnya, cartridge fisik dari Pokemon Emerald bisa dihargai antara $200 hingga $280, sementara Pokemon LeafGreen dan FireRed yang sudah dijadikan digital cuma seharga $19,99 di digital store Nintendo Switch 2.
Ritel pun semakin jarang menjual judul-judul terbaru, yang mencerminkan penurunan substansial di media fisik. Beberapa game fisik bisa dihargai sangat tinggi, dengan pengecer yang kadang menjual game yang sudah sepuluh tahun di pasaran dengan harga penuh hanya karena status fisiknya. Secara keseluruhan, distribusi digital jauh lebih mudah diakses untuk para pemain. Jadi, meskipun ada nilai dalam koleksi fisik, game digital jadi semacam tren yang mengarah pada keputusan kontroversial PlayStation ini.
Layanan Online Mengubah Kepemilikan Game
Mungkin kita tidak akan melihat Sony berubah pikiran mengenai game fisik, menandakan potensi akhir dari tren gaming yang sudah ada sejak lama sebelum konsol Sony pertama kali diluncurkan. Masalah utama dari game digital adalah cara kepemilikan bergeser dari pemain ke perusahaan besar, yang bisa saja mengambil kembali hak kepemilikan kapan saja.
Beberapa judul game sudah membatasi cara bermainnya, seperti mewajibkan pemain memiliki koneksi online, berlangganan PS+, atau aplikasi pihak ketiga tertentu. Bahkan, Ubisoft sempat menuai kritik karena mengklaim bahwa “pemain tidak seharusnya memiliki game mereka sendiri,” dan ini tampaknya menjadi sikap yang diadopsi Sony belakangan ini. Hak konsumen menjadi semakin rumit dalam sistem digital murni, seperti yang sudah terlihat dengan batasan-batasan di Xbox Game Pass.
- Pemeliharaan judul-judul lama jadi semakin sulit.
- Game bisa saja dihapus dari digital store kapan saja, membuatnya hilang selamanya.
- Penghapusan eksklusif konsol tidak dapat dipulihkan.
- Layanan otorisasi atau langganan mungkin diperlukan untuk mengakses game tertentu.
- Game digital membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih besar, meningkatkan biaya untuk konsol yang butuh penyimpanan tambahan.
Game digital memang berisiko dari sisi hak cipta dan kepemilikan, menghilangkan sebagian dari daya tarik game fisik. Meski semakin sulit mendapatkan game fisik, mereka tetap menyimpan koneksi historis dengan media. Kaya biasanya, memiliki koleksi film atau seri favorit juga berarti kita bisa nonton kapan saja, tanpa harus bergantung pada layanan streaming. Sekarang, kita tinggal lihat apakah perusahaan lain akan mengikuti langkah PlayStation ini, karena pilihan Sony mungkin saja jadi pemicu bagi yang lainnya.
Reaksi AWverse
Keputusan PlayStation ini adalah pengumuman yang bikin penasaran, sekaligus bikin khawatir. Semoga aja mereka bisa mempertahankan aksesibilitas game-game mereka, karena gamer pasti tidak mau kehilangan kesempatan buat memainkan favorit mereka. Kayaknya bakal seru banget kalo mereka bisa menghadirkan inovasi dengan format digital tanpa mengorbankan pengalaman bermain yang diinginkan oleh banyak orang.





