Home Movie Nagarjuna Akkineni Rayakan 40 Tahun Karier dengan Film Ke-100 yang Menggugah!
Movie

Nagarjuna Akkineni Rayakan 40 Tahun Karier dengan Film Ke-100 yang Menggugah!

Share
Nagarjuna Akkineni Rayakan 40 Tahun Karier dengan Film Ke-100 yang Menggugah!
Share

Di antara momen penting dalam karirnya, Akkineni Nagarjuna menciptakan gebrakan lewat film “Gitanjali” karya Mani Ratnam pada akhir tahun 1980-an dan kini memasuki film ke-100 dalam hidupnya. Dia adalah anak dari legenda sinema India, Akkineni Nageswara Rao, dan selama empat dekade, Nagarjuna menunjukkan bahwa perjalanan karirnya baru saja dimulai.

Nagarjuna membangun karir yang mengesankan sejak pertengahan 1980-an dengan banyak film bersejarah, termasuk “Gitanjali” yang meraih Penghargaan Film Nasional India pada tahun 1989, thriller aksi “Shiva” dari Ram Gopal Varma, serta film-film epik seperti “Annamaya” dan “Sri Ramadasu.” Selain berkarir di sinema Telugu, Nagarjuna juga menjajal Bollywood lewat film seperti “Brahmastra” dan memainkan peran utama sebagai mantan pejabat CBI di “Kuberaa,” serta menjadi villan di “Coolie” bersama Rajinikanth. Di samping itu, dia juga mengelola Annapurna Studios, salah satu fasilitas produksi paling bersejarah di India. Dalam percakapan dengan Variety, Nagarjuna kembali melihat masa lalunya dan proyek ambisius yang siap dipersiapkan untuk menciptakan dampak maksimal.

Dia ingat dengan jelas saat identitasnya sebagai aktor mulai terbentuk. Meski film-film Telugu awalnya cukup sukses, “Gitanjali” lah yang mengubah segalanya. “Itu adalah saat di mana saya merasakan pijakan yang kuat dalam karir saya,” ujarnya. Ini terjadi saat anak muda, terutama siswa, mulai mencari sesuatu yang baru dalam sinema India selatan. “Mereka menginginkan perubahan dari film-film yang ada. Saya beruntung menjadi orang yang pertama merasakannya.”

Inline – HLD One Day Trip

Berkarir di berbagai industri film India, Nagarjuna menemukan bahwa cerita yang berakar pada budaya dan emosi India adalah yang paling tahan lama. Menurutnya, lokasi luar negeri dan sensibility Barat hanyalah fase yang berlalu. “Karya yang saya buat selalu terhubung dengan budaya dan emosi kita. Itu yang disukai oleh penonton,” tambahnya. Dia juga menyentuh budaya bintang, di mana industri Telugu dan Tamil memiliki pengikut yang sangat setia, yang sudah ada sejak zaman ayahnya dan N.T. Rama Rao.

Baca juga  Sekuel Baru Peaky Blinders di Netflix: Dibilang Mirip Film WWII Klasik ala Gregory Peck, Ungkap Aktor Penjahat!

Di antara proyek yang paling berarti bagi Nagarjuna adalah “Annamaya” dan “Sri Ramadasu.” Keduanya menggabungkan tema-tema devosi, musik, dan daya tarik massal dengan cara yang jarang dilakukan dalam film komersial Telugu pada masanya. Di film “Annamaya,” ia berperan sebagai Annamacharya, seorang penyair suci dari abad ke-15 yang terkenal dengan karya-karyanya untuk Tuhan Venkateswara. Proyek ini memberinya pengalaman spiritual yang mendalam, bahkan unit produksi bekerja dengan rasa hormat tinggi seolah-olah mereka berkontribusi untuk Tuhan.

Dia mengingat dengan jelas bahwa “Sri Ramadasu” juga mengubah pandangannya secara mendalam. “Saya sudah belajar tentang kisah ini sejak kecil, dan saat mewujudkannya di film, itu membuka kesadaran baru bagi saya.”

Inline – HLD Private Trip

Membahas soal warisan, Nagarjuna menganggapnya dengan kebanggaan dan ketelitian. Menurutnya, warisan tidak bisa diwariskan begitu saja, melainkan harus dihormati dan dibuktikan. “Saya merasa beruntung bisa menjadi seperti ayah saya, namun anak-anak saya juga harus melewati ujian yang sama.”

Saat ditanya tentang perubahan struktural yang membawa sinema Telugu meraih kesuksesan global, ia menegaskan bahwa skala film sudah ada sejak lama. Film-film Telugu dan Tamil sudah menarik perhatian di berbagai pasar, termasuk Jepang, jauh sebelum tren ini muncul. “Seiring berjalannya waktu, sensibilitas para pembuat film tetap sama—mereka kembali ke desa mereka untuk merayakan festival, terhubung dengan tradisi bercerita yang lebih besar dari kehidupan,” ungkapnya.

Nagarjuna juga mengungkap bahwa saat ini ia berusaha memperluas jangkauan perannya sebagai aktor. Dia menyebut perannya di “Kuberaa” sebagai mantan CBI yang berjuang antara kemiskinan dan kekayaan sebagai salah satu peran yang dicari. “Saya ingin bereksperimen dan mencoba hal-hal baru.” Dia menyebut peran kecil tapi berkesan dalam “Brahmastra” sejalan dengan aspirasi ini. “Saya tidak harus selalu menjadi pemeran utama, tapi juga ingin memainkan peran utama. Pilihan saya kini semakin luas.”

Inline – AWS Open Trip
Baca juga  Jason Statham Hampir Meninggal Saat Syuting Film Aksi 126 Menitnya yang Memacu Adrenalin!

Di tengah persiapan film ke-100 yang masih dalam produksi, yang kini bernama sementara “King 100,” Nagarjuna tidak ingin mengungkapkan terlalu banyak detail. Dia menyebut film ini sebagai “naskah komersial total” dengan drama ayah-anak dan elemen rags-to-riches. Teknologi de-aging akan digunakan untuk menunjukkan dirinya dari usia 25 hingga 60 tahun. Berada di tengah casting yang melibatkan Tabu dan Sushmita Bhatt, ia berencana merilis informasi lebih lanjut secara besar-besaran nanti.

Untuk tahap karir selanjutnya, Nagarjuna tidak melihatnya sebagai fase baru. “Saya tidak pernah memikirkan itu seperti itu,” tutupnya.

Inline – AWV Youtube
Share