Beberapa film horror paling ikonik yang menjadi klasik kultus ternyata awalnya disambut dengan dingin oleh penonton bioskop saat pertama kali tayang. Ada banyak alasan mengapa film-film horror ini tidak berhasil menarik perhatian penonton. Genre horror sering kali bikin banyak orang meragukan kemampuan mereka untuk menghadapi tema yang muncul di dalamnya.
Selain itu, banyak film yang dirilis bersamaan dengan kompetisi yang cukup kuat sehingga mereka tidak bisa bersinar di box office. Namun, kabar baiknya, box office bukanlah satu-satunya ukuran untuk menilai warisan sebuah film horror dalam sejarah. Dulu, banyak orang menemukan film-film horror ketika browsing di toko penyewaan video. Sekarang, platform streaming contohnya Netflix, memungkinkan lebih banyak orang menemukan film horror daripada membeli tiket di bioskop.
Metode penemuan film ini, meskipun bertahun-tahun setelah kegagalannya di box office, memungkinkan penggemar menemukan beberapa entry yang sangat definif dalam genre itu. Ada kasus di mana film-film ini baru dianggap klasik kultus lebih dari satu dekade setelah dirilis. Bagi beberapa film, mereka hanya perlu keluar dari layar bioskop dan menemukan tempatnya yang tepat di televisi rumah penonton.
Event Horizon (1997)
Paul W.S. Anderson dikenal sebagai raja adaptasi video game, tetapi sebelum itu, dia menyutradarai film horror yang sangat mengerikan berjudul Event Horizon. Film ini menghabiskan biaya produksi sekitar $60 juta, namun hanya berhasil meraih $421 juta di seluruh dunia, yang menyebabkan kerugian cukup besar.
Salah satu alasan utama kegagalan film ini adalah ulasan negatif yang meremehkan, banyak yang menyebutnya tidak koheren dan terkesan plagiarisme. Salah satu masalah besar yang membuatnya tampak tidak koheren adalah keputusan studio (Paramount) yang memotong sekitar 30 menit durasi tayang sebelum perilisan, menghilangkan beberapa adegan horror terbaik dari film ini.
Meski begitu, Event Horizon akhirnya menjadi klasik kultus berkat perilisan DVD dan tayangan di televisi kabel selama bertahun-tahun. Transformasi Sam Neill dari seorang ilmuwan menjadi vessel demonik itu sangat mengganggu dan menjadi salah satu yang terbaik di genre ini. Hari ini, banyak pembuat film horror menyebut Event Horizon sebagai pengaruh, dan film ini tetap dianggap sangat kurang dihargai oleh para penggemar genre.
Tremors (1990)
Tremors adalah film horror yang hanya menghasilkan $16,7 juta dari anggaran $11 juta, dan awalnya tampaknya bakal gagal total di box office. Namun, film ini justru bersinar ketika dirilis dalam format video, menjadi hits besar di rak penyewaan video.
Kevin Bacon dan Fred Ward tampil cemerlang dalam peran utama, dan dialog mereka memberikan nuansa humor yang pas di era di mana komedi dan ketegangan mulai menjadi satu kesatuan. Film ini juga menampilkan Reba McEntire, bintang musik country yang berperan dalam film ini yang juga bertindak sebagai pemicu untuk ending yang brilian.
Meski box office terlihat merugikan, kesuksesan di video rental membuat Tremors menjadi salah satu rilis VHS terlaris pada tahun 1990. Kini, film ini tidak hanya menjadi klasik kultus, tapi juga melahirkan franchise dengan tujuh sekuel dan sebuah seri TV.
Army of Darkness (1992)
Film pertama Evil Dead adalah salah satu cerita sukses VHS yang awalnya mendapat perhatian karena rekomendasi Stephen King dan word-of-mouth yang kuat. Film tersebut, yang diproduksi dengan biaya minim oleh teman-teman kuliah, melahirkan sekuel/remake yang dianggap sebagai salah satu film horror terbaik sepanjang masa.
Namun, film ketiga dalam franchise ini, Army of Darkness, mengalami kegagalan besar. Film ini berusaha mengubah genre horror menjadi komedi sci-fi yang lebih konyol, menghabiskan biaya $11 juta dan hanya menghasilkan $21,5 juta di box office. Meskipun tidak merugikan secara langsung, hasil ini sangat mengecewakan bagi franchise.
Walaupun demikian, Bruce Campbell tetap bertransformasi menjadi salah satu bintang utama komedi-horror terbaik, dan dialog ikoniknya masih dikenang hingga sekarang. “This is my boomstick” menjadi salah satu kutipan paling sering diulang, yang akhirnya memicu lahirnya seri TV dan dua film spin-off, serta video game dan komik. Army of Darkness benar-benar klasik kultus yang nyata.
Grindhouse (2007)
Di tahun 2007, Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez bergandeng tangan untuk menciptakan sebuah cinta bagi film-film grindhouse klasik. Namun, film ini dipastikan tidak akan sukses di box office karena audiens niche yang hanya terdiri dari penggemar kedua sutradara dan pencinta film-film tua yang buruk.
Grindhouse menampilkan dua film, Death Proof karya Tarantino dan Planet Terror karya Rodriguez, ditambah serangkaian trailer palsu dari sutradara seperti Edgar Wright dan Eli Roth. Secara keseluruhan, film ini menghabiskan biaya $53 juta tetapi hanya meraih $25 juta di pasar domestik, yang menjamin kegagalan di box office.
Meski begitu, film ini memiliki penggemar kultus yang besar, dengan banyak yang menghargai apa yang dilakukan Tarantino dan Rodriguez untuk film-film murah zaman dulu. Trailer palsu Grindhouse bahkan memiliki penggemar kultus tersendiri, dengan tiga di antaranya, Machete, Hobo With a Shotgun, dan Thanksgiving, semuanya diubah menjadi film tersendiri.
Dead Alive (1992)
Tahun-tahun sebelum menyutradarai Lord of the Rings, Peter Jackson mengarahkan Dead Alive, juga dikenal sebagai Braindead, sebuah film horror-komedi yang bisa dibilang termasuk yang paling berdarah dalam sejarah perfilman. Meskipun sukses di Selandia Baru, film ini dibuang ketika dirilis secara internasional dengan sebutan “juvinile” dan hanya sebagai tontonan “brainless gross-out”.
Cerita film ini mengikuti seorang ibu dan anak yang terjebak dalam situasi sulit ketika sang ibu digigit monyet rabies dan berubah menjadi makhluk mirip zombie. Ketika infeksi menyebar, sang anak harus mencari cara untuk menghentikannya. Adegan terakhir dari sudut pandang pemotong rumput yang membunuh monster terinfeksi menjadi salah satu adegan paling lucu dan menggugah rasa ngeri.
Peter Jackson sendiri menganggap Dead Alive sebagai salah satu film kesukaannya, dan sutradara seperti Sam Raimi dan Edgar Wright menyebutkan film ini sebagai pengaruh besar pada semua film horror yang dirilis setelahnya. Kebahagiaan dalam kehingaran tersebut membuatnya menjadi favorit kultus di kalangan penggemar genre horror.
Slither (2006)
Sulit dipercaya bahwa James Gunn memulai karir penyutradaraannya dengan film horror, Slither. Pria yang kini memimpin DCU ini mengalami kegagalan box office dalam usaha penyutradaraannya yang pertama. Film ini menghabiskan biaya $15 juta dan hanya meraih $7,8 juta di box office.
Pemainnya luar biasa, dengan Nathan Fillion dan Elizabeth Banks sebagai protagonis, dan Michael Rooker—yang kemudian bekerja sama dengan Gunn di The Guardians of the Galaxy—berperan sebagai penjahat. Gunn, yang mulai bekerja untuk Troma, membawa nuansa horor konyol ke dalam film ini dan langsung menjadi klasik kultus.
Saat banyak orang menghindari film ini di bioskop, Slither justru menjadi hit besar di video rumahan, dan terus menanjak dalam reputasi saat ditayangkan di TV kabel malam. Kini, dengan James Gunn ada di puncak karir Hollywood-nya, lebih banyak orang mulai menemukan Slither, dan film ini layak mendapatkan perhatian yang lebih.
Ginger Snaps (2000)
Ginger Snaps adalah salah satu film werewolf terbaik, sejajar dengan An American Werewolf in London dan Dog Soldiers. Namun, film ini bukanlah kesuksesan di box office, menghasilkan hanya $572,000 dari anggaran $4,5 juta.
Kisahnya menarik perhatian, karena mengaitkan lycanthropy dengan pubertas wanita dan pengalaman remaja. Katharine Isabelle sangat menonjol dalam perannya sebagai Ginger, wanita muda yang menjadi werewolf, sementara Emily Perkins berperan kuat sebagai Brigitte, saudara yang berusaha melindunginya dengan segala cara.
Meskipun tidak mendapatkan keuntungan ketika pertama kali dirilis, film ini memiliki dua sekuel karena audiens yang menemukannya melalui video ingin melihat lebih banyak. Film ini awalnya adalah produksi Kanada yang kini memiliki penggemar banyak di berbagai negara berkat tema-temanya yang dalam.
Trick ‘r Treat (2007)
Salah satu film antologi horror terbaik adalah juga salah satu film Halloween terbaik, Trick ‘r Treat. Digarap oleh Michael Dougherty, rilis film ini ditunda oleh studio, yang memutuskan untuk menahannya hingga 2009 dan hanya meluncurkan versi DVD dengan promosi minim.
Namun, di sinilah film tersebut menjadi salah satu hit instan pada 2009, sehingga film ini menjadi bagian penting saat Halloween, dengan karakter kecil setan, Sam, menjadi salah satu kostum Halloween paling populer meski tidak pernah dipromosikan. Hal ini menunjukkan betapa hebatnya ceritanya dan penampilan cast yang luar biasa.
Trick ‘r Treat menceritakan empat kisah malam Halloween yang saling berhubungan di sebuah kota kecil dengan berbagai rahasia gelap, pembunuhan, dan balas dendam. Film ini akhirnya mendapatkan rilis di bioskop pada 2022, yang membuktikan bahwa pengikut kultusnya lebih kuat daripada yang pernah diyakini studio.
Rocky Horror Picture Show (1975)
The Rocky Horror Picture Show adalah produksi yang menarik karena awalnya terbukti menjadi kegagalan besar di box office dan studio tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, alih-alih menyerah, studio mencoba mengadakan pemutaran film di kampus, dan ketika itu juga tidak mendapatkan respon yang baik, mereka mencoba pemutaran tengah malam yang akhirnya menjadikan film ini hits.
Film ini kemudian menjadi rilis teatrikal terlama dalam sejarah, bertahan selama 50 tahun di bioskop hingga 2025. The Rocky Horror Picture Show adalah film horror-komedi-musikal tentang makhluk alien yang ingin menciptakan Monster Frankenstein untuk dijadikan teman.
Meskipun film ini awalnya tidak menghasilkan banyak, kini film ini telah melampaui $139 juta di box office selama 50 tahun terakhir dan terus menjadi klasik kultus yang tayang di seluruh dunia dalam pertunjukan tengah malam.
The Thing (1982)
Film karya John Carpenter, The Thing, dirilis hanya dua minggu setelah E.T. the Extra-Terrestrial, dan hal itu menjadi penyebab kehancurannya. Tahun 1982 adalah salah satu tahun terbaik untuk film sci-fi, dengan E.T., The Thing, dan Blade Runner dianggap sebagai yang terbaik. Namun hanya E.T. yang meraih sukses, sementara yang lainnya tidak.
The Thing mengalami kerugian terparah. Gagal di box office mengakibatkan karier John Carpenter terhambat, bahkan dia kehilangan kesempatan untuk menggarap film Stephen King. Film ini menghasilkan $19,6 juta dari anggaran $15 juta, yang sangat mengecewakan. Kritikus juga memberikan ulasan negatif dan mengkritik elemen horor dan efeknya.
Namun, justru kritik tersebutlah yang membuat The Thing menjadi favorit kultus yang masif, meskipun dibutuhkan lebih dari satu dekade sebelum film ini bangkit kembali berkat penayangan di jaringan kabel. Kini, lebih dari 40 tahun kemudian, The Thing tetap menjadi contoh terbaik sebuah film box office flop yang bertransformasi menjadi salah satu film horror paling dicintai dan berpengaruh dalam sejarah perfilman.





