Ada sesuatu yang spesial dari film-film science fiction tahun 1980-an yang bikin kita kadang-kadang berhenti di tengah penjelasan dan bertanya-tanya, apakah semua ini nyata? Alien terdampar dengan musuh bebuyutannya. Vampir luar angkasa kabur dari Komet Halley. Sekelompok anak-anak skateboard berjuang untuk masa depan Bumi. Angkatan bersenjata super rahasia yang mengendarai mobil sport berlapis senjata. David Lynch mengadaptasi Dune. Semua film ini nyata, mereka menghabiskan banyak biaya, dan seseorang di Hollywood pernah bilang, “Ya, ayo buat itu.”
Makanya, sudut genre yang satu ini dari sinema tahun ’80-an sangat seru. Film-film ini mungkin bukan yang terlaris di zamannya, bahkan beberapa di antaranya bisa dibilang gagal secara finansial, tapi mereka memiliki sesuatu yang sering kali hilang dari film-film studio modern: rasa tidak terduga bahwa pada saat itu, tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang mungkin. Mari kita kembali ke masa-masa indah ketika ide-ide aneh bisa menjadi taruhan senilai $20 juta, seorang sutradara bisa membangun seluruh dunia di sekitarnya, dan penonton masuk ke bioskop tanpa tahu apa yang akan mereka tonton. Selamat datang di dunia film sci-fi retro.
5) Dune – 1984
Dune adalah film yang bikin banyak orang terjebak dalam perasaannya. Melihat David Lynch mengadaptasi novel Frank Herbert ini seolah membawa penonton ke dunia penuh pasir, suara aneh, cacing raksasa, dan Sting yang seakan tersesat dari film lain. Patrick Stewart membawa anjing pug ke medan perang. Film ini luar biasa, membingungkan, dan tidak seperti apa pun di televisi saat itu.
Ketika melihat lebih dalam, tampak jelas bahwa Lynch mencoba menciptakan sesuatu yang besar. Dengan anggaran yang selangit, banyak set, ratusan kru, dan ribuan figuran, film ini berusaha merangkum novel yang dikenal padat ke dalam satu tayangan. Adaptasi ini memang tidak mulus, terkadang konyol, dan kadang kita bisa merasakan film ini berlari untuk mengejar naskahnya sendiri. Namun, lihatlah apa yang ditampilkan Lynch. Dia ambil jalan epik, operatik, teatrikal, dan penuh keanehan. Walaupun setiap adegan mungkin sulit dimengerti, rasa ingin tahu untuk menjelajahi semesta itu tetap ada.
4) Megaforce – 1982

Ide di balik Megaforce itu bikin penasaran, meski filmnya sendiri kadang menguji kesabaran. Sutradara Hal Needham, yang sebelumnya adalah stuntman, menciptakan pasukan internasional rahasia dengan motor futuristik dan kendaraan tempur. Barry Bostwick berperan sebagai Ace Hunter, nama yang sepertinya biasa pada tahun 1982. Film ini dikabarkan menghabiskan biaya sekitar $18 juta namun hanya menghasilkan sedikit dari jumlah itu.
Kalau direnungkan, film ini masih seru untuk ditonton, meski klaimnya berlebihan dan ambisinya luar biasa. Produksi ini seakan jadi ajang bagi para pemain dan kru untuk mewujudkan impian masa kecil mereka. Jika kamu penggemar M.A.S.K. dan Mad Max, film ini pasti bikin kamu bersemangat. Meski bisa dibilang aneh, Megaforce bikin kita kembali ke masa kanak-kanak, saat segala sesuatu tampak mungkin dan seru.
3) Enemy Mine – 1985

Kali pertama mendengar cerita produksi Enemy Mine, rasanya seperti mendengar sesuatu yang dilebih-lebihkan. Tapi ternyata tidak. Dennis Quaid berperan sebagai Willis Davidge, seorang pilot manusia yang terjebak dengan Drac. Seiring cerita berkembang, film ini menjadi lebih personal. Meskipun efek visualnya terasa kuno, pesan tentang persahabatan di antara musuh ini tetap relevan.
Proses produksi film ini mengalami banyak perubahan, menciptakan masalah yang cukup serius. Namun, di balik semua ketegangan tersebut, ada cerita tentang dua musuh yang terjebak dalam situasi dan harus belajar untuk saling percaya. Ini adalah film sentimental dengan pesan yang hangat, dan kadang membuat penonton terharu, tanpa disangka.
2) Lifeforce – 1985

Kalau dibilang Lifeforce itu aneh, itu masih jauh dari kata yang tepat. Film ini mengisahkan tentang Komet Halley, astronaut, pesawat luar angkasa misterius, dan makhluk vampir. Siapa pun yang mendengarnya pasti berpikir ini campuran dari beberapa film berbeda. Tobe Hooper berani mengambil risiko dengan menyajikan film yang seakan tak malu akan keanehannya sendiri.
Film ini mungkin agak berlebihan, tapi semangat serta komitmennya untuk menyajikan sesuatu yang baru jelas terlihat. Melihat Patrick Stewart sebelum menjadi Jean-Luc Picard adalah bonus tersendiri yang patut diperhatikan.
1) Solarbabies – 1986

Judul Solarbabies mungkin bikin orang berpikir ini film anak-anak, padahal ini adalah film sci-fi post-apokaliptik tentang anak-anak yatim piatu yang tinggal di bawah pemerintahan otoriter. Mereka tidak hanya berkeliaran di gurun, melainkan ber-skatboard. Muncul sosok misterius bernama Bodhi, dan ada kendaraan futuristik dalam dokumen produksi yang menghabiskan banyak biaya.
Anggaran film melonjak dari $5 juta menjadi sekitar $25 juta, meski ada momen di mana film ini terasa keluar jalur. Namun, film ini berhasil menangkap semangat tahun ’80-an yang percaya bahwa anak-anak bisa menyelamatkan dunia. Keunikan ide ini bikin penonton terkesan, meski sulit untuk diambil serius di era sekarang.
Banyak dari film-film sci-fi ini mungkin sulit ditonton sekarang, tapi ada kesedihan tersendiri saat tahu bahwa Hollywood mungkin tidak akan mengambil risiko untuk menciptakan film seaneh ini lagi.
Reaksi Kita
Serius deh, kita perlu lebih banyak film dengan ide-ide gila seperti ini! Rindu zaman ketika film-film sci-fi berani menyajikan konsep nyeleneh meski kadang gagal. Mudah-mudahan, sutradara dan studio sekarang bisa kembali menggali kreativitas tanpa takut menemukan jalan yang tidak biasa. Semangat untuk mencoba hal baru itu yang bikin film jadi hidup!

