Cave Story itu adalah salah satu game yang bikin dunia indie terpicu, dan khususnya menghidupkan genre platformer, termasuk metroidvania, saat pertama kali muncul di PC pada tahun 2004. Karya Daisuke Amaya ini punya pengaruh yang gede banget terhadap game-game modern seperti Celeste dan VVVVVV. Tapi, dampak nyata dari Cave Story adalah berhasil menunjukkan bahwa satu orang saja bisa menciptakan game keren dalam waktu luangnya dan bisa jadi viral hanya dari mulut ke mulut.
Seiring berjalannya waktu, industri game udah banyak berubah. Sekarang, ribuan game berebut perhatian kita. Meski demikian, Cave Story tetap bertahan. Versi barunya, Cave Story+, baru saja mendapatkan pembaruan besar di Steam, yang bikin game ini setara dengan versi Nintendo Switch. Pembaruan ini udah ditunggu lama banget, bahkan Cave Story+ dirilis di Switch sembilan tahun yang lalu, dan versi sebelumnya muncul di konsol Wii dan DS. Para pemain PC udah menantikan pembaruan yang signifikan selama itu.
Fitur utama yang ditambahkan adalah mode co-op lokal untuk dua pemain, yang sepertinya agak menakutkan bagi sebagian orang, terutama di platformer yang sangat mementingkan presisi. Tapi, jika mau coba, fitur ini ada dan banyak yang menyukainya.
Perubahan besar lainnya itu adalah visual yang dirombak habis-habisan, mulai dari potret dialog animasi sampai air yang lebih realistis, dukungan widescreen, serta beberapa pengaturan kesulitan yang “kecil” (konon, menumpuk anjing sekarang jadi lebih mudah) dan juga level Sand Pit Challenge. Gak ketinggalan, ada empat versi soundtrack yang bisa dipilih juga.
Dukungan mod juga sudah ada, tapi jika dilihat dari catatan patch-nya, sepertinya tidak mendukung level yang dibuat pengguna, lebih ke perubahan kosmetik seperti paket grafis, font, filter layar, dan suara. Catatan patch lengkapnya, yang *sangat* panjang, bisa dilihat di halaman Steam game ini.
Apakah harus main Cave Story+ di tahun 2026? Jawabannya, tentu saja. Meskipun vibe-nya gak seasyik sebagian besar metroidvania modern yang populer, dan ada beberapa bagian yang bikin jengkel (walau mungkin pembaruan ini udah memperbaiki beberapa bagian yang cukup menyulitkan), game ini tetap punya daya tarik dengan naratif yang menawan dan punya peran penting dalam sejarah medium ini.
Kalau penasaran lebih jauh, Daisuke Amaya juga merilis sekuelnya, Kero Blaster, di tahun 2015. Penulis belum sempat main, tapi game ini udah ada di wishlist selama lebih dari satu dekade sekarang.




